The Grey Phenomenon

0 share

Beberapa minggu lalu, saya dikirimi trilogi Fifty Shades oleh seorang teman kuliah. Saya yang minta, sih, karena saya baca di beberapa situs berita, novel ini lagi heboh di Amerika. Bahkan penjualannya konon melebihi buku laris Harry Potter. Wajar kalau jadi penasaran, kan?

Fantastisnya lagi, saya baca di berbagai artikel di situs berita (salah satunya di situs CNN ini), disebutkan trilogi yang terdiri atas Fifty Shades of Grey, Fifty Shades Darker dan Fifty Shades Freed ini menciptakan berbagai fenomena tersendiri dalam kehidupan rumah tangga serta sex life kaum perempuan. Wow!

*gambar dari sini

Setelah email datang, saya pun langsung melahap buku yang ada dalam format PDF itu. Menurut saya, sih, nggak ada yang istimewa dari jalan ceritanya. Untuk para pecinta novel romantis seperti novel-novel terbitan Harlequin, pasti sudah akrab dengan jalan cerita dalam trilogi Fifty Shades. Dua karakter utamanya juga sangat klise, yakni seorang pria sukses yang bertemu dengan wanita muda yang lugu, lalu jatuh cinta. Seluruh novel mengisahkan perjalan cinta mereka yang dibumbui dengan kisah seksual antara keduanya. Tentu dengan bahasa halus yang disukai wanita.

Yang agak berbeda, di novel ini, dimasukkan juga unsur BDSM yang, ehm terus terang, mind-blowing dan unconventional, hehehe… Tak heran di Amerika dikabarkan penjualan tali temali serta sex toys meningkat setelah booming novel ini. Dampak lebih luasnya, disebut-sebut akan ada generasi baby Grey, lho!

Dan seperti biasa, usai saya baca dan berbagi di Twitter dan blog pribadi, banyak yang minta dikirimi email ini. Saya pun mengirimkannya hanya dengan niat berbagi. Tanpa disangka, respons yang datang cukup membuat saya terkejut sekaligus gembira.

Salah satu teman saya, sebut saja namanya Mawar, mengirimkan email yang membuat saya terharu. Mawar amat berterima kasih dengan trilogi Fifty Shades yang saya kirim karena buku itu membantunya mengatasi masalah dengan sang suami. Menurut Mawar, setelah melahirkan, ia merasa bermasalah dengan sex drive-nya. Sang suami pun kecewa dan ini memicu berbagai problema lain antara ia dan sang suami. Bahkan, beberapa hari sebelum email saya datang, Mawar dan sang suami bertengkar hebat yang nyaris membuat mereka berpisah.

Setelah email saya datang, Mawar membacanya dan mengaku tergugah. “Gue jadi inget malam pertama dulu, Ra!” Sang suami pun kaget sekaligus senang. Kini, masalah-masalah yang ada di antara mereka mulai diselesaikan satu per satu karena masalah utamanya sudah terpecahkan. I’m so happy reading her confession! *air mata menitik*

Beberapa teman lain juga memberi komentar serupa. Tidak sefantastis Mawar, sih, tapi rata-rata mengaku membaca novel ini membuat mereka tergugah untuk berinovasi di ranjang. “My husband was very surprised and delighted because I took the lead. I asked him to blindfold me and so on. Biasanya kan gue yang manut-manut saja, Ra.”

Setelah saya pikir-pikir, pantas saja novel ini laris manis, ya. Efeknya ternyata cukup menggemparkan, lho. Di Amerika yang notabene lebih terbuka untuk urusan seks saja Fifty Shades masih menghebohkan dan dianggap sebagai buku yang menyuarakan isi hati wanita. Bahkan di sana terdapat kursus yang mengajarkan posisi-posisi seksual yang ada dalam novel tersebut.

Saya juga sempat berdiskusi dengan seorang teman wanita soal ini. Ia turut menyebarkan buku ini kepada teman-temannya dan mendapatkan reaksi yang positif. Salah seorang temannya bahkan mengaku baru mengetahui hebatnya orgasme setelah membaca buku ini dan mempraktikkan isinya. Padahal ia sudah menikah lebih dari 10 tahun! Kami pun yakin, sebenarnya masih banyak perempuan-perempuan bernasib sama di luar sana. Namun karena seks masih tabu di Indonesia, mereka tidak memiliki referensi tentang dos and donts-nya.

The conclusion is, be open minded kali, ya. Saya tahu, kok, memang agak memalukan, sih, baca novel erotis seperti ini, apalagi kalau di tempat umum. Makanya saya bacanya di versi PDF, hehehe .… Tapi meski isinya cemen, untuk referensi yang efeknya bisa membahagiakan kehidupan rumah tangga, kenapa nggak?

