Belajar Menjadi Smart Parent Dari si Kecil

“Kok mama hamil, sih?” Tanya Azka (3y6m).

“Mama kan mau kasih adik bayi buat Azka.” Tapi sepertinya jawaban itu kurang memuaskan Azka Zahra karena ia kerap mengulang pertanyaan itu selang beberapa jam atau hari dan saya masih memberikan jawaban yang sama. Lalu suatu hari Azka berhari-lari menghampiri saya sambil memperlihatkan perutnya dan berkata sambil cekikikan,”Ma, lihat aku hamil. Perutku gendut.”

“Wah, ini sih isinya nasi,” saya balik mencandainya sambil mencolek perutnya.

“Kalau Abi nggak hamil?”

“Yang hamil itu perempuan, laki-laki nggak bisa hamil,”

“Kenapa?”

Saya tercenung. Bingung dengan jawaban yang mesti diberikan karena tidak mungkin saya memberikan jawaban yang berkaitan dengan proses pembuahan dsb. Kalaupun ada jawaban yang sederhana dari pertanyaan itu saya belum tahu. Tentu ini bukan kali pertama Azka menanyakan hal-hal yang membuat saya atau Abinya (panggilan Azka untuk papanya) bingung untuk menjawabnya.

“Mama hamil, ya, kenapa?” Tanya Azka di lain waktu.  “Nanti kalau Azka sudah sekolah, mama kasih tahu Azka kenapa perempuan hamil? Sekarang Azka masih kecil belum mengerti.”

“Kalau sudah SD, ya, Ma?”

“Ya.”

Lalu saya menceritakan kejadian itu pada Abinya.

“Jawaban Mama salah. Di seminar parenting yang kita ikuti kan dikatakan, kita tidak  boleh menunda jawaban pertanyaan anak  dengan kalimat nanti.”

“Terus jawabannya apa?”

“Ya, bilang aja kalau perempuan punya kantung di dalam perutnya yang disebut rahim dimana seorang bayi bisa tinggal tapi laki-laki tidak punya kantung itu. Pasti Azka sedikit ngerti dia kan punya boneka kangguru berkantung yang ada anaknya. Bedanya kantung mama nggak keliatan karena di dalam perut.”

Saya termenung untuk beberapa saat. Betul juga, ya.

“Gimana, sih, Mama. Think smart dong,” goda Abi sambil tertawa.

Terus terang saja, saya kadang sedikit narsis, merasa ilmu saya soal parenting cukup banyak, karena rajin baca buku, majalah dan ikut seminar soal parenting. Ya, itu salah satu perubahan besar saya setelah jadi mama. Kalau dulu suka dan koleksi buku sastra, walaupun kuliah dan bekerja di bidang kimia, setelah memiliki anak tepatnya setelah dinyatakan positif hamil, koleksi buku saya seputar parenting dan resep. Namun ketika dihadapkan pada realitanya, rasanya ilmu saya tidak pernah cukup. Seperti menghadapi pertanyaan-pertanyaan ajaib si kecil. Atau menghadapi tingkah lakunya dan mood yang kadang seperti rooler coaster, beberapa waktu jadi anak manis yang penurut dan mengerti disiplin yang saya ajarkan  tapi pada jam berikutnya keras kepala semua keinginannya ingin dipenuhi jika tidak menangis dan melemparkan mainannya. Dan biasanya saya menguatkan hati  dengan berkata,”Sabar. Harus sabar. Jadi mama harus sabar. Si kecil sedang berproses dan belajar.”

Sekitar seminggu lalu saat saya tengah menemaninya menonton si kecil Azka tiba-tiba nyeletuk,”Ma, aku boleh ngerokok?”

Pertanyaan telak untuk suamiku yang sudah setahun ini kembali merokok, setelah sempat berhenti lebih dari 5 tahun. Hal yang benar-benar tidak saya sukai.

“Tanya Abi sana?” kata saya. Azka menghampiri Abinya yang tengah duduk di teras rumah, merokok.

“Abi, aku boleh ngerokok?”

“Aku gak ngajarin lho,” kata saya.

“Nggak boleh.”

“Kalau sudah besar boleh?” Saya tersenyum mendengarnya.

“Perempuan nggak boleh merokok. ” Jawaban yang benar-benar kurang tepat tapi tentu saja ini bukan saat yang tepat saya mendebatnya.

“Sedikit saja, Bi.”

“Tetap nggak boleh.”

“Azka sama mama aja, ya. Jangan dekat-dekat Abi kalau Abi lagi ngerokok.”

Tak lama Azka sudah kembali ke  samping saya.

“Aku gak boleh merokok.”

“Ya, nggak bolehlah. Merokok itu menggangu kesehatan. Bisa jadi sakit batuk.”

“Kalau Abi gak batuk?”

“Abi juga batuk. Harusnya Abi juga nggak boleh merokok.”

Selang beberapa hari kami mengunjungi seorang kerabat, tante dari suamiku. Saat makan di sebuah restoran kami duduk terpisah meja. Saya bersama Azka sementara suamiku bersama tantenya, keduanya menunggu makanan sambil merokok.

Tiba-tiba Azka bertanya,”Dia perempuan?”

Saya mengikuti pandangan Azka untuk mengetahui siapa yang dimaksud dengan dia. Dan pandangan Azka tertuju pada tante suamiku.

Tanpa menunggu jawaban saya, Azka melanjutkan perkataannya,”Tapi kok dia merokok.”

Rupanya, jawaban Abinya soal merokok dan gender yang lebih di tangkap Azka dibanding jawaban saya yang mengaitkan merokok dengan kesehatan.

“Sebenarnya laki-laki atau perempuan tidak boleh merokok karena membuat badan jadi sakit,” terang saya.

“Ma, aku nggak mau pake sup,” kata Azka sambil menunjuk sop iga hangat yang baru terhidang di meja.

Sepertinya sup yang baru saja terhidang dan meruapkan uap hangat lebih menarik perhatian Azka dari pada perkataan saya. Ehm, sepertinya kami bertiga harus melanjutkan diskusi tentang rokok di rumah. Saya dan suami pun harus menyamakan persepsi jika menjawab pertanyaan si kecil. Well, ini bukan saja membuat saya belajar banyak hal tapi nyatanya membuat kami sebagai orangtua dituntut bekerja sama sebagai sebuah tim dan selalu meng-update pengetahuan kami soal tumbuh kembangnya. Terima kasih, Azka.

*gambar dari sini


18 Comments - Write a Comment

  1. Luar biasa, ya! Gue juga ngalamin banget nih, banyak hal yang pada akhirnya bikin gue ga sekedar jawab (tar kalo sekedar jawab juga kasihan si anak) dan memaksa untuk banyak baca serta cari info sebanyak-banyaknya supaya jawaban memuaskan dan ga ala kadarnya :D

    TFS!

  2. Lagi gue alamin juga! Pertanyaan tiada henti dan seringkali bikin gue puter otak buat jawab.
    Dari mulai tentang kematian, pernikahan, kehamilan, pacaran, pekerjaan, padahal Maika baru 4 tahun..
    Jadi orang tua gak boleh berhenti belajar memang!

  3. Iyaaa, pertanyaan anak itu kadang bikin ortu ngerasa dongdong dan mesti banyak belajar lagi yaaa… Anak gw pernah nanya tuh kenapa bentuk daun pohon beda-beda… Beeehhh, alamat emaknya mesti belajar monokotil-dikotil lagi ini -__-

Post Comment