Tentang Bicara, Cerita Yang Tersisa Dari Idul Fitri

Ini sedikit cerita yang tersisa dari hari raya Idul Fitri yang lalu. Ada tradisi yang dimiliki keluarga saya yang jarang ditemui (jika tidak mau dikatakan tidak ada) di keluarga lain. Bicara.

Tahu adat Batak dalam upacara menyambut pernikahan di mana setiap anggota keluarga boleh memberikan semacam wejangan atau nasihat atau doa untuk orang yang akan menikah? Yang mengingat orang Batak senang sekali berbicara, acara ini bisa makan waktu berjam-jam. Nah, di keluarga kami, setiap hari raya Idul Fitri sebelum bersalam-salaman, kami akan duduk bersama, melingkar di karpet, dan setiap anggota keluarga dimulai dari yang paling kecil (ini berarti adik bungsu Ayah saya dan keluarganya), akan mengucapkan selamat hari raya dan berbicara. Maksudnya bukan hanya mohon maaf lahir batin, tapi boleh bicara apa saja. Misalnya achievement yang dicapai, keinginan, kejadian yang berkesan, dan sebagainya. Terus sampai yang paling tua. Tradisi ini dimulai oleh Opa saya, teru berlanjut bahkan setelah Opa meninggal dunia.

Waktu saya kecil, acara ini tidak begitu berkesan untuk saya. Anak-anak biasanya boleh tidak bicara, atau hanya sekedar mengucapkan selamat lebaran. Tambah besar saya suka panik menghadapi acara ini, berhubung saya paling gak bisa ngomong, apalagi di depan orang banyak. Jadi saya lebih sering hanya mengucapkan selamat hari raya dan mohon maaf. Tapi saya selalu senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh anggota keluarga yang lain, yang terkadang membuat terharu atau bahkan tertawa. Setelah dewasa saya baru menyadari bahwa saya beruntung di keluarga saya ada tradisi seperti ini, bukan sekedar sungkeman dengan wejangan dari yang tua dibisikkan di telinga kita. Dengan tradisi seperti ini kita bisa tahu lebih banyak tentang apa yang dialami saudara yang jarang bertemu. Dan tentunya belajar bicara di depan orang banyak, berbagi cerita. Ditambah, karena semua orang boleh bicara, dan saat berbicara yang lain akan diam mendengarkan, anak-anak sekalipun, kita merasa dihargai.

Walaupun setelah menikah saya jarang bisa hadir bertepatan dengan acara ini, karena harus berbagi jadwal dengan keluarga Pak Teddy juga. Tapi bisa bertemu saja, mengobrol hal-hal gak penting sambil makan  santai sudah sangat saya syukuri. Selain bermaafan mungkin ini yang penting dari Idul Fitri,berbagi dan kebersamaan. Intinya adalah keluarga. :)