Naik Pesawat Berdua Dengan Bayi, Siapa Takut?

Lebaran kemarin saya memutuskan untuk mudik ke Tangerang Selatan, rumah orangtua saya. Ini Lebaran pertama bagi Rasya, 7 bulan, dan tentu saja keluarga kami. Karena kami tinggal di sebuah kota kecil di Kalimantan Timur, maka kehadiran kami sekeluarga sangat dinantikan oleh orangtua dan keluarga besar saya. Tiket sudah di tangan, saya pesan satu bulan sebelumnya dengan harga yang luar biasa karena saya pulang saat H-2 Lebaran.

Masalahnya adalah … suami saya tidak bisa ikut ke Jakarta! Ya, karena dia seorang abdi negara, maka cutinya bergiliran. Tahun lalu ia sudah cuti saat Lebaran, tahun ini giliran ia jaga kandang saat teman-teman sekantornya pergi cuti.

Waduh!

Sempat bingung, tetapi saya tahu saya tetap harus pulang ke Jakarta. Akhirnya dengan pede selangit saya bilang pada suami, “Ya sudah nggak apa-apa saya berangkat ke Jakarta sendiri. Eh, berdua Rasya saja, asal kamu mengantar kami sampai ke Bandara Sepinggan, Balikpapan.

Nah, apa yang perlu disiapkan jika kita harus bepergian berdua saja dengan seorang bayi kecil?

  1. Perhitungkan waktu tempuh perjalanan dan sesuaikan dengan jam tidur si kecil. Karena saya harus menempuh perjalanan darat 5 jam sebelum terbang, maka saya memilih pesawat paling pagi alias first flight dari Balikpapan ke Jakarta. Saya berangkat pukul 23.00 dari rumah dengan mobil sewaan. Rasya memakai jumper panjang dan selimut. Berangkat malam membuat ia langsung terlelap sepanjang perjalanan. Saya pun bisa tidur-tidur ayam, sekadar memejamkan mata. Pesawat pagi juga membuat anak lebih segar ketika tiba di kota tujuan, seolah memberikan efek psikologis ‘hari masih panjang’, sehingga ia bisa lebih cepat beradaptasi.
  2. Cek kondisi kesehatan si kecil beberapa hari menjelang berangkat. Siapkan juga obat-obatan di tas, minimal obat demam dan vitamin.
  3. Persiapkan perlengkapan perang si kecil. Masukkan semuanya ke dalam diaper bag: 3 stel pakaian (pilih jumper supaya praktis), 2 stel kaus kaki, jaket, 3 pospak, 2 sapu tangan handuk, minyak telon, baby cologne, biskuit bayi, mainan, alas ompol, tisu basah, tisu kering, kapas bulat, ear muff, hand sanitizer, dan selimut tipis. Tambahkan juga 1 pakaian ganti kita untuk berjaga-jaga.
  4. Persiapkan makanan si kecil. Alasan saya memilih pesawat pertama adalah supaya saya tidak terlalu repot menyiapkan makanan Rasya. Asumsi saya, kalau terbang pukul 06.00 Rasya cukup diberikan ASI, apalagi ia baru 7 bulan. Setibanya di Jakarta, baru saya berikan biskuit (karena masih perjalanan ke rumah). Sekitar pukul 10.00 di rumah, saya berikan buah. Ya itu tadi, karena cuma berdua, dibikin simpel aja :) Namun,  jika si kecil sudah lebih besar, variasi makanan yang dibawa bisa lebih beragam. Paling mudah ya buah-buahan atau biskuit.
  5. Letakkan barang-barang penting pada posisi yang mudah dijangkau. Tiket dan dompet saya letakkan di kantung yang paling mudah saya ambil, sehingga bisa saya ambil dengan satu tangan.
  6. Minimalkan barang bawaan, terlebih lagi untuk dibawa ke kabin. Saya hanya membawa satu koper besar berisi pakaian Rasya dan saya (di bagasi), serta satu diaper bag berisi perlengkapan Rasya untuk dibawa ke kabin.
  7. Satukan perlengkapan kita ke diaper bag, sehingga kita tidak perlu menenteng dua tas. Saya hanya membawa dompet, handphone, perlengkapan kosmetik dalam pouch kecil, dan satu map kecil berisi tiket dan KMS Rasya.
  8. Pasang plester (tensoplast/handyplast) menutupi pusar si kecil, seperti yang Mama saya lakukan dulu pada saya dan adik-adik jika bepergian jauh. Konon, membantu mencegah bayi masuk angin. Percaya nggak percaya, tetapi Alhamdulillah Rasya berangkat dan pulang dalam kondisi sehat :D
  9. Pakai gendongan andalan, jadi tangan kita masih bebas ke sana kemari sementara si kecil aman dalam gendongan. Saya memilih baby wrap.
  10. Pakai baju menyusui, jika kita masih menyusui.
  11. Datang lebih awal supaya tidak terburu-buru. Saya kemarin agak mepet tiba di bandara, jadilah saya langsung check-in dan tidak sempat keluar lagi untuk dadah-dadah dengan suami. Setelah check-in langsung boarding. Memang, sih, kalau ambil penerbangan pertama pasti semua serba terburu-buru, apalagi kalau harus membelah hutan dulu sebelum terbang :p

