To Share or Not to Share

Sejak hamil, saya memang tidak berniat untuk tidur terpisah dengan bayi saya. Alasan saya:

  1. Harga baby crib, yang kuat dan besar yang bisa digunakan hingga dia balita, dan berbahan aman, ternyata cukup mahal untuk ukuran kantong saya. Pesan ke tukang furniture? Ah, saya tidak punya cukup waktu kala itu.
  2. Saya termasuk golongan deep sleeper, yang tidak gampang terbangun hanya karena gonggongan anjing atau bahkan dangdutan tetangga sebelah yang sedang menggelar pesta pernikahan. Apalagi kalau nanti bayi saya tidur terpisah, saya malahan khawatir tidak mendengar tangisannya :)

Dan sejak hari pertama bayi Ayesha pulang dari RS Bersalin, dia selalu tidur di sisi saya. Suami? Dia cukup berlapang dada tidur di kasur bawah, karena dia malah khawatir gaya tidurnya yang ‘heboh’ bisa membahayakan bayi kami. Tetapi karena seringnya mengeluh masuk angin dan sakit punggung, akhirnya tempat tidur single zaman saya lajang, dibawa masuk kamar dan ditempatkan tepat disamping tempat tidur saya. Jadilah kamar mungil saya memuat 2 beds, ukuran queen dan single.

*gambar dari sini

Tidur bersama bayi dalam satu kasur memang menghemat energi saya, terutama di malam hari, apalagi saya tidak mempunyai babysitter. Bila malam hari Ayesha terbangun, saya tinggal duduk di kasur, mengambil Ayesha, buka ‘lapak’, mulai menyusui, menaruhnya kembali di kasur, meninabobokan sebentar dan saya tidur kembali. Selesai, tanpa harus turun dari tempat tidur. Sama halnya bila dia BAK/BAB, saya tinggal membuka popok, membersihkan bekas BAK/BAB-nya, memasang popok kembali, tanpa harus bolak-balik mengangkat dia. Simple. Kebiasaan ini ternyata mengasah insting saya untuk selalu otomatis terbagun ketika bayi saya terjaga.

Ayesha(4 tahun 10 bulan) sudah hampir lulus balita dan sampai sekarang masih tidur ‘kelonan’ dengan saya atau ayahnya. Bukannya saya tidak mengajarkan untuk tidur terpisah, ya! Sesekali saya membujuk dia untuk tidur di tempat tidur single yang biasa digunakan ayahnya, biasanya ketika tidur siang. Sesekali dia mau, tetapi lebih banyak tidaknya. Tidur malam? Oh, tentu saja posisi favoritnya adalah ditengah-tengah saya dan suami. Pikir saya, “Ya, sudahlah kalau dia memang belum siap.”

Mungkin cara saya ini dianggap kuno dan sangat ‘timur’ plus tidak mendidik anak untuk mandiri sedari bayi. Tapi, dalam situs resmi Dr. William Sears, dokter anak yang telah menulis puluhan buku mengenai parenting, co-sleeping atau bed-sharing memberikan banyak manfaat secara fisik maupun psikologis, baik bagi anak maupun orangtua.

Saya memilih ‘mengajarkan kemandirian’ anak dengan cara berbeda. Sehari-harinya saya mencoba untuk tidak terlalu banyak membantu Ayesha melakukan hal-hal yang seharusnya sudah bisa dia lakukan. Mulai dari mengambil minuman sendiri, makan sendiri, menaruh piring di tempat cucian, membuang sampah pada tempatnya, belajar mencopot baju dan memakai baju sendiri. Karena saya tidak mempunyai asisten rumah tangga, Ayesha juga terbiasa untuk bermain sendiri terutama ketika saya sedang mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Sejak Ayesha mulai bersekolah di playgroup tahun lalu, saya menambah porsi kemandiriannya. Dimulai dengan memakai kaus kaki dan sepatu sendiri (walaupun terkadang masih terbalik), berusaha tidak menungguinya selama bersekolah, membujuk dia untuk makan sendiri (walaupun masih kocar-kacir, belepotan, dan lama), membereskan mainan sendiri, dan menahan sabar ketika dia bersikeras mencuci piring sendiri sambil menjerit, “Aku bisaaaa!”

Terus terang saya belum tega memaksa Ayesha berani tidur sendiri, apalagi kalau nantinya dia malah tidak merasa aman dan nyaman. Saya percaya bahwa seiring bertambahnya usia, Ayesha akan mengalami fase pemandirian diri dan mulai butuh ruang privacy sendiri. Pada waktunya dia akan menolak dikeloni dan minta dibuatkan kamar sendiri. Wah, pasti saya yang bakalan susah untuk disapih :))

Jadi, sekarang ini saya menikmati sekali momen tidur bersama dengan Ayesha setiap harinya. Bukankah melihatnya wajah damainya tidur di sisi kita adalah pemandangan terindah bagi setiap mommies?  Saya juga tidak mau melewatkan dua kata manis dari bibir mungilnya setiap selesai berdoa dan hendak tidur, “Bunda, peluk!”


9 Comments - Write a Comment

  1. Loove this article! Apa yang diungkapin bener2 mirip sama gue. Bedanya, gue beli box bayi yang akhirnya cuma kepake 4 bulanan doang. Setelah 4 bulan, karena cuti melahirkan udh kelar, pada akhirnya capek juga kalau malam abis nyusuin bolak balik ke box bayi. Bulan ke 5 nyerah, Langit ditaro aja di samping antara gue dan suami biar gampang nyusuinnya. Dan ini berlangsung hingga saat ini anak gue usia 4,5 tahun, hihihi.

  2. iyaaa,,,sama,,enakan bobo bareng.
    aku pake box bayi turunan soalnya dipaksa sama ayahku utk pake (karena dia yg beliin tu box dulu),,hasilnya aku cuma pake utk bobo siang ajah. Klo malem ya peluk2an deh hehehehe. Daanesh sampe umur 3 bulan, aku masih nenen-in sambil duduk. Begitu lewat 3 bulan nenen-innya sambil tiduran ajah,simpel,buka warung,Daanesh nenen sambil merem,aku pun kadang2 ikutan merem klo seharian kerjaan lg heboh ;p. Malahan setiap nenen Daanesh maunya sambil bobo-an.
    Sepertinya gak tega ya klo harus ngebiarin anak bobo sendiri diumur yg masih muda,,kebayang klo dia mimpi serem gak ada yg langsung pelukin.

  3. Gue punya box :)) impulsif minta sama mertua pas ditanya mau dibeliin apaan buat calon bayi hehehehhee… dipake pas masih tinggal di Jakarta, kalo lagi ada tamu, Menik di bobok-in di boxnya.. Sekarang udah pindah ke Bandung, Box ditinggal di Jakarta, dan kami bertiga selalu bobok bersama :))

Post Comment