Kalau Harus Berpisah ….

Beberapa tahun lalu (akhirnya) orangtua saya resmi bercerai. Sebelumnya, mereka melalui sekian lama waktu yang diisi dengan argumentasi tiada henti. Kalau ditanya bagaimana perasaan saya soal perpisahan mereka, maka jawaban saya adalah lega. Dari kecil saya memang menyaksikan betapa tidak bahagianya pernikahan mereka dan dari kecil pula saya sudah meminta supaya mama saya mengajukan cerai. Pemikiran sederhana saya adalah menyudahi pertengkaran mereka dan hidup (mungkin akan terasa) lebih damai.

*gambar dari sini

Mungkin di luar sana banyak orangtua yang berpikir tetap bersatu dalam sebuah pernikahan demi anak lebih baik ketimbang berpisah, setidaknya, yang terjadi pada saya justru sebaliknya. Saya merestui orangtua saya berpisah, 100 persen. Saya nggak mau orangtua memaksakan diri tetapi saat menjalaninya malah berbuat hal-hal yang justru membuat anak sakit hati. Untungnya, Mama sering cerita ke saya soal masalah mereka, walaupun saat itu usia saya masih kecil sekali. Mama menjelaskannya sesuai porsi usia saya. Mama juga menekankan kalau berargumentasi adalah satu bentuk komunikasi dan juga, bahwa tidak setiap komunikasi akan berakhir baik. Saya, di usia muda, belajar kalau jodoh (ternyata) ada  kedaluarsanya. Saat orangtua sedang melalui masa-masa ‘kelam’, saya bertemu laki-laki yang sekarang jadi suami saya. Dia pun produk dari orangtua berpisah. Dia membantu saya dalam melalui masa tersebut. Kami banyak berdiskusi soal partnership dalam hubungan suami-istri dan bagaimana kami ingin membangun rumah tangga nanti.

I can say that I turned out okay. Dan saya yakin sekali keikhlasan saya menerima kondisi keluarga tidak lepas dari cara ibu saya berkomunikasi dengan saya saat menjalani rumah tangganya. Kuncinya memang komunikasi. Jangan remehkan kemampuan berpikir anak. Daripada mereka jadi punya asumsi sendiri (yang biasanya salah dan cenderung berlebihan) lebih baik dijelaskan dengan bahasa sederhana duduk masalahnya. Anak tidak perlu tahu detail perseteruan Mommies dengan pasangan, tapi mereka perlu tahu bahwa sedang ada sesuatu dalam kehidupan ayah-ibunya dan ayah-ibu sedang mencari jalan keluar terbaik. Tingkat kemampuan anak menghadapi masalah memang berbeda tapi komunikasi yang baik dan lancar akan sangat membantu mereka dalam masa transisi.

Jangan saling menyalahkan. Seburuk apa pun situasinya, ayah dan ibu tidak bisa dipisahkan dari kehidupan anak. Ibaratnya … ada mantan suami dan mantan istri, tapi nggak bakal ada yang namanya mantan anak, betul, kan? Jadi saat mengajak anak bicara soal situasi rumah tangga, jangan sampai ada nada saling menyalahkan dari orangtua. Be diplomatic about the situation. Jujurlah soal kondisi yang ada tapi tetap sesuaikan penjelasan dengan usia anak. Bantu anak menjalani masa transisi dengan mendengarkan apa yang ada di hati mereka … biarkan mereka curhat dengan bebas. Jelaskan kalau normal, kok, jika mereka merasa marah atas situasi yang terjadi. Anak akan lebih mudah menerima suatu kondisi jika mereka dipandu dengan baik :)

Dan ini penting juga: you have to think about your own recovery too. Bagaimana mau memandu anak melewati masa sulit itu kalau Mommies sendiri hatinya masih berserakkan? :) Terakhir, waktu memang obat paling mujarab. Jika semua step sudah dilalui, biarkan waktu membantu penyembuhan keluarga.

 


12 Comments - Write a Comment

Post Comment