Apalagi dari beberapa artikel seks dan psikologi yang pernah saya baca, para ahli tidak melarang dan justru menganjurkan pasangan untuk membaca buku atau menonton film dengan konten seks. Terutama para pasangan yang sudah menikah lebih dari 10 tahun. Ini semata-mata untuk menyegarkan hubungan antara suami dan istri.

Dan berdasarkan pengalaman pribadi, perempuan biasanya malas dan jijik jika menonton film dengan konten seks. Makanya, saya paham kenapa Fifty Shades laris. Buku ini membuai fantasi kaum Hawa dengan kalimat-kalimatnya, dan membiarkan mereka bergairah dengan fantasi mereka sendiri.

So ladies, ready to blow your mind and fantasy? *wink*

Share this story:

Recommended for you:

54 thoughts on “The Grey Phenomenon

  1. Pingback: Mommies Daily
  2. Pingback: Ida Wajdi
  3. Pingback: Ida Wajdi
  4. Pingback: Dessy
  5. Pingback: mira a
  6. Pingback: lita iqtianti
  7. Pingback: ✨Rika R✨
  8. Pingback: rennyryana
  9. Pingback: Eka Kusumawati
  10. Agak penasaran sama bukunya, jadinya. Sebelumnya emang nggak terlalu tertarik sama buku2 roman sh, tapi kalau sampai bisa mengubah pandangan atau prilaku seksual, berarti bener2 heboh nih buku :D

  11. Pingback: Paluvi Wirina
  12. Awal baca buku 1, aku sih oke-oke aja. Secara keseluruhan, Grey ini menurutku bisa dibilang Porn Version of Twilight. Minus the vampire thingy. Unsur-unsur BDSM-nya emang kental banget, dengan bahasa yg lugas (kalau nggak mau dibilang vulgar). Cuma, masuk buku kedua, aku nggak tahan. Bukan sama alur atau unsur BDSM-nya, tapi sama karakter / penokohan Anna yang ih! ababil bin lemah. Submisif banget. Nggak girl power deh. Eh tapi itu justru intinya ya? :D

    1. Hahaha.. Gue paling gak tahan tiap narasi yang mengatasnamakan “inner goddes”-nya si Ana. Adududuhh.. Geli sendokir! :))

      Wajar lah dirimu bilang porn version of twilight. Wong di Amrik disebutnya mommy porn kan? :)

  13. Ini buku yang bikin gue teler di kantor gara2 baca ini buku sampe jam 5 pagi. Walau banyak yang review gaya nulisnya dangkal tapi sungguh light reading yang entertaining banget. Can’t wait to watch the movie release!!! And semoga Matt Bomer (from White Collar) sama Lily Collins could be chosen to portray the character Christian Grey and Anastasia Steele :D

    1. Setuju soal light reading yg entertaining. Gue pun sempet begadang malem-malem. Soale meski cemen tapi tetep nagih Mak, hahaha..

      Gue lebih demen Ian Somerhalden dan Alexis Bledel Mak. Matt Bomer keterlaluan gantengnya, jadi kurang wild gitu ceunah *halah :P*

  14. Pingback: Meralda Suhud
  15. Baca buku ini bikin gw pandangan gw berbeda lho tentang BDSM.
    I never thought that that ‘kinky-f*ckery’ kind of lifestyle (or sexstyle?) could be romantic as plain vanilla :))

    Tapi beneran, abis baca buku ini jadi pengen nyoba semua gayaaa…
    *ngga sabar nunggu bulan puasa usai*

    1. Bwahahaha… Termehek-mehek ya bookk sama Christian. Gak nahan sama posesipnya yang keterlaluan. Tapi demen juga sih dibeliin mobil dkk sebagai kado sehari-hari *matre alert* :))))

      Siskaaa lo jujur banget sik! BWAHAHAHAHA… Wah alamat gagal nih puasa Syawal tahun ini :)))))

  16. okey, this grey things, bikin addiction to read.. hahaha ada smp yang jam 5 pagi ya bacanya,, senasib sama saya, masuk kantor pengennya buru2 pulang buat baca lagi on and on smp 5 hari baru sls baca YEY…

    BDSM nya kuat banget seh yg pasti..
    ada 1 buku lagi yang lagi aku baca n oke juga buat berfantasi writer Tina Reber “Love unscripted & Love unrehearsed yaa same like grey tp no BDSM :)

    :) happy reading yaa

Leave a Reply