Mimpi Buruk Di Pagi Hari..

Pukul 09.17 Saya menerima SMS dari ART yang berisi: “Mbak, cepat pulang. Alvaro jatuh dari atas.” Badan saya lemas seketika karena kami merujuk kata ‘atas’ sebagai lantai 2 dari rumah. Selain itu, saya membaca SMS itu pada pukul 09.30. Berarti sudah ada jeda 13 menit dari waktu kejadian. Belum hilang syoknya, si Mbak menelpon dari rumah. Ketika diangkat, nggak jelas dia ngomong apa atau mungkin otak saya ngga bisa terima, ya? Saya hanya bisa menangkap  isakan tangis dia yang sambil kebingungan berkata : “Mbak, maaf. Alvaro jatuh, kupingnya berdarah. Cepat pulang ….”

Pukul 09.35. Saya nggak pikir panjang lagi. Dibutuhkan waktu kurang lebih 15 menit perjalanan ke rumah + 15 menit ke rumah sakit artinya akan ada jeda 45 menit sebelum dilakukan pertolongan pertama. Dengan perhitungan tersebut, saya bergegas ke meja CS dan meminta dia menelpon bagian akademik untuk mencarikan pengganti saya yang sedang mengajar. Setelah itu saya langsung lari ke ruangan untuk ambil tas dan kunci motor sambil berpikir bagaimana cara menyetir motor selamat sampai di rumah, wong pegang kunci motor saja sudah gemeteran. Untungnya ada teman kantor yang menawarkan untuk mengantarkan saya dengan mobilnya.

Pukul 09.50. Saya sampai di rumah dan menemukan si mbak serta Varo sudah berada di depan pagar. Alhamdulillah masih sadar. Tapi keadaannya sangat lemas dan sudah ada bekas muntah di bajunya. Yang membuat saya tambah stres adalah darah yang mengalir dari telinga secara terus menerus sehingga dalam perjalanan ke rumah sakit saya nggak kuasa lagi menahan tangis. Sambil mengenggam tangannya, saya menangis sambil memanggil nama Varo agar dia tetap sadar. Tapi lama kelamaan tangisan saya berubah jadi tangisan panik ketika Alvaro muntah lagi. Akhirnya saya dibentak oleh teman kantor itu. “Stop menangis! Kamu membuat dia tambah bingung! Panggil namanya saja tanpa perlu menangis!” Saya langsung tersadar dan berusaha menahan tangis. Akhirnya saya coba alihkan perhatian dengan bertanya ke si mbak. Katanya anak saya loncat (CATAT! bukan jatuh) dari balkon lantai 2. Saya langsung kehabisan kata-kata dan nggak bisa ngomong apa-apa lagi.

Pukul 10.00. Setibanya di rumah sakit, Varo langsung masuk ke ruang perawatan UGD. Pemeriksaan pertama adalah pemeriksaan luar. Baru ketahuan kalau ada 3 bagian yang sobek cukup dalam di kakinya. Satu dekat mata kaki dan dua di bagian dalam lutut. Salah satu luka yang berhasil saya foto :

Gejala muntah dan darah keluar dari telinga menunjukkan Varo mengalami gegar otak. Namun seberapa besar dampaknya belum dapat diketahui karena Varo sangat susah untuk bekerja sama. Apalagi tangannya abis dipasangi infus. Akhirnya para dokter memutuskan untuk melakukan CT scan dan rontgen dada. Cukup perjuangan juga menyuruh Varo diam untuk di CT scan. Dia harus tidur tenang di atas meja yang akan membawa dia masuk ke dalam lingkaran. Jika ada pergerakan sedikit dari pasien maka hasilnya akan goyang dan tidak dapat dibaca. Para dokter menolak untuk melakukan bius total karena akan menimbulkan efek samping. Mereka meminta saya membujuk Varo saja untuk tenang. Dari situ saya tau kalau anak saya berada di tangan yang tepat.

