Akhirnya Dia Mau Dilepas Juga

Behavior & Development

irasistible・29 Oct 2012

detail-thumb

Buat yang mengenal Nadira, anak saya, pasti tahu, deh, betapa pemalunya ia. Istilah “jago kandang” cocok banget untuk Nadira. Ia amat senang menyanyi, menari dan bercerita tentang apa saja. Tapi semua aksi itu hanya berani ditampilkannya di depan keluarga terdekat. Jika ada orang asing, semangatnya langsung kempes.

Makanya saat ia masuk sekolah, saya pun sudah bersiap-siap dengan kemungkinan terburuk. Dan benar saja. Nadira tidak mau masuk kelas jika saya atau ART tidak menemaninya di dalam kelas. Tidak hanya itu. Selama di dalam kelas, ia terus menerus menempel pada saya atau ART, tanpa mau bersosialisasi dengan teman-teman maupun guru-gurunya. Bahkan dia menangis, lho, saat seorang temannya mengajak ngobrol dan main bareng. Hufff .… *tutup muka*

Selama 3 hari masa orientasi, saya pun banyak-banyak menelan pil sabar. Memang, sih, ada beberapa teman sekelasnya yang masih harus ditemani di dalam kelas oleh orangtua maupun ART-nya. Tapi rata-rata mereka mau bermain bersama yang lain, tidak menempel terus pada orang terdekat masing-masing.

Saya sempat nekat mengambil langkah drastis, dengan keluar kelas saat Nadira melengos. Hasilnya, ia menangis hebat! Saat itu, saya menahan diri untuk tetap berada di luar kelas sampai selesai. Dari jendela saya intip, ia digendong dan ditenangkan oleh gurunya. Saat kelas bubar, saya masuk dan ia langsung memeluk saya sambil kembali menangis heboh.

Guru-gurunya pun lantas memberi saran, sebaiknya program saya meninggalkan Nadira di kelas ditunda dulu karena takut ia mogok sekolah. Ini bukan sekadar saran, lho, karena menurut para guru, banyak anak murid mereka yang mengalami itu. Ya sudah, akhirnya saya membolehkan ia tetap ditemani di dalam kelas. Namun setiap malam sebelum tidur, saya memasukkan doa “Semoga Nadira mau masuk kelas sama Bu Guru dan teman-teman” ke dalam doa saya. Ceritanya, sih, hypnoparenting hehehe. FYI, kami memang punya ritual berdoa bergantian sebelum tidur, dengan isi doa sesuai keinginan masing-masing :)

Seminggu berlalu, Nadira sudah mulai mau bersosialisasi di sekolah. Ealah nggak lama, libur Lebaran dimulai, selama hampir sebulan. PR saya bertambah deh karena saat sekolah mulai masuk kembali, Nadira harus memulai dari nol lagi semua social skill-nya. Namun, saya berusaha optimis Nadira akan bisa ditinggal di dalam kelas dalam waktu dekat.

Apalagi, saya mendapatkan saran dari seorang tante yang menjadi kepala sekolah sebuah TK di Jakarta. Menurutnya, kasus anak yang ditunggui orangtua di kelas itu lumrah terjadi. “Nggak usah anak playgroup kayak Nadira. Muridku saja ada yang sampai SD masih ditemani ibunya di kelas,” kata tante.

Kunci untuk masalah ini, menurutnya adalah ketegasan orangtua serta kerjasama yang baik dengan guru si anak. “Rata-rata, sih, ibunya yang nggak tega ninggalin si anak yang menangis meraung-raung di dalam kelas. Jadi, deh, anaknya nempel terus. Padahal bisa, lho, dilepas asalkan kerjasama dengan gurunya. Lalu tentukan target, mau sampai kapan begini dan kapan momen yang pas untuk melepas anak,” sarannya.

Saya pun langsung merenung. Untuk urusan tega, terus terang saya ini tipe ibu yang tegaan, lho, hahaha. Soalnya saya selalu menginginkan agar Nadira mandiri dan tidak melulu tergantung pada siapapun. Lagi pula, saya pernah baca sebuah buku parenting, disebutkan orangtua harus menegaskan posisi, siapa yang lebih “berkuasa”. Bukannya jadi otoriter, lho, tapi memang metode ini penting untuk urusan membesarkan anak. Kalau posisinya terbalik, orangtua tidak akan bisa membesarkan dan mengendalikan anaknya sendiri.

Saya sendiri sudah mengambil manfaat dari metode ini. Mulai dari proses menyapih sampai proses toilet training, semua Alhamdulillah bisa dilalui dalam tempo singkat tanpa banyak drama karena saya berusaha tegas. Meski, ya, dalam hati meringis juga, sih, melihat anak nangis atau uring-uringan selama proses weaning dulu :)

Oleh karena itu, saya pun merasa perlu memperkuat kerjasama dengan guru Nadira. Meski saya bekerja, saya berusaha mengantar Nadira ke sekolah, lalu berbincang-bincang sejenak dengan gurunya untuk mengetahui perkembangan Nadira. Kalau tidak sempat mengantar, saya bertanya pada gurunya via BBM atau telepon/SMS. Dari situ, saya memberikan sinyal bahwa saya percaya pada sang guru untuk mendidik anak saya di sekolah, dan sepakat untuk bekerjasama melatih kemandiriannya. Kami pun menentukan batas deadline, kapan kira-kira Nadira harus masuk sendiri.

Alhamdulillah, setelah hampir 3 bulan sekolah, sekarang Nadira sudah mau masuk kelas sendiri, tanpa ditemani lagi. Semua dilakukannya tanpa paksaan. Tak ada lagi derai air mata atau drama ala sinetron setiap hari.

Sekarang setiap saya antar sekolah, saya masih tetap bilang, “Nadira nanti di kelas sama Bu Guru dan teman-teman, ya. Ibu/Mbak di luar.” Dia biasanya mengangguk, atau kalau mood-nya sedang jelek, minta ditemani sampai duduk di kelas, lalu saya atau ART langsung keluar kelas. Bahkan kemarin saat saya libur dan sempat menungguinya di sekolah, dia bilang, “Ibu nanti tunggu di luar saja, ya.” Kaget sekaligus senang, deh, saya :)

Memang, sih, dia masih meminta saya atau ART untuk harus berada di lingkungan sekolah, belum boleh ke luar sekolah. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, saya dan ART sudah bisa keluar lingkungan sekolah selama Nadira di dalam kelas. Lumayan, kan, waktu luang menunggu Nadira sekolah bisa digunakan untuk sekadar mencari sarapan atau creambath di salon, hehehe.