Cerita Tentang Asisten Rumah Tangga

by: - Thursday, September 20th, 2012 at 9:15 am

In: Home & Living 9 responses

0 share

Beberapa hari yang lalu ada seorang teman yang ‘curhat’ tentang ART-nya yang sudah beberapa hari ini tidak masuk kerja. Jadi ingin cerita sedikit tentang pengalaman saya bersama ART.

Pada awalnya, mempekerjakan asisten rumah tangga adalah hal yang sangat saya hindari. Sejak kecil saya lebih banyak mengerjakan segala sesuatunya sendiri walaupun di rumah ada pembantu. Alasannya sederhana, saya selalu punya cara sendiri untuk mengatur/melakukan sesuatu dan mungkin tidak semua orang bisa saya percaya untuk mengatur/melakukannya dengan cara yang sama. Sampai kuliah pun tetap begitu. Dulu di kos-kosan ada petugas yang biasanya membersihkan rumah dan mencuci pakaian anak-anak kos. Sempat beberapa waktu saya menggunakan jasanya untuk mencuci pakaianku, tapi ternyata kurang memuaskan. Sejak itu balik lagi, deh, nyuci sendiri.

Setelah menikah dan bekerja (kebetulan saat mulai bekerja pas banget saya hamil), pekerjaan rumah tangga masih dicoba untuk di-handle sendiri mulai dari masak, membersihkan rumah, dan cuci-setrika. Untuk bersih-bersih sering dibantu oleh suami. Tapi lama-lama idealisme runtuh juga, hehehe. Seiring dengan bertambahnya ukuran perut, urusan cuci-setrika akhirnya diserahkan pada laundry, kecuali pakaian dalam. Bersih-bersih rumah pun jadi lebih banyak dilakukan oleh suami. Kadang-kadang kalau  nggak kuat masak, ya, makan di luar. Tapi cara-cara seperti ini pun kadang kurang memuaskan. Contohnya kalau di laundry cucian baru selesai 2-3 hari kemudian. Bersih-bersih rumah kadang gagal terlaksana karena suami pulang malam. Jadi kami mulai berpikir untuk mencari ART paruh waktu, paling tidak untuk bersih-bersih rumah.

Kami minta tolong pada tetangga untuk dicarikan ART. Kebetulan dia kenal dengan beberapa orang ART paruh waktu dan bersedia mengenalkan dengan salah satu dari mereka. Akhirnya kami dikenalkan pada seorang ibu paruh baya. Saat pertama kali bertemu beliau menyatakan bersedia untuk menjadi ART kami dan sepakat dengan bayarannya. Alhamdulillah … kami senang sekali, akhirnya ada juga yang mau membantu. Hari itu kami sepakati bahwa keesokan harinya si ibu calon ART akan mulai kerja. Karena saya pulang kerja kira-kira pukul 4 sore, jadi saya memintanya datang kurang lebih pukul sekian. Suami sudah saya ingatkan untuk mengantar si ibu pulang setelahnya karena sudah hampir Maghrib.

Mungkin memang belum jodoh, ternyata keesokkan harinya calon ART batal datang untuk kerja. Kami datangi ke rumahnya, kelihatannya niatnya untuk bekerja mulai luruh. Ya sudahlah, saya nggak berharap banyak dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak kerja yang baru saja disepakati. Sempat marah-marah juga waktu itu, emosinya ibu hamil, hehehe.

Kami bertahan tanpa ART sampai seminggu sebelum saya melahirkan. Itu pun kalau bukan karena mama yang mencarikan mungkin sampai hari ini juga belum pakai jasa ART (dan nggak terbayang gimana jadinya). Sebenarnya fungsi ART yang sekarang ini merangkap pengasuh anak. Tugas rumah tangganya paling bersih-bersih rumah sama bantu-bantu masak. Itu pun kalau tugas jadi pengasuhnya otomatis selesai ketika saya pulang kerja. Tentang ART ini, dia bukan orang yang berpengalaman. SMA saja tidak lulus, usianya juga lebih muda dari saya. Dalam perjalanannya banyak hal-hal yang kurang memuaskan, tapi kemudian  saya maklumi karena memang cara kami berbeda. Saya pun perlu beradaptasi.

