8 Years And 2 To Go :D

Tahun ini adalah tahun ke-8 saya menyusui. Anak keempat saya berumur empat bulan, dan Alhamdulilah masih terus menyusu.

Perjalanan menyusui saya bisa dibilang nyaris nggak berhenti. Puasa pun sudah beberapa tahun ini bolong-bolong karena kalau nggak lagi hamil, ya, lagi nyusuin. Sejak Desember 2004 saya menyusui empat anak, total cuti menyusui ‘cuma’ lima bulan. Antara Devan (D3) dan Dendra (D4) malah nggak ada jeda walau dalam proses weaning with love.

Anak pertama selalu jadi yang paling sulit dan bahan percobaan, ya. Saat itu, seperti semua ibu baru, saya juga kesulitan menyusui Darris (D1) dengan nyaman. Mana pun masih jarang ada forum di mana kita bisa sharing kesulitan dan dibantu oleh yang lebih berpengalaman. Boro-boro ada konsultan laktasi yang minimal bisa dikontak via email atau facebook seperti sekarang. Saya kesulitan latch-on, bayi kepalanya gedeg melulu jadi lepas-lepas latch-on-nya. Saya juga merasa kidal menyusui dengan payudara kanan. Efeknya, puting lecet dan payudara bengkak karena aliran ngga lancar. Padahal menyusui ngga bisa di-delay karena saya nggak punya stok ASIP seperti para ibu sekarang.

*D1-D4 saat masih newborn

*D1-D4 masing-masing saat berusia 4 bulan

Delapan tahun lalu yang namanya manajemen ASIP belum umum seperti sekarang. Cool box, blue ice/ice gel, kantung ASI, dan botol kaca ASI carinya masih susah. Pompa ASI pun yang umum masih yang bentuknya terompet itu. Saya sempat dipinjamkan kakak ipar saya, tapi bener-bener nggak efektif dan nggak nyaman dipakai, ya. Akhirnya saya beli sendiri pompa manual karena niatnya digunakan saat kepenuhan saja. Karena belum kenal manajemen ASIP, akhirnya ASIP-nya, ya, pompa-ditaruh kulkas-pakai saja. Nggak dibekukan dan disimpan untuk waktu yang lama. Akhirnya karena memang saya nggak kerja, hasil pompa jarang terpakai dan selalu terbuang. Malas pompa lagi, deh.

Waktu bengkak dan puting lecet itu jadinya saya mau nggak mau tetap memaksa untuk terus menyusui sembari cari-cari info gimana cara meredakannya. Ibu saya menyarankan mengurut saluran-saluran ASI, sementara info yang saya dapat hasil googling disarankan mengompres. Saya kombinasikan keduanya; kompres dan urut sambil menyusui. Alhamdulilah bengkak mereda walau rasanya menyusui saat bengkak itu seperti disilet-silet, ya (-_-“)

Jangan dikira saya sabar dan tekun pelan-pelan belajar menyusui, lho. Bukan gue banget itu hahaha … yang ada saya malah jadi sangat rewel dan mengeluh terus kenapa menyusui susah amat, sih? Orang mulut udah didepan puting tinggal hap saja ribet amat! Masak menyusui saja sampai saya keringatan nggak karuan cuma karena susah payah memasukkan areola ke mulut bayi dan jaga supaya nggak lepas. Sementara saya ingat ibu saya menyusui adik saya dulu gampang banget tinggal hap, kenyot, meram, deh, si adik dan dunia damai. Masak gitu saja saya nggak bisa :(

Untungnya ibu saya sangat mendukung ASI, malah bisa dibilang saya digalakin dan ditakut-takuti supaya ngga berhenti ASI. Tiap saya mengeluh malah dimarahi balik … haha. Saat ibu atau mertua lain (yang sangat sering saya dengar) malah menyarankan susu formula saat ibu baru kesulitan memberi ASI, ibu saya malah bilang saya bakal kerepotan kalau bayi minum susu formula. Ibu saya tahu kalau dikuliahi tentang gizi ASI mungkin saya cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Tapi begitu diberi gambaran pakai sufor harus sedia air panas, bikin susu tengah malam, cuci botol dan printilannya, sontak saya yang pemalas ini semangat lagi belajar menyusui :D

O, ya, waktu di rumah sakit Darris juga sempat dapat sufor, lho. Waktu itu komitmen dukungan RS terhadap pemberian ASIX belum seketat sekarang. Mana sayanya juga belum tahu efek pemberian sufor dini pada bayi baru lahir bisa berbahaya. Padahal RS membolehkan rooming-in untuk semua kelas, lho. Baru pada saat Darris terdeteksi infeksi karena air ketuban keruh di hari ke-3, saya mulai full memberinya ASI dan rooming-in.

Lalu sufornya? Nggak terpakai lagi walau terbawa pulang. Ibu saya suruh saya habiskan (seperti dulu yang beliau lakukan kalau dapat ‘bekal’ dari RS), tapi saya nggak doyan.