Persiapan oke, lalu bagaimana dengan praktiknya?

Sesudah duduk di pesawat, saya mengeluarkan perangkat terbang Rasya: kapas bulat, ear muff, dan beberapa mainan. Saya duduk di kursi dekat gang, sementara depan belakang kanan-kiri semuanya bapak-bapak. Sebab, menunggu waktu take off adalah periode kritis bagi saya. Rasya meronta enggan pakai seat belt, berteriak-teriak heboh, dan menjatuhkan barang-barang yang ia pegang. Saya berusaha tetap tenang dan mengendalikan Rasya (meski keringat sudah bercucuran bak bola salju). Untunglah para bapak itu tak bosan mengambilkan barang-barang Rasya yang jatuh berkali-kali.

Menjelang take off, saya mendekap Rasya dengan posisi menyusui dan ia berhasil saya susui. Fiuuuhhh *lap keringat segede biji jagung*

Setelah di atas, Rasya sempat bermain sebentar, lagi-lagi mengambil semua barang yang ia lihat dan … jatuh, deh. Bosan dan mengantuk, ia pun tidur hampir selama perjalanan. Menjelang landing, baru ia terbangun dan segera saya posisikan menyusui supaya ia tak kaget dengan perubahan tekanan udara. Sekalipun ia tidak mau menyusui, saya memberikan tangan untuk digigit kunyah pada Rasya. Begitu tiba di bandara Soekarno-Hatta, saya langsung mencari porter untuk mengambilkan bagasi, sementara Rasya saya serahkan pada orangtua yang sudah menjemput.

O, yaa, jangan sungkan untuk meminta bantuan pramugari atau orang lain jika ada kesulitan. Biasanya kalau kita travelling berdua saja dengan bayi, orang-orang di sekitar akan lebih helpful, lho. Siapapun sulit menolak pesona si kecil, hehehe ;)

Wajah hepi Rasya begitu ketemu Atung(Eyang Kakung) di bandara

Jadiiii, perjalanan berdua Rasya rute Balikpapan-Jakarta itu Alhamdulillah lancar. Ya, sesekali Rasya rewel, tetapi masih bisa diatasi dan ditolerir, kok. Malah, kehebohan yang ia buat sering mengundang senyum dan tawa dari orang-orang di sekitar. Semua orang kan suka bayi! :D

Siap berpetualang berdua bersama si kecil?


29 Comments - Write a Comment

  1. Kalau bawa bayi, pengalaman aku yang penting ibunya pake baju yang nyaman dan mudah dibuka :p sewaktu take off, landing atau bayinya sedang rewel, langsung dikasih ASI. Paling nyaman dan cepat untuk menenangkan anak kecil. Aku pengalaman bawa bayi 3 bulan (kedua anakku) dalam perjalanan minimal 6 jam. Senjatanya ya cuma ASI

  2. kebetulan kemarin baru travelling dengan baby J 5 mo, bener baget butuh bawa mainan supaya bisa mengalihkan perhatian kalo dia bosan. Yang cukup bikin repot itu kalau dia rewel karena minta digendong sambil berdiri atau jalan-jalan.

Post Comment