Haruskah Berani Tampil?

Tante, om serta orangtua saya bilang kalau Langit mirip dengan saya kecil. Centil, percaya diri, dan berani tampil (ah, saya yakin nanti kalau sudah besar pasti kalem dan cool seperti ibunya ini, hihihi). Entah memang keturunan atau apa, tapi yang pasti Langit memang tidak bisa dikategorikan sebagai anak pemalu.

Beberapa waktu lalu pernah seorang teman meminta Langit untuk difoto kepentingan sebuah artikel di majalah. Saya menanyakan dulu sama Langit apakah mau difoto sama Tante Yosi, dia jawab mau. Ya sudah, kami berangkat. Kondisi Langit lagi pilek saat itu, tapi untunglah Langit bisa diajak kerjasama walaupun kayanya butuh sekian puluh frame untuk mendapatkan gaya yang diinginkan, hehehe.

Saya pikir ini adalah pengalaman pertama sekaligus terakhir, ya, secara Langit sempat ‘mogok’. Beberapa bulan kemudian, teman lain mengajak Langit foto lagi untuk majalah juga. Kali ini fotonya nggak sendiri, melainkan dengan 2 anak lain. Takut Langit nggak bisa diajak kerjasama (bukannya banci tampil, nih, cuma nggak enak hati sama yang ngajakin dan yang motret saja, kalau Langit nggak mood), maka saya nggak langsung mengiyakan ajakan itu.

Ternyata hanya untuk 4-5 foto yang kita lihat menggemaskan di majalah itu prosesnya cukup bikin keringetan. Satu anak sudah siap bergaya, yang lain mau sama mamanya. Satu anak gayanya sudah lucu, eh yang lain roknya diangkat, dan seterusnya. Hahaha.


Beberapa bulan lalu di sekolahnya ada pentas seni kecil-kecilan untuk kelas Play Group. Masing-masing anak diminta menyanyikan 2 buah lagu; satu lagu wajib yaitu “Kasih Ibu” dan satu lagi lagu bebas. Langit memilih lagu Pelangi-Pelangi. Sebagai ibu yang pelupa, saya baru ingat acara itu sehari sebelumnya. Maka langsung saya tanya apakah Langit besok masih mau nyanyi di sekolah? Saya beri tahu juga kalau nyanyinya di atas panggung. Langit langsung mengangguk penuh antusias, bahkan minta latihan segala! LOL!

Ada beberapa hal yang saya pelajari dari pengalaman di atas:

  • Anak akan percaya diri jika kita, sehari-hari menghargai anak dalam kondisi apa pun. Gampangnya, saat anak menyanyi dengan bahasanya sendiri depan kaca, biarkan. Nggak usah diketawain apalagi sebentar-sebentar dibenerin kalimatnya, yang ada si anak mikir, “Ih, gue salah melulu, nggak usah nyanyi, ah, kalau gitu.”
  • Selalu tanyakan lagi apakah si kecil benar-benar mau melakukan hal tersebut. Karena anak-anak bukan orang dewasa yang jika sudah bilang ya, maka akan ‘ya’ all the way. Ada kalanya seminggu sebelumnya sudah mau, tiba-tiba di hari H, si kecil menolak. Kalau kasusnya begini gimana? Membujuk anak bahkan sampai mengancam atau bilang “Ayo, itu si A saja mau” menurut saya hanya akan menyelesaikan masalah sesaat. Pada saat Langit difoto untuk pertama kali itu, Langit sempat ‘mogok’, padahal pose yang diinginkan belum didapat. Akhirnya saya minta ‘break’ dulu untuk ‘menghangatkan’ Langit, setelah mood-nya kembali, baru dilanjutkan, deh!
  • Nggak usah malu atau kecewa kalau ternyata si kecil mogok sama sekali. Hayoo, yang mau tampil ibu atau anaknya, nih? *wink*

Terus, apakah ‘keberanian’ Langit ini akan saya teruskan ke jenjang yang lebih serius? Umm, sepertinya sih, nggak. Biarlah hal-hal ini hanya untuk menjadi ajang latihan kepercayaan dirinya saja. Btw, untuk pentas nyanyi itu ternyata dilombain, dan Langit juara 3 lho! *proudmommy*


15 Comments - Write a Comment

  1. Pengen banget Nadira berani tampil, tapi apa daya, pemalu abis. Sama banget deh sama saya waktu masih kecil. Yang bikin gemes, sifat pemalu dan pengalahnya kalo bareng temen-temen di sekolah. Jadi objek bully yang paling oke kan :(

Post Comment