Pukul 10.45 Varo kembali ke ruang UGD untuk menunggu hasil CT scan.  Mungkin karena sudah kecapekan sekali, akhirnya dia tertidur. ART pun kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang keperluan di rumah sakit. Saat itu saya belum bisa tenang, saya cuma bisa berdoa semoga hasil CT scan normal saja.  Seandainya ada penggumpalan atau yang lainnya, maka harus dilakukan operasi. Saya nggak berani membayangkan hal itu terjadi.

Pukul 11.20 Dokter bedah dan dokter saraf datang  membawa kabar yang menurut saya baik. Gegar otak yang dialami Varo adalah gegar otak ringan, lalu ada retak di belakang telinga yang menyebabkannya harus dirawat untuk observasi lebih lanjut. Setelah itu, giliran dokter THT yang memeriksa Varo. Dua jam setelah jatuh, darahnya masih terus mengalir dan tidak berhenti juga. Ternyata setelah diperika, terdapat luka di liang telinga serta ada gendang telinga yang sobek kecil. Tidak bisa dilakukan apa-apa kecuali memasang tampon di telinganya selama 48 jam. Sebenarnya bisa saja masuk ruang operasi dan menjahit gendang telinganya. Namun kata dokter THT karena masih termasuk balita, maka penyembuhan sendiri akan lebih sempurna dibandingkan operasi.

Pukul 12.50 Seluruh pemeriksaan terhadap diri Varo telah selesai.  Anak ini sudah dinyatakan stabil tetapi tetap perlu dirawat karena harus diobservasi 2 x 24 jam untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.  Sayangnya  semua ruang perawatan RSU ini penuh, sehingga harus pindah rumah sakit. Akhirnya anak ini dipersiapkan untuk pindah. Nah, saat itu si dokter baru ingat kalau ada 3 luka yang mesti dijahit. Dan perjuangan dimulai kembali. Bius lokal yang diberikan rupanya tidak membuat Varo bisa tenang, dia tetap menjerit dan menangis. Saking hebohnya memegang dia, infusnya sampe lepas. Kegiatan jahit-menjahit yang seharusnya sederhana ternyata memakan waktu yang cukup lama. Saya sampai kasian melihat dokter yang menangani sampai bercucuran keringat.

Pukul 13.40. Luka-luka Alvaro sudah selesai dijahit. Lubang telinganya juga telah dipasangkan tampon. Selesai sudah pertolongan pertama untuk anak ini. Baru, deh, saya bisa sedikit menarik nafas lega. Phiuh … berakhir juga mimpi buruk ini di pagi ini. Iseng-iseng saya tanya ke dia,  “Dek, kenapa kamu loncat?” Dengan riangnya dia menjawab, “Kan seperti Hulk, Bu. Bisa loncat dari mana saja ….”

 


27 Comments - Write a Comment

  1. Ya Allah mbak.. jantung ky diremes2 bacanya, makasih ya udah share jadi reminder kalau nonton yang khayal2 sekalian dikasih tau kalau itu cuma di film aja. Tp namanya anak2 ya.. polos bgt T_T Cepet pulih ya Varo..

  2. @lita :
    padahal minggunya kita barusan haha hihi tuh ketemuan di acara pampers :p

    @all :
    alhamdulillah dia skrg sudah sembuh kok. emang efek film banget. nanti emaknya bikin tulisan lagi, latar belakang kejadian ini hihihi

  3. Haiiisshhh, mencelosss bacanya (O_o)
    Tapi denger kalimat akhirnya Alvaro ya nggak nahan buat nyengir juga, hehehe… Cepet sembuh ya… Tenang aja, dulu Tante Amel ini juga pernah gegar otak ringan pas SMA, tapi pas kuliah IPK nya masih kepala 3 kok, mwihihihihi

  4. ya Allah, bacanya sambil merinding en ikutan nangis..
    begitu baca akhirnya, tambah berebes mili, saking polosnya ya anak-anak itu.
    Alhamdulillah, gak ada yang serius ya mak, ga kebayang deh rasanya jadi dirimu yang ngalamin pas saat kejadian :(.
    Gws ya Varo :*
    ati2 ya nak

Post Comment