Naik Kereta Menyusuri Kebun Kopi

Hmmm, bukan kereta betulan, sih, melainkan mobil Taft keluaran tahun 80-an yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga penampakannya menyerupai lokomotif. Pertama kali melihatnya saja, Rakata langsung berseru, “Ibu, ada Thomas!” Hayooo, siapa di sini yang anaknya juga penggila Thomas? *ngacung berjamaah* :D

Pengalaman naik ‘kereta’ menyusuri kebun kopi ini kami alami saat ke Kampoeng Kopi Banaran di Bawen, kecamatan di Kabupaten Semarang, pada awal Juli lalu. Kalau tidak salah, waktu tempuhnya sekitar 30 menit dari Banyumanik, atau sekitar 40-45 menit dari pusat kota Semarang.

Eh, kalau tidak salah, lho, ya. Saat itu saya tidak terlalu memerhatikan jam, karena ke sini pun tanpa direncanakan. Aslinya, niat kami cuma makan siang di daerah Ungaran. Tapi begitu sampai Ungaran, Rakata-Ranaka baru saja tidur. Daripada mereka cranky, jadilah suami terus mengemudikan mobil, melewati Ungaran, hingga akhirnya ketemu tempat ini.

Sempat kecele, tadinya saya pikir Kampoeng Kopi Banaran hanya sebuah resto. Pertimbangan memilih stop di sini pun cuma karena melihat ada banyak mobil parkir. Pikir kami, pasti makanannya enak :D

Eh, ternyata, resto hanyalah satu dari sederet fasilitas yang disediakan di area yang nyambung dengan hamparan perkebunan kopi seluas kurang-lebih 400 hektar ini. Selain resto, ada playground, flying fox (untuk anak dan dewasa), ATV, kolam renang, camping ground, outbound, berkuda, bahkan cottage dan gedung kawinan!

Saat kami sampai (sekitar pukul 13.30), suasana ramai sekali. Hampir semua tempat di resto terisi oleh keluarga. FYI, selain meja-kursi biasa, di bagian outdoor kita bisa memilih buat makan di gazebo atau di tikar.

Sambil menunggu pesanan makanan datang, saya menemani Rakata jalan-jalan, dan terlihatlah si Thomas yang saya ceritakan di awal tadi. Langsung saja saya hampiri loket dan beli tiket.

Ternyata, tiket bukan dihitung per orang, tapi per ‘kereta’. Sekali putaran mengelilingi kebun kopi (sekitar 15 menit), biayanya Rp 50.000, dengan jumlah penumpang maksimal lima dewasa dan dua anak kecil. Sebenarnya pas saya beli tiket, ada satu keluarga kecil lain yang ajak joinan biar irit. Tapi karena ingin leyeh-leyeh dan duduk leluasa, tawarannya saya tolak. Maaf, ya …. *sungkem*

Kami mendapat nomor urut 110, sementara yang lagi dipanggil adalah nomor 94. “Kira-kira baru 40 menit lagi giliran Ibu,” kata petugas loket. Pas! Tidak lama setelah makan dan ngopi-ngopi, terdengar nomor kami dipanggil. Dengan ramah, sopir membukakan pintu dan mempersilakan kami naik.

Nama sopirnya Pak Yono. Hanya butuh waktu satu menit untuk menyadari bahwa pria berewokan ini benar-benar mencintai pekerjaannya. Dengan bersemangat, Pak Yono menceritakan banyak hal pada kami. Mulai dari waktu ideal untuk memetik buah kopi, hingga yang rada OOT seperti gosip seputar kenyentrikan Syekh X yang menikahi gadis di bawah umur.

Pak Yono juga tidak ragu menghentikan ‘kereta’ di tengah perjalanan jika ada spot yang dianggap menarik, misalnya saat pemandangan Rawa Pening  terlihat di antara rimbunan pohon. Begitupun pas melewati pohon yang cabangnya agak menjorok ke jalanan, beliau ‘memaksa’ suami buat memetik dan menggigit buahnya agar mengerti kenapa luwak demen gadoin kopi :D

Sepanjang perjalanan, Rakata bersemangat sekali. Tangannya sibuk menunjuk buah-buah kopi. Mulutnya tidak berhenti ngoceh, saingan dengan Pak Yono.

Sementara Ranaka, mukanya justru terlihat tegang. Mungkin karena baru sekali ini dia diajak ke tempat yang sejauh mata memandang hanya ada pepohonan rapat. Hmm, apa supaya terbiasa harus dibawa ke hutan Rinjani seperti Rakata dulu, ya? :D

Rute yang kami lewati kadang menanjak dan menurun dengan agak curam, tapi ‘kereta’ mampu berjalan mulus. Untung ‘keretanya’ memang berasal dari mobil tangguh, ya, kalau sedan, sih, pasti sudah wassalam, hahaha.

Tidak terasa, waktu 15 menit mengelilingi kebun kopi telah berakhir. Pak Yono bilang, jika kita datang di hari kerja, sebenarnya bisa stop lebih lama di beberapa spot. Tapi karena kami pas akhir minggu dan di masa liburan sekolah pula, ya, harus tahu diri. Banyak yang mengantre.

Hmmm, sepertinya selain Bandungan, saya punya satu tempat oke lagi, nih, untuk mengajak teman/kerabat yang main ke Semarang :)

Kampoeng Kopi Banaran

Jln. Raya Semarang – Solo Km 35

www.kampoengkopibanaran.com

 

 


11 Comments - Write a Comment

  1. Mbak ameel..kemarin pas arus balik aq jg mampir sini buat makan siang..enaaakk tempatnya..
    Alana lari2an muluu..tp sayang kok gak liat Si Thomas ya?? Apa gak beroperasi krn msh libur lebaran? Tahun depan harus nyoba kyknya..pengen ngerasain nggado buah kopi :p

  2. Vera, ternyata Kampoeng Kopi Banaran ini ada beberapa cabang, dan yang ada kebon kopinya tuh (kayaknya) cuma dua, yang di Bawen ini sama satu lagi daerah apa ya namanya (lupa) pokoknya yang antara Semarang-Jogja (kalo Bawen ini kan Semarang-Solo). Nah, kamu ke yang mana waktu itu? Soalnya nggak tau juga kalo yang satu lagi itu ada Thomas-Thomasan atau engga :)

  3. Weekend kmrn sempet mampir disitu pas jalan dr Kendal ke Jogja, sayang kita nyampenya pas maghrib. Ak dah baca reviewnya mbak Amel di blog Multiply-nya wktu itu. Asli penasaran, tapi sayang bgt dah gelap jd cuma makan doank deh. Next time hrs kesana lagi.

Post Comment