Sekarang sudah 6 bulanan kami bersama si ART. Ada beberapa hal yang saya pelajari sejak punya ART:

  • Asisten tugasnya to assist, peran utama tetap pada saya. Jadi tanggung jawab terbesar tentu ada padaku.
  • Sepandai-pandainya ART, tentu akan sangat lumrah kalau masih banyak hal yang ternyata masih belum dia pahami. Kalau kata suami, “Kalau dia pinter banget, ya,  dia sudah jadi pengusaha.”
  • Setiap orang punya cara yang berbeda. Tetapi ada beberapa hal yang harus dilakukan dengan cara yang benar. Tanggung jawab kamilah untuk meluruskan hal yang belum benar. Mungkin ini juga sebagai ladang amal buat saya dan suami, toh tak ada ruginya juga mengajari ilmu yang belum diketahuinya.

Untuk sekarang ini kami sudah tak terlalu banyak menuntut, yang penting betah dan jujur saja, deh. Soal gaji dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lainnya bisa diatur. Raja (anak saya) pun sepertinya cocok dengannya. Mudah-mudahan betah dan lama bersama kami. Aamiin… :)

Share this story:

Recommended for you:

9 thoughts on “Cerita Tentang Asisten Rumah Tangga

  1. Pingback: Mommies Daily
  2. Pingback: lita iqtianti
  3. Pingback: Mother of Lucretia
  4. Pingback: Gilang Giyantine
  5. Pingback: miftahul jannah
  6. Mungkin ada tambahan satu lagi, ART bisa lebih dilibatkan/dianggap menjadi bagian dari keluarga kit, sehingga dia bisa respect ke kita sekaligus terbuka pada kita… Apalagi anak kita pasrahkan ke dia pd saat ayah dan ibu (working mom) bekerja…

  7. Artikelnya cakep djengwidz,.. Alhamdulillah yah ARTnya masih bertahan :) Saya & istri sudah berkali2 gonta ganti ART sejak kami punya bayi 12 tahun silam, diselingi tanpa ART sekitar 4 tahun saat kami hijrah sementara ke luar negri. Ada yang sudah sangat cocok dengan kami namun terpaksa mereka harus pergi karena alasan keluarga, ada juga yang memang tidak cocok dan terpaksa harus diputuskan kontraknya. Namun yang lebih menyusahkan kita adalah saat kita merasa cocok dan (yakin) mereka juga cocok dengan kita, ternyata tiba2 dan tanpa sepengetahuan kita, mereka lantas pergi meninggalkan kita alias kabur.. Itu yang terjadi dengan kami menjelang Lebaran kemarin.

    Saya setuju dg jengwidz bahwa peran kita tetap harus lebih utama di rumah karena tugas2 mereka sangat tergantung dengan koordinasi kita untuk mendelegasikan tugas sehari-hari mereka, apakah untuk bersih2, masak, cuci-seterika, atau yang lebih berat lagi, menjaga anak2 kita. Dan yang paling penting bagi kita adalah menerima mereka dengan segala kekurangannya. Tidak akan pernah kita dapatkan ART yang betul2 100% cocok dengan kemauan kita, dan tidak ada jaminan juga bahwa mereka akan loyal dan setia 100% kepada kita, seperti ART yang dulu pernah dimiliki orangtua kita jaman dulu. Jangan pernah pula berlebih perhatian kepada mereka (umumnya yang masih muda-muda) karena sejak demam gadget fokus mereka bukan lagi kepada pekerjaan rumah tangga yang seharusnya mereka kerjakan. Mereka akan lebih kuat melekan sampai tengah malam di kamarnya untuk telepon, smsan dan lain2nya dengan gadget mereka, dan akhirnya kelelahan dan terngantuk2 di pagi hari padahal masih jam 9 pagi.. Intinya, punya ART yang jujur dan betah saja sudah merupakan berkah buat kita yang sibuk, dan ngarepin mereka harus rajin, baik, rajin ibadah, kerjaannya cepet, dll cuma jadi nilai tambah aja.

    Anehnya, cari ART itu nggak semudah membalik telapak tangan. Di TV, yang konon sering menayangkan acara seputar orang2 kampung yang susah, ternyata gak serta merta kita bisa mengajak orang2 atau ibu2 yang tinggal di sekitar kita atau kawasan perumahan, yang kelihatannya butuh tambahan penghasilan, untuk mau bekerja membantu kita di rumah, walaupun dengan jam kerja yang sangat sedikit. Saya pernah minta bantuan dari mereka, dan semuanya menolak dengan permintaan gaji yang tidak masuk akal untuk ukuran ART paruh waktu… Jadi, bersyukurlah bagi ibu2 yang masih punya ART yang setia saat ini, karena mereka adalah salah satu aset bagi keluarga kita.

Leave a Reply