Tetap Menyusui Saat Demam Berdarah

Demam berdarah, atau DENGUE HEMORRHAGIC FEVER (DHF), demikian diagnosa dokter jaga di UGD pada saya Sabtu pagi itu. Trombosit dan leukosit menurun, saya pun harus dirawat. Huhuhuhu, langsung saya meringis menangis, karena nyeri infus, karena sakit kepala, dan tentu saja karena saya harus berpisah sejenak dengan Rasya. Benarlah dugaan saya setelah tiga hari berturut-turut didera demam dan pusing, plus alergi obat di kulit. Apalagi seminggu sebelumnya suami baru saja pulang dari RS karena DB dan tipes, sekarang … dengan sangat terpaksa mengaku kalah pada DB.

Ketakutan saya terjadi, dan pagi itu, saya yang masih menyusui Rasya, 5 bulan, hanya meninggalkan dua botol ASIP di rumah. Perasaan enggan dirawat tetap tak bisa dipertahankan. Untunglah, perawat mengizinkan saya tetap memompa dan Rasya dibawa ke RS untuk menyusui langsung. Dokter pun sengaja tidak memberikan saya antibiotik apapun, sehingga saya tetap bisa aman menyusui. Hanya saja, permasalahannya bukan itu!

Sejak demam dua hari sebelumnya, produksi ASI saya tak sebanyak biasa. Bila menyusui langsung masih memungkinkan Rasya mendapatkan ASI, maka lain ceritanya bila harus memompa. Oh, saya betul-betul menangis sedih melihat hasil pompa ASI. Pabrik susu ini pun tak sempat kencang, malah cenderung kosong. Sampai pompa ASI tak mampu mengeluarkan ASI yang tersisa. Alih-alih menyerah, saya memerah dengan tangan. Naluri saya mengatakan, saya tetap harus memberikan ASI untuk Rasya! Dengan sisa-sisa tenaga, sambil menunggu kedatangan Rasya, saya menghabiskan waktu dengan memerah ASI. Hari pertama, Rasya membawa pulang dua kantung masing-masing 30 ml saja. Malam pertama di RS suami menemani saya, sementara Rasya di rumah bersama Mama yang kebetulan sedang datang.

Esok pagi sebelum suami pulang, saya sudah membekali suami dengan ASI perah lagi. Kali ini agak lumayan, dapatlah dua kantong, salah satunya 60 ml. Porsi biasa Rasya minum ASI perah 90 ml, kali ini terpaksa dikurangi jatahnya. Mudah-mudahan nanti siang bisa dapat lagi. Sampai sore, stok ASI aman. Namun, menjelang malam kedua saya dirawat, Rasya menangis tak berhenti di rumah. Ia kelaparan. Ibu mertua datang mengambil ASI di RS. Saya memerah dengan terburu-buru, lepas pompa, ganti tangan, pakai pompa, lepas, ganti tangan lagi. Hasilnya, ‘cuma’ 30 ml saja. Nggak apa-apa, yang penting ada, akhirnya ASI itu dibawa pulang. Sebelum suami saya pulang pun saya membekalinya lagi dengan ASI untuk besok pagi, yang ternyata … habis diminum Rasya malam itu.

Syukurlah ada Piala Eropa 2012, saya tiap pagi buta ikut bangun dan begadang. Bukan nonton bola, tetapi memerah ASI. Demi kelancaran memerah ASI, saya melakukan stimulasi LDR. Ah memang, dalam setiap permasalahan, kita selalu bisa menemukan cara baru untuk mengatasinya. Jika sebelumnya saya hanya mengandalkan ready stock, kencang baru memerah, maka kini saya bisa menstimulus LDR dan langsung memompanya, sehingga ASI bisa mengalir deras! Pagi itu hari ketiga di RS, saya tersenyum lebar.

Sampai sore stok ASI aman. Rasya datang setiap siang, menyusui langsung sambil saya keloni hingga tertidur pulas. Mama dan adik bolak-balik menemani saya setiap hari. Saat Rasya pulang, saya membawakan dua kantong ASI perah. Seiring nafsu makan saya membaik, produksi ASI juga mulai meningkat. Namun, ujian terberat justru baru datang hari ini. Saat saya sedang memompa ASI dan berhasil mendapat 90 ml malam itu, Mama menelpon suami dan mengatakan Rasya terus-terusan menangis lapar. Tangisannya sangat heboh sampai tidak bisa dihentikan. Papa juga menelepon saya dan mengatakan sesuatu yang membuat saya patah hati.”Kasihan Rasya, kasihkan saja susu tambahan. Kamu nggak boleh egois atau memaksakan diri untuk ASI eksklusif, sekarang, kan, keadaannya beda. Kamu sakit. Anakmu nangis terus menerus sampai semua bingung. Nggak usah mikir lama-lama, kasihkan saja susu tambahan!”

