Alas Kaki Untuk Si Kecil

Sejak anak mulai berjalan, kakilah yang selalu menanggung beban terberat. Jadi dari mulai Zahra lahir saya berusaha untuk memilih sepatu yang sesuai dan nyaman digunakan oleh kaki mungilnya. Lho memangnya bayi sudah perlu pakai sepatu? Ternyata tidak, hehe. Bayi mulai perlu pakai sepatu sewaktu dia sudah mulai bisa berdiri dan tetah (berdiri dengan bantuan). Jadi yang sebelumnya saya beli sepatu macam-macam untuk bayi ternyata cuma sekali pakai saja bahkan ada yang tidak terpakai sama sekali karena ukuran sepatu yang saya beli kebanyakan untuk 3-6 bulan. Mubazir, ya, karena sekali lagi saya baru sadar kalau bayi yang belum berdiri TIDAK membutuhkan sepatu. Saya mengakalinya dengan memakai kaus kaki, apalagi sekarang banyak sekali kaus kaki yang motifnya lucu-lucu!

Nah, bayi mulai memerlukan sepatu setelah dia bisa menapak lantai. Sepatu yang digunakan saat itu juga berfungsi sebagai penghangat kaki, serta aksesori supaya lebih gaya waktu bepergian. Bahannya harus lembut dan nyaman. Ukurannya tidak boleh terlalu pas atau sempit agar tidak menghambat pertumbuhan kakinya. Sepatu beguna untuk melindungi kaki dari benda tajam, kotor, dan sebagainya. Tapi kalau lagi di rumah Zahra saya biarkan saja berjalan tanpa alas kaki. Dengan tanpa alas kaki, bayi belajar mengenali benda yang disentuh kakinya.

Sepatu bayi dan balita tidak boleh sempit, sebaiknya juga tidak longgar. Karena tulang kaki anak belum terbentuk sempurna sampai ia berusia 6 tahun. Tulangnya masih muda dan lunak. Otot-otot dan jaringan ikat di kaki juga masih mudah memuai. Sepatu yang kekecilan dapat merusak pertumbuhan kakinya. Sepatu yang kebesaran juga tidak baik. Biasanya, beberapa orangtua cenderung membeli sepatu bayi yang ukurannya lebih besar, dengan harapan waktu pakainya bisa lebih lama. Padahal, ketika si kecil berjalan, bagian belakang sepatu akan menggesek-gesek tumit kakinya. Akibatnya, proses berjalan jadi terhambat dan kulit kaki pun jadi lecet. Jalan keluarnya, ketika sedang mencoba-coba sepatu untuk anak, tekan ujung sepatu tersebut. Ini cara untuk mengetahui apakah ada sisa ruang di depan jarinya. Sebaiknya jarak antara sepatu dengan ujung jari kaki terpanjang sekitar 2 cm. Cara lainnya, minta anak menggerakkan ujung kakinya. Jika ujung kakinya masih bisa digerakkan, maka sepatu dapat dinyatakan nyaman.

Pertumbuhan kaki anak memang sangat cepat. Supaya pertumbuhannya tidak terhambat, sering-seringlah ukur kakinya. Idealnya, 3 kali setahun beli sepatu baru.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih sepatu:

  • Sol empuk dan bertekstur. Dengan begitu, si kecil tidak mudah terpeleset.
  • Penyangga telapak kaki empuk dan melengkung. Bagian melengkung di telapak kakinya jadi tersangga dengan baik.
  • Lentur. Sehingga kakinya jadi lebih fleksibel saat berjalan. Untuk mencoba kelenturannya, tekuk saja sepatu itu.
  • Bahan kuat untuk melindungi kakinya (jangan terlalu tipis).
  • Ringan. Agar langkahnya tidak terhambat.
  • Tak mudah lepas.
  • Pakaikan kaus kaki jika perlu.
  • Sebaiknya bagian atas sepatu tak terbuat dari bahan plastik karena menghalangi penguapan. Pilihlah bahan kain agar udara dapat masuk.
  • Hindari ujung yang runcing atau menyempit, karena dapat membuat gerak jari-jarinya terhambat.

Desain sepatu yang benar:

  1. Sepatu yang baik dapat mengalihkan berat badan ke lantai secara efektif.Sepatu juga menjadi pondasi yang baik untuk pertumbuhan tubuh.
  2. Sepatu terpasang dengan baik pada kaki. Dan harus ada ruang untuk tumbuh kaki, karena itu sepatu tidak boleh terlalu longgar atau terlalu sempit.
  3. Sepatu dapat melindungi kaki. Cari sepatu yang tidak membuat kaki lecet.
  4. Sol keseimbangan sebaiknya tidak terlalu tebal agar tidak membatasi ruang gerak normal kaki untuk berjalan. Sol yang berbentuk bakiak bisa memengaruhi stabilitas kaki anak saat digunakan berjalan.

Sepatu yang baik dari sisi medis

  1. Sepatu harus dapat memberikan dukungan yang baik untuk tungkai, dan bukan merupakan suatu tahanan yang besar.
  2. Sepatu tidak menghalangi fisiologis pergelangan kaki anak.
  3. Sepatu hendaknya di sesuaikan dengan usia, karena fungsi tungkai berbeda – beda pada saat anak merangkak, berdiri dan berjalan.
  4. Hindari tekanan yang dapat mempengaruhi gerak tubuh, akselerasi dan keseimbangan.
  5. Hindari tekanan pada punggung kaki, terutama untuk anak yang memiliki punggung kaki lebar dan tinggi.

Menurut Meidy H Triangto SpRM, dokter spesialis rehabilitasi kaki anak RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, sepatu yang tepat dapat membentuk perkembangan tulang dan otot yang baik, sedangkan sepatu yang tidak tepat bisa membuat pertumbuhan kaki tidak benar. Selama tumbuh kembang, ukuran sepatu anak bisa berubah 34 kali sampai dia berusia 10 tahun. Setidaknya enam bulan sekali ukuran kaki anak berubah. Saat anak belajar berjalan, anak harus memakai alas kaki yang ideal. Alas kaki itu harus dapat mengatur jatuhnya titik berat badan pada posisi yang benar.

Alas kaki yang tepat untuk bayi yang masih merangkak (6-10 bulan) adalah yang lentur dan kuat biasa disebut juga prewalker shoes, terutama pada bagian ujung dan tumit. Sedangkan untuk bayi usia merambat (10-14 bulan) sepatu yang ideal adalah sepatu dengan sisi yang berfungsi sebagai penyeimbang. Waktu Zahra sudah bisa berjalan (kurang lebih usianya 13 bulan waktu itu) saya lebih memilih sepatu dengan sol karet yang ringan, Dan ternyata sebaiknya hindari sepatu yang bertali, karena talinya suka lepas, akibatnya kita berulang kali harus menalikan lagi karena takut Zahra jadi tersandung. Saya memilih sol yang tidak terlalu tebal agar tidak membatasi gerak kakinya saat berjalan. Dan saya pernah membaca artikel di Kompas bahwa jangan memakaikan sepatu bekas si kakak kepada adiknya, karena sepatu bekas telah memiliki tapak kaki kakak yang berbeda dengan tapak kaki adik. Tapak kaki yang tidak sesuai dapat mengganggu cara berjalan anak. Wah, jadi alasan beli sepatu baru, ya, kalau saya berencana punya anak lagi? :D

*dari berbagai sumber

 


17 Comments - Write a Comment

Post Comment