Stop Tawuran! Please…

Sejak saya masih sekolah, tawuran antar pelajar sepertinya sudah jadi tradisi sendiri. Waktu SMP, teman-teman sekolah saya yang berjenis kelamin pria 1-2 kali iseng tawuran dengan sebuah SMP swasta terdekat. Tak ada alasan yang signifikan. Hanya karena “dari dulu sekolah kita selalu musuhan sama sekolah itu” atau ya, itu tadi, iseng-iseng saja.

Waktu itu, saya yang masih berusia belasan tahun sudah kurang suka dengan perilaku tawuran antara teman-teman saya dan siswa sekolah lain. Meski cuma 1-2 kali dan nggak macam-macam, saya melihatnya konyol. Kalau mau berantem, ya, satu lawan satu dong, nggak keroyokan begitu. Lagi pula, alasan berantemnya sendiri juga nggak jelas.

Sekarang setelah jadi orangtua, ketidaksukaan saya terhadap segala tawuran kian meningkat. Apalagi setelah saya berbincang-bincang dengan beberapa teman saya, sesama orang tua, yang punya anak laki-laki. Mereka amat khawatir dengan masa depan putra-putra cilik mereka beberapa tahun lagi. Bahkan seorang teman saya cerita, istrinya sampai menolak membaca koran dan menonton televisi yang menyiarkan berita tentang Alawy, korban tawuran antara SMA 6 dan SMA 70 Jakarta yang meninggal dunia tanpa mengerti apa-apa.

Saya jadi ingat juga ucapan Ibu Elly Risman dalam seminar parenting yang digelar SupermomsID bersama Mommiesdaily beberapa pekan lalu. Ibu Elly menyebutkan bahwa membesarkan anak laki-laki itu sama seperti membesarkan 10 ribu ekor sapi. Yup, it is THAT hard to raise a son. Pasalnya, kondisi keluarga tidak cukup untuk membentuk seorang anak laki-laki menjadi pribadi yang baik. Jika ia bergaul dan bersekolah di lingkungan yang tidak baik, ia pun bisa jadi korban.

*gambar dari sini

Contohnya ya Alawy tadi. Ia tidak ikut-ikutan tawuran dan hanya menjadi the wrong man, in the wrong place at the wrong time. Dan sepanjang pengetahuan dan analisa saya soal tawuran, baik itu antar pelajar maupun antar warga, yang menjadi korban selalu anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Banyak yang baru pertama kali ikut tawuran karena dipaksa teman-teman atau seniornya. Atau karena berada di tempat dan waktu yang salah seperti Alawy.

Sebagai orang tua, meski anak saya perempuan, hati saya pun miris melihat tawuran seperti ini. Saya nggak bisa membayangkan perasaan orangtua Alawy dan orangtua-orangtua lain yang harus kehilangan anak-anak mereka karena tawuran. Anak-anak itu hadir ke dunia ini bukan tanpa proses yang mudah bukan?

Ibu-ibu mereka pasti menderita sakit yang amat sangat saat harus melahirkan mereka. Setelah lahir, tak terhitung waktu, keringat, tetes air mata, dan uang yang dihabiskan untuk membesarkan anak-anak ini menjadi balita-balita yang sehat walafiat. Setelah masuk sekolah, berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan ayah dan ibu untuk mengirim putra-putra mereka ke sekolah-sekolah terbaik untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik pula.

Dan sekarang hasilnya, anak-anak itu mati konyol akibat tawuran. Terus terang, saya amat murka dan muak mendengar dan membaca berita-berita semacam ini. Hati saya juga sakit luar biasa kala membayangkan, yang terkapar di sana adalah anak saya!

Untuk menyelesaikan masalah ini, saya yakin kita tidak bisa selalu menyalahkan sistem pendidikan negeri ini yang, sorry to say, masih menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi siapapun presidennya. Saya berpendapat, seperti yang diucapkan Ibu Elly, semuanya harus berasal dari rumah. Kita sebagai orangtuanya harus mendidik anak-anak kita sebagai pribadi yang kuat dan bijaksana. Juga, jangan lupa untuk selalu mengajarkan logika kepada mereka. Sehingga mereka harus selalu mengetahui alasan dan dampak di balik setiap tindakan yang mereka lakukan.

Untuk mengetahui anak bergaul dengan lingkungan seperti apa, kita harus mau membuka diri dan menjadi orangtua yang dipercaya anak. Sehingga mereka tidak akan ragu dan jengah untuk bercerita soal kehidupan sehari-hari mereka, termasuk masalah di pergaulan mereka.

Semoga di masa depan, koridor hukum dan pendidikan di Indonesia bisa membenahi celah mengenai tawuran pelajar ini. Dan untuk para orang tua, mari kita bersama-sama membenahi anak-anak kita agar menjadi anak yang kuat, bijaksana dan logis. Amin.


16 Comments - Write a Comment

Post Comment