@ID_AyahAsi: Menghadapi Pemasaran Susu Formula

Dad's Corner

ID_Ayah ASI・03 Aug 2012

detail-thumb

Pada saat seorang lelaki belum menikah atau baru saja menikah, mungkin tidak pernah merasakan keberadaan pemasaran susu formula. Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana: seorang lelaki yang belum menikah, baru menikah atau belum punya anak, bukanlah target market pemasaran susu formula.

Namun akan sangat berbeda ketika seorang lelaki berada pada situasi di mana istri positif hamil, hamil muda, hamil tua, dan melahirkan. Mendadak ke mana pun dia pergi, berbagai macam bentuk pemasaran susu formula mulai tampak. Mengapa demikian? Karena pada saat itu lelaki tersebut sudah menjadi target pasar susu formula: seorang calon ayah, atau baru menjadi ayah, yang tiba-tiba harus memikirkan apa yang dibutuhkan si bayi, mulai dari kesehatannya, kebutuhannya, asupan nutrisi dari susu atau makanan dan banyak lagi. Selain itu mereka mulai dibebani berbagai ekspektasi dari istri, mertua, orangtua, dan lingkungan sekitar, bahwa “Kamu akan segera menjadi ayah dan kamu harus bertanggung jawab untuk memberikan semua kebutuhan anak.”

Tepat pada saat kondisi yang cukup rentan inilah timbul kebutuhan untuk mendapatkan solusi yang memudahkan keadaan tersebut. Kebutuhan inilah yang sering kali dimanfaatkan oleh susu formula untuk masuk memasarkan produk tersebut sebagai bagian dari solusi.

Kapankah kondisi rentan tersebut terjadi? Umumnya kondisi tersebut terjadi di saat calon ayah atau ayah baru berada di tempat di mana dia membutuhkan bantuan, seperti ketika berada di lingkungan rumah sakit.  Walaupun sudah ada banyak peraturan dan etika pemasaran susu formula di Indonesia (yang bisa dilihat di sini: http://aimi-asi.org/peraturan/) namun banyak juga kreativitas para pemasar susu formula yang cukup canggih untuk membujuk mereka yang sebenarnya bisa berhasil ASI ekslusif, agar lebih memilih susu formula. Tentunya kita hanya bisa menduga-duga kompensasi apa saja yang diberikan oleh produsen susu formula kepada bidan, suster dan rumah sakit. Namun yang sudah pasti terlihat adalah keberadaan branding susu formula dan SPG yang mencatat nomor HP kita di rumah sakit bersalin.

Untuk menghadapi hal ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

  • Sebelum menjadi Ayah atau bahkan saat masih single atau masih pacaran, ketahuilah tentang manfaat ASI sedini mungkin. Mengapa ini penting? Agar pada saat kondisi kita belum “rentan” (masih belum terbebani dengan berbagai tanggung jawab mengenai anak) siapkan dahulu fondasi pengetahuan kita mengenai manfaat dan pentingnya ASI ekslusif 2 tahun.
  • Sebelum menjadi Ayah, cobalah berjalan di antara rak susu formula, kemudian lihat harganya, dan hitung, berapa pengeluaran kita untuk susu formula selama 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan 1 tahun, 2 tahun. Hal ini penting dilakukan untuk memotivasi para calon ayah untuk bersemangat menyukseskan ASI eksklusif 2 tahun. Coba hitung berapa banyak dana yang sebenarnya bisa dibelikan gadget dan hobi para ayah, atau coba lihat bila uang tersebut digunakan sebagai tabungan dana pendidikan anak sejak dini.
  • Pastikan kita mengetahui hak-hak kita di rumah sakit. Hal ini bisa dikonsultasikan kepada teman-teman yang aktif di berbagai organisasi pendukung ASI, seperti AIMI untuk mengetahui hak apa saja yang kita punya. Sehingga kita tahu bahwa pemberian sufor harus mendapat persetujuan dari kita, bila terjadi tanpa sepengetahuan kita, maka produsen sufor tersebut bisa dilaporkan.
  • Intinya, satu-satunya cara untuk menghadapi  pemasaran susu formula adalah, dengan memperbanyak pengetahuan tentang ASI dan saling mendukung dan membantu berbagi informasi tentang manfaat dan kebaikan ASI.

     

    @ShafiqPontoh