Sebutan Saya Cuma Ibu (Titik)

“Hah?! Anakmu (minum) sufor? Kok bisa, sih?! ASI dong … kok kejam amat jadi ibu, ASI kan hak bayi.”

“Menurut penelitian anak ASI lebih cerdas, lho, dibanding anak sufor, tuh kan apa gue bilang.”

“Kasihan, ya, anaknya. Ibunya kerja terus, anaknya jadi nggak terurus gitu, deh”

“Enak banget, ya, jadi IRT bisa ketemu anak tiap hari lalu nggak ribet kalau anak sakit. Nggak perlu capek-capek kerja.”

Yakin banyak di antara Mommies yang nggak asing dengan beberapa pernyataan di atas dan kalau nggak tahan rasanya ingin teriak, “Memang tahu apa yang saya rasakan?!” Sebelumnya mau minta maaf, nih, Mommies tulisan ini bukan untuk memicu kemarahan, respons negatif atau menyindir salah satu pihak dan bukan pula untuk membuat ‘gap’ di antara kedua pihak tersebut. Kedua pihak yang saya maksud adalah para ibu yang mengatakan salah satu pernyataan di atas dan para ibu yang mendapat pernyataan tersebut.

Jujur, nih, saya juga ‘korban’ dari pernyataan di atas dan meski saya sangat tahu ada beberapa orang yang tidak bermaksud menghakimi, namun ada beberapa orang juga ‘tanpa sadar’ telah menghakimi orang lain dan bahkan merasa jadi ibu yang lebih baik dibanding ibu lain.

Realitanya, masih banyak ibu dengan ‘predikat’ Ibu Rumah Tangga bahkan sekarang ada sebutan Stay at Home Mother merasa menjadi ibu yang lebih baik dibanding ibu bekerja karena lebih ‘pandai’ mengurus anak, rumah, dan suami. Dan sebaliknya, masih ada juga ibu bekerja yang membandingkan anaknya dengan anak ibu rumah tangga, karena anaknya terlihat lebih gemuk, pandai (perkembangan bicara,motorik lebih baik, misalnya), dan merasa patut mendapatkan “supermom” karena bisa mengurus segala hal dan tetap bisa mendapatkan penghasilan.

Beberapa ibu bekerja kadang merasa dunianya begitu ‘ribet’ dibandingkan dengan IRT. Sebaliknya IRT merasa dunianya membosankan dan jenuh dibandingkan ibu bekerja. Akhirnya? Mulai membanding-bandingkan dari berbagai sisi mulai dari ‘me time’ sampai urusan masak (ada yang mengangguk-anggukkan kepala nggak, ya, saat baca ini? Hehehe).
Padahal sebenarnya setiap ibu mengalami tantangan yang berbeda. Jangankan IRT dengan ibu bekerja. Bahkan IRT satu dengan yang lainnya tantangannya berbeda. Dan menjadi ibu adalah anugerah, mungkin banyak yang berpikir, “Duh klise banget, sih, seorang ibu menjadi anugerah mah sudah jargon lama.” Hehehe. “Jadul” memang tapi kenapa ya kita masih membandingkan keadaan satu sama lain? Dan bukankah yang dinamakan anugerah itu seharusnya dinikmati apa pun kondisi kita?

Sejujurnya saya ingin menyudahi saja, ‘predikat-predikat’ tersebut dan tidak ingin memperuncingnya. IMHO, tidak ada sebutan IRT, Ibu Bekerja, Ibu ‘ASI’, Ibu ‘Sufor’, dan lainnya. Saya hanya ingin menyandang predikat IBU. (Titik)

Setuju?

 

 

 

 

 


34 Comments - Write a Comment

  1. Terima kasih ya mba mitazoe untuk artikellnya yg bagus bgt. Semoga semakin banyak mommies yg mempunyai pemikiran yg sama dengan artikel ini, kita juga ga mau kan anak kita suka judging others or labelling others apalagi membenci pihak lain hanya karena mempunyai sikap cara pandang atau cara hidup yg berbeda.

  2. dear all mamas,bundas,ibus (eh kok kurang enak ya dibacanya xixixixi) ya pokoknya semua ibu yang merespon artikel ini…thanks a lot and thanks for ure sharing thoughts ya…berharap ibu2 bisa selalu kompak, saling sharing ilmu dan ga ada gap2 an lg biar generasi anak2 kita makin berkualitas.amiiinn…peluk berjamaah :)))

Post Comment