@ID_AyahASI: ASI Obrolan Ibu-Ibu?

“Bapak-bapak ngomongin ASI? Okelah kita paham kalau bapak-bapak harus dukung istrinya dalam menyusui … tapi apa memang perlu bapak-bapak ini ngobrolin juga? Di antara laki-laki?”

Well…we got that A LOT! Nggak hanya dari sesama bapak tapi juga dari  para ibu juga. Malah kami nggak hanya ngomongin tapi juga KAMPANYE soal ASI! Agak sedikit freak, sih, ya, Membayangkannya? Hahahaha.

Jujur saja soal membahas ASI mungkin itu prioritas nomor paling buntut buat pria. Salah satu hal yang nggak akan kita pikirkan kecuali kalau sudah harus, disodorin di depan mata atau terpaksa.

Tapi tahukah Anda menurut dr. Utami Roesli, SpA, “Penelitian menunjukkan, dari 115 ibu yang suaminya tidak memberikan dukungan, ternyata tingkat keberhasilannya 26,9 persen. Sementara pada kelompok ibu menyusui yang mendapat dukungan dari ayah, tingkat keberhasilannya hampir 100 persen, yakni 98,1 persen.”

Jadi ternyata bapak-bapak ini ada gunanya juga dalam proses menyusui dan justru penting sekali, lho!

Waktu Diba (Sekjen AIMI) pertama mengundang ketemuan sama  para bapak yang menjadi cikal bakal ID_AyahASI ini soal dukung-mendukung ASI, agak bingung juga, sih, ya kami mau melakukan apa. Di pertemuan tersebut yang kami lakukan adalah berbagi mengapa mendukung pemberian ASI, kami saling mendengar problem, dan juga ilmu yang dibagi oleh para bapak ini.

Ternyata kesimpulan kami saat itu adalah kampanye pemberian ASI di Indonesia selama ini SAMA SEKALI tidak menyentuh para pria yang kenyataannya adalah rekan terdekat ibu dan seperti hasil penelitian di atas, mempunyai pengaruh signifikan terhadap keberhasilan menyusui. Banyak bapak  di luar sana yang mungkin ingin mendukung tapi tidak tahu caranya, gengsi untuk bertanya dan bantu-bantu takut disangka nggak macho, dan lain sebagainya.

Selain itu juga, karena di Indonesia umumnya support group ASI diinisiasi oleh ibu-ibu, terasa agak sulit untuk para bapak untuk ikut bergabung dan aktif.

Pada saat itulah kami beberapa bapak-bapak yang sedikit kurang kerjaan dan merasa peduli untuk mengembangkan kampanye ASI kepada para bapak mulai kasak kusuk mengenai apa yang bisa dilakukan.

Karena kebetulan kami para bapak-bapak ini pria juga, hal yang pasti kita sadari dan ketahui itu adalah: pria itu egonya tinggi! Nggak ada, tuh, ceritanya kita bisa dipengaruhi dengan cara digurui kalau kita nggak ingin tahu dan apalagi kalau pakai cara disindir-sindir sama istri (atau paling parah, orang lain). “We, men, are capable of taking care of ourselves and our families!”; “We know what’s best for my family!” begitu mikirnya. Tapi untungnya, pria itu umumnya cara berpikirnya sederhana. Logika sederhana seperti keuntungan dari segi finansial karena mendukung menyusui, bukti-bukti ilmiah kebaikan menyusui dan ditambah bisa kasih yang terbaik untuk anak dan istri tanpa harus punya nama belakang ‘Sampoerna’ cukup menjadi motivasi seorang pria untuk mau mendukung pemberian ASI kepada anaknya.

Pendekatan kampanye kepada para bapak juga lebih mudah karena kita tidak diribetin oleh masalah-masalah tipikal dan sensitif para ibu (dianggap nge-judge, peer pressure and competition, debat soal full time mom, stay at home mom, working mom etc). Untuk para ibu yang ‘tidak sengaja’ kena kampanye kita juga mungkin jadi alternatif untuk mereka, karena seperti punya sahabat pria yang bisa diajak berbagi soal ASI. Jadi sepertinya masa depan cukup cerah, nih, untuk kami, para bapak-bapak ini bikin kampanye ASI.

Itulah yang kemudian menjadi landasan kita ketika kita menyiapkan buku kita #CatatanAyahASI (yang Alhamdulillah ternyata ada yang beli dan baca ;p) dan juga akun twitter @ID_AyahASI dengan gaya bahasa nonformal dan netral.

Mengutip perkataan teman saya, @bangaip, di prakata #CatatanAyahASI: “Kami percaya bahwa setiap orangtua tidak perlu diajarkan cara menangani isu soal anak, karena semua orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya dengan cara masing-masing. Karena itu, kami cukup berbagi tentang pengalaman kami menjadi orangtua yang berusaha tadi. Ada masa kebingungan, panik, melakukan kesalahan, dan membiarkan berbagai buku tertutup rapi, karena reaksi selalu naluriah, tidak text-book“.

Harapan kami, pengalaman kami berdelapan ini bisa jadi materi bacaan santai, rujukan untuk mengenal what’s on with other dads tanpa mengintervensi kemampuan ayah lain untuk mengambil keputusan terbaik bagi anaknya”

Mudah-mudahan langkah kecil kami untuk turut mengurus dan membicarakan isu soal ASI dapat mempunyai peran dalam meningkatkan angka menyusui di Indonesia dan bisa menjadi rujukan para ayah dalam mendukung proses menyusui. Semoga.

 

@sipandu, temannya mimin @ID_AyahASI

 


23 Comments - Write a Comment

Post Comment