Itu terdengar seperti ultimatum ketimbang saran. Saya langsung menangis sedih. Apalagi saya baru saja berhasil memompa 90 ml! Saya cuma bisa memeluk suami. Rasanya….perjuangan saya beberapa hari ini tak ada arti. Ultimatum itu membuat saya berpikir … apa, ya, saya egois? Apa iya saya terlalu memaksakan diri? Namun, selama ini kan berhasil tuh. Saya tetap bisa memberi ASI untuk Rasya! Kenapa harus diberikan susu tambahan? Ya, saya nggak rela.

Untunglah suami membesarkan hati saya. Dia mengatakan, ya, sudahlah, yang penting Rasya bisa tenang di rumah, sambil mengingatkan saya untuk tetap tenang dan rileks supaya produksi ASI juga terjaga. Toh akhirnya, susu formula sudah dibeli, tetapi malam itu Rasya pun enggan meminumnya. Suami bilang, dia hanya meminumnya sedikit lalu memasang wajah aneh dan melepeh kembali susu itu. Mendengar cerita tersebut, saya nggak tahu harus bersyukur atau merasa bagaimana, hehehe. Ah, Rasya, kamu memang pintar :D

Apa yang saya pelajari dari pengalaman berharga ini?

  • Lesson learned, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi. Saya memang tidak terbiasa menyetok ASI berbotol-botol. Sekalipun saya bekerja, tetapi saya terlena dengan jarak tempat kerja dekat, sehingga selama ini hanya memerah ASI untuk diminum besok.
  • Saat sakit, obat terbaik untuk mengembalikan produksi ASI tentu dengan banyak makan dan minum. Nggak doyan makan, gantilah dengan buah. Dalam kondisi DB, buah-buahan adalah penyelamat saya dari kelaparan, saat makan bubur pun terasa hambar!
  • Selalu katakan pada dokter jika sedang menyusui, sehingga dokter memberikan obat yang sesuai. Tetangga saya, busui juga, diberikan antibiotik saat dirawat karena DB. Ujung-ujungnya, malah tidak bisa menyusui karena ASI yang sudah diperah terpaksa dibuang akibat mengandung antibiotik. Pun jika terpaksa sekali harus minum antibiotik, ada kok antibiotik yang pasti aman untuk ibu menyusui.
  • Selalu berusaha untuk tetap memompa ASI! Berapa pun yang kita dapat itu berharga! Semakin sering kita pompa, semakin cepat jumlah produksi ASI bertambah. Saya saja sampai membawa bantal Rasya yang berbau asem itu supaya membuat saya terus teringat padanya saat memompa dan berhasil! ;)
  • Katakan apa yang kita butuhkan pada para perawat. Bawalah breastpump dan kantong penyimpan ASI. Minta saja disediakan air panas, sehingga setiap selesai memompa, pompa bisa langsung dibilas dan disteril dengan air panas. Alhamdulillah, para perawat di RS sangat mengerti dengan kondisi saya. Mereka sangat membantu saya dalam menjaga produksi ASI. Setiap selesai memompa, saya menitipkan ASI perah di lemari es. Malah, seorang perawat ikut tertarik dengan jenis breastpump dan kantong penyimpan ASI yang saya gunakan dan bertanya-tanya beli di mana, hehehe.

Alhamdulillah, sekarang produksi ASI saya sudah kembali seperti semula. Jangan pernah menyerah untuk menyusui, dalam kondisi apa pun! Selama dokter bilang boleh menyusui, sakit apa pun yang kita alami, sok atuh! Yang jelas, ketika ibu terinfeksi suatu penyakit, ASI otomatis membangun antibodi terhadap penyakit itu, sehingga bayi Insya Allah bisa terlindungi.

Ah ya, dan Rasya pun sudah bisa memilih mana yang terbaik untuk dirinya sendiri! ASI! :)


19 Comments - Write a Comment

Post Comment