From Rabid Mom to Lousy Mom

Saya belum lama menjadi ibu, baru selama 2 tahun 8 bulan 4 hari. Masih seiprit lah pengalaman saya dibandingkan dengan ibu saya ataupun ibu-ibu lainnya dengan jam terbang yang jauh lebih tinggi. Seperti halnya dalam aspek kehidupan yang lain, menjadi ibu pun penuh dengan aspek naik turun, yang mana semua itu memberikan sesuatu untuk saya pelajari.

Dalam rentang waktu tersebut, saya mengikuti pertumbuhan dan perkembangan si bayi gemuk yang suka klugat-kluget ini:

Image

menjadi batita penyayang kucing yang (masih saja) tidak bisa diam ini:

Image

Satu hal yang saya sadari, bahwa saya juga tumbuh bersama Sophie. Pemikiran, kesabaran, bahkan juga kedewasaan saya berkejaran dalam tempaan segala aspek perkembangan Sophie. Ada masanya saya merasa pertumbuhan saya lebih lambat, kadang seritme, tapi tidak pernah lebih cepat dibandingkan perkembangan Sophie. Intinya pertumbuhan tersebut ada. Dan ya, pertumbuhan saya inilah yang akan saya sampaikan pada post ini.

Memiliki Sophie itu di satu sisi rasanya mirip seperti hal-hal lain yang saya miliki: diawali dengan antusiasme yang luar biasa. Sekarang, saat membaca kembali rekaman masa-masa awal memiliki Sophie, sejak masih di dalam perut saya dulu, saya bisa tersenyum geli sendiri. Yes, I was a kind of rabid mama once. Yang punya obsesi setumpuk, mulai dari ASI eksklusif, MPASI rumahan, popok kain, pengobatan rasional, dana pendidikan, daaan seterusnya. Bukan sesuatu yang buruk, sih, sama sekali bukan. Toh semua itu ditujukan untuk kebaikan Sophie.

Dari sudut pandang saya, yang saya dapatkan dari semua itu adalah kepuasan pribadi. Puas dan bangga bahwa saya bisa melakukan ini itu demi yang terbaik (menurut saya) untuk anak saya. Kalau dari sisi Sophie, ya, Alhamdulillah, dia mendapatkan apa yang menjadi haknya, yang semoga menjadi dasar yang baik untuk kesehatan dan masa depannya.

Seiring berjalannya waktu, saya belajar dari sana-sini. Membaca situs parenting ini-itu, melihat kehidupan nyata di lingkungan saya, dan mengevaluasi apa yang sudah berjalan. Dan saya sampai pada suatu titik bahwa seharusnya saya bisa lebih santai. Ya, yang saya usahakan niatnya baik, eksekusinya juga mungkin baik. Cuma, ya, cara saya yang mungkin terlalu sok iye. Ya, namanya ibu baru kan, ya, songong atas predikat  yang baru saja dimilikinya.Tapi saya seharusnya bisa melakukannya dengan lebih santai. Seharusnya.

Sekarang, nampaknya saya mulai bergeser menjadi lousy mama. Saya dua kali membelikan baju yang tidak bisa dipakai Sophie karena kekecilan. Sophie makan nasi putih sama abon saja. Sophie minum susu kotak bisa sampai 5 kotak setiap harinya. Dan masih banyak hal yang bisa saya tambahkan ke daftar ini. Tidak, saya tidak bangga dengan keadaan ini. Tapi saya juga tidak malu atasnya. Saya menerimanya sebagai suatu realita. Bukan sesuatu yang ideal, tapi tidak membahayakan asal tidak berkelanjutan. Sesekali tidak apa-apa, kalau kata Sophie.

Begitulah, proses yang berjalan membuat saya berubah. Kalau nanti saya diberi kesempatan untuk hamil dan membesarkan anak lagi, maka saya akan memulainya dengan menjadi ibu yang PD. Dalam artian saya yakin dengan apa yang saya percayai tanpa harus pusing menerima masukan dari kiri-kanan. Tentang gayanya, ya, biarkan mengalir saja. Yang namanya parenting itu kan sesuatu yang cair,  ya, seharusnya, di mana ayah, ibu dan anak sama-sama nyaman menjalaninya. Bukan tentang opsi kaca mata kuda yang lurus menatap ke depan dengan mengabaikan apa yang ada di kiri-kanannya, yang menyalahkan semua hal yang bukan pilihannya.


22 Comments - Write a Comment

  1. it is happen to me too…lousy mom…
    dan pengalaman dengan anak pertama bener2 memberikan pengalaman dan pelajaran tersendiri buat kita para orang tua. ditambah lagi saya sedang mengandung anak ke-2…dan doakan saya menjadi ibu yang PD ya…seperti kata Mba Tanti diatas =)

  2. Kl saya positively lousy mom.. Dr pengalaman, being a rabid mom jg hrs disesuaikan dgn kondisi kita, jgn sampe bikin stress sendiri & dlm perjalanan membesarkan mas B slama 2thn, sy sadar kl sy kadang hanya mementingkan apa yg saya inginkan ke anak sy tp bukan apa yg anak saya butuhkan.. Jd makin kesini lbh santai ngurus mas B (walaupun anak pertama)… Yg penting being lousy doesn’t mean careless..

  3. nenglita

    Kalo gueee, emang ga bisa jadi rabid mom :)) Masak aja kaga bisa, udh minus pan tuh, hihihihi.. Jadi daripada memusingkan aneka kesempurnaan yang ada malah mengesampingkan mental/ psikis anak, gue memusatkan pada kekuatan gue dan kekurangannya alias ga bisa masak itu? Aku serahkan pada nyokap dan pengasuhnya :D

  4. word!!! meskipun gue juga rabid diawal2 anak pertama, lama lama jadi capek sendiri karna ngga pernah merasa content dengan kesempurnaan yg dipatok di ranah umum. after being a little bit lousier, guess what, i live a happier life, anak juga lebih santai terima habit ibunya. dulu anak pertama saya wajibkan kemana kemana ber-alas kaki. sekarang anak kedua usia 1,5 tahun, sendal selalu hilang sebelah, paling seneng nyeker lari lari di rumput. alhamdulilah sama2 aja sehatnya. hahaha

Post Comment