What to Expect When You’re Expecting The Movie

Saya termasuk jutaan perempuan yang saat hamil pertama kali langsung melahap habis buku What to Expect When You’re Expecting karya Heidi Murkoff dan Sharon Mazel. Pas baca, langsung merasa sudah mendapatkan kitab yang bisa jawab semua pertanyaan saya mengenai kehamilan. Setiap minggu kehamilan bertambah, saya mengangguk-angguk membaca beragam hal yang biasanya dirasakan para bumil. Seakan-akan menemukan sahabat baru, deh. Nah, begitu tahu buku tersebut diangkat menjadi film dengan jajaran bintang besar di dalamnya, sebut saja Cameron Diaz, Jennifer Lopez, Matthew Morrison, Dennis Quaid, dan si kocak, Chris Rock langsung tak sabar menontonnya.

What to Expect When You’re Expecting betul-betul memenuhi ekspektasi saya. Ringan, lucu, dan ‘kena’ banget. Masing-masing karakter perempuan di dalam film ini merasakan perjalanan menuju motherhood. Nggak semuanya hamil, tapi tetap haru-biru mengenai status ibu (supaya nggak spoiler). Menurut saya, yang sangat mengena adalah melihat bermacam pengalaman hamil para pemeran wanita. Benar-benar bisa menangkap yang sebenarnya terjadi. Nggak semua kehamilan bisa dijalani dengan mudah dan dengan ‘sempurna’ (tanpa stretch marks, tanpa berulang kali ke toilet untuk berkemih atau tanpa kenaikan berat badan berlebih). Seperti yang dialami karakter Wendy Cooper. Wendy dan suaminya sudah 2 tahun berusaha memiliki anak. Mereka rajin mendata kapan waktu Wendy berovulasi supaya segera berhubungan dan meningkatkan peluang terjadinya kehamilan, Wendy diceritakan punya toko keperluan ibu dan anak, juga baru saja merilis buku cerita anak-anak bertema menyusui. Lalu apa yang terjadi? Wendy akhirnya hamil, tapi bukan karena ia disiplin berhubungan dengan suaminya saat masa subur … ia justru hamil saat ia santai menjalani hidupnya. Kehamilan yang awalnya ia bayangkan sebagai the ultimate magical moment malah jadi pengalaman “mengerikan”. Jerawat di punggung, buang air kecil terus menerus, dan kepanasan di mana-mana. Untuk menambah “penderitaan”, ibu tiri suaminya (yang usianya jauh lebih muda) hamil dalam waktu bersamaan dan kehamilannya mulus-mulus saja … badan tetap oke, hamil anak kembar, kulit terlihat glowing … semua yang dicita-citakan Wendy. Hahaha … tidak semudah angan, ya, ternyata. Quote favorit saya dari Wendy:

I just wanted the glow. The one that they promise you on the cover of those magazines. Well, I’m calling it – pregnancy sucks. Making a human being is really hard. I have no control over my body or my emotions.

Menurut saya, untuk kita, para wanita, What to Expect When You’re Expecting ini termasuk tontonan wajib, deh. Eh, tapi jangan salah … di dalam film ini ada kelompok ayah yang disebut The Dude’s Club. Dan suami, yang saat saya nonton sedang asyik main game di laptop-nya, tak disangka mendengarkan obrolan The Dude’s Club lalu berkomentar, “Ih, bener banget, tuh yang dibilang Chris Rock.” Haha ternyata film ini ‘kena’ juga ke suami. Gimana? Penasaran, kan?

 

 


11 Comments - Write a Comment

  1. Kebetulan gue baru nonton jg film ini, dan dalam keadaan hamil. It’s a great movie! Sempet beberapa kali ‘mberes mili’ alias nangis, krn ada moment2 yg bikin sedih dan terharu. And yep, karakter Wendy itu paling tob! Membuat perempuan2 yg masa kehamilannya gak menyenangkan merasa gak sendirian. Every pregnancy IS different. :)

Post Comment