My Breastfeeding Journey

Hari kedua pascamelahirkan, puting mulai berasa nyut-nyutan. Saya memang suka lupa untuk mengoles ASI, sesuai saran dari RS tempat melahirkan. Oles ASI sebelum dan sesudah menyusui, dan angin-anginkan dulu PD setelah menyusui, jangan langsung ditutup baju. Setiap mulutnya mau mecokot, rasanya udah senut senut sampai ke tengkuk. Tapi tidak pernah terbersit setitik pun untuk stop ASI. NEVER!!! Menurut saya, kalau ASI adalah hak bayi. Maka di mana ada hak, pasti ada kewajiban. Nah di situlah kewajiban saya, ibunya, untuk memberikan ASI. Analoginya seperti salat. Kesadaran akan kewajiban kita untuk salat, tidak menjadikan hal itu sebagai beban. Begitu pun dengan ASI, sebagai kewajiban tanpa beban.

Sakit pada puting hanya terasa sampai seminggu. Lalu masuklah kami pada masa bulan madu. Talita menyusu hampir tiap jam! Dan saya belum bisa menyusui sambil tidur, walaupun di RS sudah diajarkan. Pada minggu kedua, suami menyarankan untuk mencoba menyusui sambil tidur. Soalnya dia juga capek. Sebagai breastfeeding father yang budiman, tiap Talita bangun, dialah yang angkat Talita untuk diserahkan padaku, walaupun mata 5 watt. Hehehe. Lalu saya bilang, takut Talita tertindih. Sampai akhirnya, saya nggak tega tunggu suami bangun dan mengangkat Talita dengan posisi tubuh salah. Jadi bekas jahitan ini terasa nyesss … aduhai! Akhirnya saya pun belajar menyusui sambil tidur. Alhamdulillah, nothing bad happened. Masalah baru muncul: punggung pegal banget! Hahaha!

Talita usia 1 bulan, belajar pakai cup feeder di RS tempat melahirkan

Talita usia 2 bulan, suami saya, si breasfeeding father tercinta … membelikan hadiah tak terduga: AC, freezer khusus ASIP 4 rak, dan Medela Swing! My oh my, how I love my sweet hubby. Dan mulailah saya mengumpulkan stok ASIP (andai saya ikut seminar, seharusnya saya mulai maintain produksi dan stok lebih dini – kesalahan pertama)

Saya mulai stok ASIP, dengan manajemen ASIP ala ELLA. Full pakai BP. (kesalahan kedua, seharusnya mulai dari awal, pada saat bayi menyusu PD kanan, yang kiri diperah pake tangan)

Manajemen ASIP a la ELLA:

Perah pagi dapat 5 0ml, salin ke botol kaca, masuk freezer. Perah  malam dapat 100 ml, salin ke botol kaca yang perahan tadi pagi. Atau perah hari ini dapat 50 ml, salin ke botol kaca, masuk freezer. Perah besok dapat 75 ml, salin ke botol kaca yang perahan kemarin.

Kesalahan ketiga dan paling fatal! JANGAN MENGGABUNGKAN PERAHAN DENGAN SELANG 24 JAM. SAMAKAN SUHU ANTARPERAHAN, BARU GABUNGKAN) Kesalahan-kesalahan ini masih diikuti dengan kesalahan-kesalahan selanjutnya. ^_^

Talita usia 3bulan 2 minggu, saya mau mulai trial kasih ASIP dan coba si Bude yang bakal momong Talita. Pertama trial ASIP pake cup feeder dulu, tanpa ilmu yang jelas mengenai teori pemberian. Dan gagal dengan sukses! Hahaha. Akhirnya, dengan panik tingkat tinggi, nggak ingat mengenai ilmu di milis AFB, deh. Pokoknya cari botol susu yang bisa meminimalisir bingung puting. Dapat online shop yang klaim hanya menjual barang-barang BPA free. Suami jauh-jauh ambil barangnya, karena sudah panik banget! Begitu sampai, steril, langsung coba, dan … gagal! Oke, istirahat dulu.

Masalah baru lagi: ASIP saya aneh! Berubah warna, atas dan bawah beda! Bau dan rasa aneh! ASIP-nya basi! Se-freezer!!! Baru ingat ilmu di AFB, kalau mau gabung perahan jarak di bawah 24 jam, suhu harus disamakan. Huaaaa!!! *nangis guling guling* Saya minta suami untuk buang semua botol, matikan freezer, makan listrik saja! Masuklah kami ke dalam edisi kejar tayang.

Seminggu menjelang back to work, saya lagi me time di kamar mandi. Keluar kamar mandi, Talita lagi di pangkuan si Ayah, sembari … minum ASIP pakai botol barunya! Alhamdulillah, puji syukur pada Allah tak terhingga, saya didampingi breastfeeding father yang telaten (walaupun suka galak). Mari fokus pada urusan kejar tayang.

Kiat saya untuk ASI ini adalah seperti yang nggak bosan saya tuliskan di mana-mana. ASI itu supply and demand. Jadi semakin sering dikosongkan, semakin banyak isi ulang. Jadi intinya perbanyak memerah.  Yang diklaim sebagai booster ASI itu, bekerja sebagai efek psikologis. Semuanya mind game, kok. ASI itu nggak perlu banyak, yang penting cukup dan yakin … pasti akan selalu cukup untuk buah hati kita.


4 Comments - Write a Comment

Post Comment