@ID_AyahASI: Nggak Gengsi Lagi Bicara ASI

Hari Sabtu, kalau tidak salah minggu kedua Oktober 2011, akun @ID_AyahASI iseng melempar sebuah tagar bernama: #AyahASIOnWeekend; diawali sebagian dari kami menampilkan foto bersama anak di Twitter, dengan tagar tersebut. Beberapa saat kemudian, menyusul foto ayah-ayah lain, dengan tagar asal-asalan tadi.

Tiga bulan setelah memainkan tagar tersebut secara konsisten, minimal 500 foto tersebar setiap hari Sabtu dan Minggu dengan embel-embel #AyahASIOnWeekend. We’ve found that so many great dads out there; seriously. Hingga kini, tagar itu masih ramai diikuti followers @ID_AyahASI, dari berbagai kota di Indonesia. We couldn’t be happier.

*Biarpun kesannya becanda melulu, tapi papah-papah muda ini serius mengampanyekan ASI, salah satunya dengan meluncurkan buku Catatan Ayah ASI yang ludes dalam tempo kurang dari seminggu sejak terbit!

Sejak awal, akun @ID_AyahASI di-setup untuk kami berbagi tentang pengalaman menyenangkan kami mendukung istri yang menyusui. Selama ini, diskusi dan arus informasi soal menyusui seolah menjadi wilayah eksklusif para istri, para ibu.

Nyaris semua media parenting, didesain khusus untuk para ibu. Milis kebanyakan juga diisi para ibu. Section buku keluarga di toko buku pun cenderung rapat dengan buku kewanitaan dan resep memasak. Nursery room di pusat perbelanjaan pun tidak ada yang memasang tanda ayah dan anak di pintunya; sehingga, para suami cenderung enggan menjalankan peran ayahnya di area publik seperti ini.

Industri sudah terlalu banyak ikut campur wilayah domestik. Bahkan, laki-laki seperti dipisahkan dari kemungkinan terlibat dalam urusan rumah tangga, mengurus anak, dan tentunya proses menyusui. Setting yang kemudian membuat ego pria tergelitik dan menyatakan di alam bawah sadarnya, “Gue laki-laki, itu bukan urusan gue.”

Tidak mudah berada di dalam situasi ini. Banyak tantangan sampai pengalaman seru dan lucu yang terlalu serakah jika disimpan sendiri. Karena itu, kami berbagi melalui @ID_AyahASI, untuk sharing kesalahan kami, kebodohan, serta sederet kekonyolan kami belajar menjadi seorang ayah yang baik dengan mendukung istri yang menyusui, semampu kami.

Dalam prosesnya, kami beruntung, bisa bertemu  para ayah lain yang ternyata punya pengalaman yang jauh lebih menarik, mengharukan, heroik, dan jauh lebih keren dari kami saat mendukung istrinya menyusui, melalui diskusi yang terbangun di Twitter. Ada sekelompok kecil ayah dari kota lain yang menjalankan inisiatif yang sama, lalu diikuti sekelompok ayah dari kota yang lain lagi; dan seterusnya.

Banyak pula istri-istri yang dengan mengungkapkan kepada kami di Twitter, kebanggaan terhadap suaminya, yang selalu memberinya semangat untuk terus memberikan ASI. Tak hanya itu; para ayah pun mulai terbuka untuk sharing dan diskusi. Berbagi pengalaman juga, tentang serunya mendukung istri menyusui; tak hanya di Twitter, tapi juga di saat talkshow, hingga #pemiliday. Tidak sedikit pun tampak rasa minder. Para ayah ini dengan terbuka, berbagi di tingkatan serius hingga bercanda dengan tawa lebar.

 

Jika kini, lebih banyak ayah yang terbuka mengungkapkan dukungannya pada proses menyusui; jika lebih banyak ayah yang berani teriak lantang, “Gue mau istri gue kasih ASI ke anak gue, and I will support.” Itu bukan karena @ID_AyahASI, tapi karena dari awalnya sudah begitu; hanya selama ini ruang dan medianya yang belum naik ke permukaan. Karena semua seperti sudah di-setting hanya untuk ibu.

Maka, kini bukan para ayah yang semakin terbuka bicara ASI; tapi industri dan media yang semakin membuka ruang bagi para ayah di dalamnya. Kami, para ayah, jadi punya lebih banyak tempat untuk belajar; punya kesempatan untuk berpartisipasi dengan benar, karena kami diajak “bicara” dengan cara kami. Sehingga, kami lebih memiliki peluang untuk membuat keputusan yang benar dengan tegas, tentang bagaimana kami memberikan dukungan semangat dengan maksimal kepada istri yang menyusui.

 

 


7 Comments - Write a Comment

Post Comment