Setelah lancar menyusui (dan nggak kenal manajemen ASIP) saya tergoda dong mencobakan susu formula ke Darris saat dia 9 bulan. Seperti kata orang-orang, “Kasih saja botol biar bisa ditinggal-tinggal”. Eh, ndilalah sufor yang saya beli cuma diendus sudah nggak mau, boro-boro diminum. Waktu saya coba endus ternyata memang bikin eneg dan bau besi banget. Akhirnya terbuang, deh, dan balik ke ASI sampai saya kemudian hamil lagi saat Darris umur 12 bulan. Saat itu saya juga ngga tahu bahwa menyusui sambil hamil boleh-boleh saja selama ngga ada gejala kontraksi dini. Jadi waktu disarankan sambil dobel susu bubuk (sudah bukan formula lagi karena di atas 12 bulan dan saya belinya susu bubuk yang umum itu) saya nurut aja. Tapi walau sudah dobel dengan botol, rupanya preferensinya masih tetap ke ASI. Jadi porsi ASI-nya masih besar sampai akhirnya tersapih sebulan sebelum Dellynn (D2) lahir, di usia 20 bulan. Jadi sampai hamil 8 bulan saya masih menyusui Darris.

Persalinan Dellynn yang di luar rencana ternyata harus caesar, berimbas ke pemberian ASI juga. Walau saya sudah sadar ASI, tahu dan pernah rooming-in bahkan bedding-in, tidak menjamin suami cukup sadar ASI untuk tidak menandatangani formulir pemberian sufor dengan alasan “ibu masih di ruang pemulihan”. Saya manyun waktu diberitahu suami tanda tangan, dan jadi ingin segera keluar dari ruang pemulihan biar bisa menyusui langsung. Sayang RS waktu itu peraturan observasinya cukup lama jadi baru 17 jam pasca operasi saya bisa ketemu dan menyusui Dellynn. Sudah masuk 1-2 porsi sufor :(

Tapi sejak itu Dellynn sudah nggak kenal sufor dan bahkan beberapa kali minum UHT di botol itu lebih karena latah lihat Darris yang minum UHT di botol. PR memang, ya, menyapih dari dot. Darris baru lepas botol di usia 3 tahunan, dan untungnya cuma dia yang kenal botol selama itu. Dellynn nggak suka ngedot, apalagi Devan dan Dendra, keduanya sejak lahir sama sekali nggak kenal dot. Devan sudah minum dari training cup sejak umur 7 bulan. Saat hamil Dendra 7 bulan, saya pindah dari Semarang ke Jakarta. Simpanan botol susu saya oper semua ke tetangga. Sekarang Dendra 4 bulan sudah belajar minum dari training cup. Aneh nggak, sih, ada anak yang ngga kenal dot sama sekali? Harusnya sudah nggak aneh, ya, sekarang ini. Tapi bagaimanapun persepsi dot masih lekat dengan bayi dan batita.

Waktu melahirkan Devan dan Dendra, Alhamdulilah aturan RS (beda dengan RS Darris dan Dellynn) cukup 1 jam observasi. Jadi di jam kedua saya sudah masuk kamar inap dan bedding-in dengan Devan walau nggak dapat IMD waktu itu. Tahun 2009 awal, di Surabaya IMD belum umum dan masih susah memaksakan pelaksanaannya apalagi pada operasi caesar. Untungnya saat pertama belajar menyusu, Devan tidak terlalu kesulitan walau tidak semudah Dendra yang sempat IMD. Alhamdulilah saat Dendra saya kesampaian IMD selama 1.5 jam walau nggak ngenyot karena meram melulu :D

Sampai detik ini Dendra masih menyusu. Tulisan ini juga dibuat sambil menyusui.

Semoga saya bisa menyusui Dendra sampai usianya dua tahun, atau malah lebih, tanpa hambatan yang berarti.

Aamiinn … doain, yaa ….

 


22 Comments - Write a Comment

  1. Maakkkk hoahahaha keweeeennn lah! Two thumbs up! Jadi d3 masih nen juga? Hihihi semangaaattt! Alasan cetekku juga tekad kasih asi karena males malem2 bangun nuang susu, air panas, dkk klo pake sufor, klo nen gampang tinggal tunclep :D..

  2. Gak kebayang nyusuin 8 tahun :) Hebat Kir! Jadi akan total 10 tahun menyusui .. WOW!

    Maika juga anak yang gak suka dot dan gak pernah mau pake dot. Ngamuk tiap dikasih dot. Walo Mamanya pernah berusaha kasih dot ya dengan iming2, jadi gampang kalo perlu ditinggal :D
    ASIP pun Maika gak pernah mau minum, dengan cara apapun, kecuali buat campuran MPASI-nya.

      1. ASIP digelasin pun gak mau. Cuman buat campuran MPASI aja. Maika udah gak nyusu sekarang. Terakhir stop dengan kemauannya sendiri umur 3 tahun 4 bulan :)

Post Comment