Ramadan dan Puasa Berkesan bagi Anak

Bagaimana kita mengingat masa kecil kita saat menjalankan puasa Ramadhan? Bukan mudik, menerima angpau atau ‘salam tempel’ yang ingin saya angkat di sini. Tetapi, adakah sesuatu yang sangat membekas sehingga selalu kita ingat, bahkan merindukan bulan puasa saat kecil dulu?

Dalam bukunya Catatan Hati Bunda, Asma Nadia menceritakan bagaimana ia membuat momen Ramadhan menjadi unforgettable bagi keluarganya, khususnya untuk anak-anaknya, Salsa dan Adam. Mungkin, ini karena kenangan sewaktu ia masih kecil, karena ketika Ramadan berlangsung, tidak ada sesuatu yang istimewa. Inilah yang membuat ia dan suaminya berusaha agar setiap detik di bulan Ramadan tak terlupakan, khususnya bagi Salsa dan Adam. Ia sadar bahwa aktivitas berpuasa pastilah sangat membosankan dan menyebalkan bagi anak-anak jika rutinitas di bulan ini hanya sekedar tidur sepulang sekolah guna meredam rasa lapar. Untuk itulah ia membuat sesuatu yang unik, sesuatu yang mungkin tidak akan pernah dilupakan anak-anaknya hingga mereka dewasa nanti.

Ia dan suaminya menyiapkan sebuah hadiah yang dibungkus dengan kertas kado. Mirip seperti hadiah ulang tahun. Hadiah itu dibuat sebanyak 60 buah, masing-masing 30 untuk setiap anaknya, dan ditaruh di dalam kamar. Hadiah itu baru boleh diambil ketika Salsa dan Adam berhasil menyelesaikan puasanya. Setiap selesai berbuka pastilah kedua anaknya segera berlari menuju kamar untuk memilih hadiah mana yang akan mereka buka pada hari itu.

Saya yakin momen Ramadan seperti itu tidak akan pernah terlupakan bagi Salsa dan Adam. Meskipun awalnya niatan puasa untuk mendapat hadiah, pelan-pelan orangtuanya mengarahkan makna puasa sebenarnya bagi kedua hati riang anak-anaknya itu.

Begitu pula dengan seorang teman yang kebiasaan kecilnya membuat saya sangat iri, dan ingin segera melakukannya. Bagi mereka, -suami istri ini- membangunkan anak-anak bukan lagi perkara yang sulit dan penuh perjuangan. Karena anak-anak mereka seakan sudah ‘otomatis’ terbangun begitu saat sahur tiba. Ternyata, rahasianya adalah, membangunkan anak sebelum mereka tidur. Menarik dan pasti membuat penasaran.

Kebiasaan ini, dilakukan oleh sang ayah, dengan selalu mendampingi anak-anaknya sebelum mereka tidur, dan ‘menyisipkan’ pesan-pesan menarik dan kreatif bagi anak-anaknya. Awalnya sang ayah akan bercerita bahwa ia mempunyai kejutan bila mereka bangun pada jam tertentu. Tentu saja cerita ini dibuat semenarik dan sekreatif mungkin, sehingga membuat anak-anak sangat penasaran. Dan hari-hari selanjutnya, sang ayah akan bercerita, bahwa Allah sangat mencintai anak-anak yang sahur sebelum berpuasa. Dengan caranya yang kreatif, ia menceritakan bahwa sungguh beruntung menjadi anak-anak yang dicintai oleh Allah. Kemudian ia bertanya pada anak-anaknya, ‘siapa yang ingin dibangunkan pada waktu sahur?’, maka kedua anaknya akan sangat antusias menginginkannya.

*gambar dari sini

Jadi, bagaimana dengan kita? Apakah kita akan menciptakan pengalaman-pengalaman berkesan bagi anak-anak kita? Memang diperlukan perhatian, waktu dan usaha yang ‘ekstra’ untuk bisa mewujudkan pengalaman yang tak terlupakan bagi anak. Namun, semua itu rasanya sepadan dengan apa yang akan dimiliki oleh anak-anak kita.

 


13 Comments - Write a Comment

Post Comment