@ID_AyahASI: Kenapa Support ASI

Biar terlihat keren di depan para mahmud (mamah muda). Hehehe.

Seriously, selalu bingung kalau diajukan pertanyaan di atas. Memangnya aneh banget, ya, bila seorang pria mendukung istrinya memberikan ASI? Setalah dua tahun membantu istri dan kemudian melihat anak kami tumbuh berkembang sehat hingga sekarang berumur empat tahun, pertanyaan tersebut menjadi tidak relevan buat saya. Mungkin pertanyaannya sebaiknya dibalik, kenapa ada suami yang tidak men-support ASI?


Untuk saya pribadi, ada beberapa hal yang mengakibatkan saya mendukung istri saya untuk mendukung pemberian ASI:

1. Saya ingin berkontribusi bagi keluarga saya. Saya percaya bahwa membangun rumah tangga, termasuk membesarkan anak, memerlukan kerjasama dari pasangan suami istri. Bikinnya berdua, membesarkannya juga bersama-sama, dong. Terlalu sempit bila peranan suami hanya dikotakkan dalam mencari nafkah saja, kemudian dijadikan alasan untuk berleha-leha seusai bekerja. Apa kabarnya istri mereka yang mengandung sembilan bulan, mau mati ketika melahirkan, dan kemudian kecapean menyusui anak mereka? Apa kabarnya para istri yang sudah bekerja tapi masih harus terbangun malam hari untuk mompa atau menyusui? Please, deh, hari gini cuma mau ongkang-ongkang kaki dan buka sarung doang .

2. Kenapa ASI? Kenapa nggak? Apakah ada zat nutrisi lain yang lebih baik dari ASI? Komponen dalam susu formula yang paling baik sekalipun, masih belum bisa menggantikan ASI. Semua protein, vitamin, enzim, serta nutrisi ada dalam cairan ASI, dan semuanya GRATIS! Hal yang dibutuhkan hanya kemauan untuk membuka wawasan dan tidak tunduk pada iklan sufor semata.

3. Saya teringat ketika SD, saya melihat ibu-ibu cukup membuka beha untuk menyusui anaknya. Sederhana, praktis, dan mudah namun sangat penuh kasih sayang. Begitu mengesankan. Lalu ketika SMA , saya sering merasa kasihan ketika melihat mahmud sibuk mengeluarkan termos, mengaduk sufor, membersihkan seluruh pernak-pernik lainnya. Ada jarak, ada kasih sayang yang terputus ketika melihat adegan itu. Sekarang mungkin lebih parah lagi, mahmud-nya melenggok dengan blow rambutnya yang jaya, sementara baby sitter-nya sibuk menyiapkan sufor. Heboh, modern, kosmopolitan, tapi hampa. Saya tidak ingin kehampaan itu ada di keluarga saya. Saya ingin menciptakan keluarga yang hangat, dan lewat ASI, saya mencoba mewujudkannya.

Awalnya, saya pikir cuma saya yang ‘aneh’ mendukung istri saya memberikan ASI. Namun, ketika saya dipertemukan oleh lima orang dan kemudian tujuh orang bapak oleh Diba dan Nia dari AIMI, saya yakin, saya tidak sendirian. Setelah sekian lama berinteraksi, saya melihat benang merah di antara kami berdelapan: kami peduli dengan istri-anak kami, dan mau “hands on” dalam hal membesarkan anak. Kami juga pria-pria yang mau membuka diri, dan menurunkan ego dalam persusuan, karena kami berdelapan yakin, apa yang kami lakukan merupakan hal yang terbaik bagi anak dan istri kami.

Kami semakin yakin bahwa banyak para ayah yang mendukung istri dalam memberikan ASI setelah kami membuat akun Twitter @ID_AyahASI. Dari akun yang sama, kami juga menemukan banyak pula para ayah yang menyesal karena membiarkan anak mereka mengonsumsi sufor. Beberapa dari mereka kemudian bertekad untuk full memberikan ASI untuk anak kedua atau ketiga (atau anak pertama dari istri yang lain. Hehehe– jitak, ya *tambahan dari redaksi).

Sekarang, tugas kita bersama adalah mengangkat kesadaran bahwa lumrah adanya bila seorang ayah mendukung istri mereka dalam memberikan ASI. Jabat tangan erat dan tepuk di pundak buat mas bro yang sudah dan akan mendukung istri mereka. Dengan demikian, kita dapat membuat Indonesia jadi lebih baik.

 

@siadit, mimin @ID_AyahASi yang (konon) suka bikin kopi


17 Comments - Write a Comment

  1. Salut untuk papah-papah muda ID_AyahASI … untuk dapatkan perhatian pria soal hal “domestik” memang lebih pas kalau dilakukan oleh sesama pria karena mungkin mereka nggak akan merasa diceramahi. Haha kalau sama istri, kan, beda …

Post Comment