Menggunakan Antibiotik Secara Bijak

Di tulisan sebelumnya telah dibahas soal lambatnya pengembangan dan produksi obat antibiotik, sekaligus cepatnya resistensi bakteri terbentuk.

Nah sekarang;

Kenapa, sih, yang dibahas cuma penggunaannya pada penyakit selesma dan diare/muntah? Bukannya antibiotik bisa mengobati semua penyakit?

Antibiotik bisa mengobati semua penyakit? Hmmm … kata siapa? :D

Anti-biotik = anti-zat hidup

Penyebab penyakit bermacam-macam, mulai dari bakteri, jamur, parasit (protozoa), sampai virus. Virus tidak masuk dalam kategori hidup, jadi tidak bisa diobati dengan antibiotik. Sementara tidak semua bakteri dan parasit menimbulkan penyakit. Malah sebagian membantu proses dalam tubuh termasuk jadi tentara saat sakit. Jadi, bakteri, jamur, dan parasit yang menyebabkan penyakit dapat diobati dengan antibiotik, tapi konsekuensinya bakteri dan parasit baik ikut terbasmi.

Di sinilah diperlukan kecermatan dalam penggunaan antibiotik. Penyakit harus diidentifikasi dengan jelas terlebih dahulu penyebabnya, baru bisa ditentukan obatnya. Asal tulis resep, asal minum obat, bisa berdampak ke justru terbasminya flora yang baik sehingga malah menurunkan kekebalan tubuh. Minum antibiotik saat tidak diperlukan, sama dengan melemahkan tentara sebelum perang. Coba perhatikan anak atau orang yang setiap sakit minum antibiotik, dijamin habis sembuh sebentar langsung sakit lagi. Bisa sebulan sekali kunjungan ke dokter.

Nah, kesalahan pengobatan paling sering itu di penyakit common cold alias selesma alias batuk pilek biasa, dan diare. Entah dari mana asalnya kok batuk pilek yang penyebabnya jelas virus, jadi diresepkan antibiotik. Apalagi kalau batuk pileknya karena alergi, makin ngga ada obatnya selain menghilangkan pencetusnya. Obat yang diresepkan untuk alergi biasanya hanya untuk meringankan gejala saja. Mengurangi gatal, mengurangi bersin-bersin, mengurangi bengkak, mengurangi merah-merah; tapi tidak menghilangkan alergi itu sendiri.

Batuk pilek sendiri sering disalahkan jadi penyebab radang paru-paru (pneumonia), padahal belum tentu. Sama seperti anak memanjat lemari, rawan jatuh tapi belum tentu jatuh kalau tidak kepleset. Kepleset pun belum tentu jatuh juga, kan?

Sedang sakit batuk pilek memang rawan radang paru (rawan segala jenis penyakit sebenarnya, karena kondisi tubuh memang sedang lemah) bila tertular penyebabnya. Tapi tertular pun belum tentu jadi sakit kalau daya tahan tubuh cukup kuat melawannya. Jadi tidak ada alasan antibiotik diberikan saat batuk pilek untuk mencegah radang paru. Apalagi penyebab radang paru bisa bakteri, bisa jamur, bisa parasit. Nah, kalau asal diberi antibiotik sebelum sakit, gimana kita tahu obatnya cocok atau ngga? Kan sebabnya aja belum tahu. Jangan sampai antibiotik pencegahnya yang untuk bakteri sementara penyebabnya jamur. Jangan sampai juga pencegahnya adalah antibiotik “umum” alias medium/broad spectrum, karena jenis ini akan membasmi semua biotik (termasuk yang baik) ketimbang fokus pada biotik sesuai kompetensinya.

Ingus yang mulai hijau juga bukan tanda tertular bakteri sehingga perlu antibiotik. Hijaunya ingus pertanda populasi bakteri baik yang melawan penyakit mulai banyak, dalam arti penyakit sudah terbasmi. Justru ingus hijau pertanda dalam 3-5 hari lagi akan sembuh. Kecuali kalau penyakitnya ping-pong, ya, ketularan lagi pas mau sembuh karena di rumah/sekitar kita ada yang sakit batuk pilek juga.

FYI lendir sendiri adalah mekanisme sistem pernafasan untuk melakukan ‘pembersihan’ terhadap gangguan tubuh dengan mengikat kotoran dan penyebab penyakit. Gangguannya bisa berupa benda-benda kecil seperti debu kasar, binatang kecil yang masuk saluran nafas, atau kuman. Saat kita tersedak makanan atau kemasukan benda kecil yang masuk dari hidung, kita akan terbatuk atau bersin. Ini merupakan refleks proteksi supaya tidak ada benda asing masuk ke paru. Sama dengan batuk atau pilek, yang sekaligus mengeluarkan kotoran yang terikat lendir.

Kebayang kan apa yang terjadi kalau minum obat yang menghentikan dahak atau lendir tanpa menghilangkan penyebabnya terlebih dahulu? Penyakit tetap tertahan dalam tubuh, tidak bisa keluar karena mekanisme pengeluarannya kita stop.

Jadi kalau batuk pilek obatnya apa? Ngga ada :D kan penyebabnya virus. Obat virus cuma kekebalan tubuh. Jadi, banyak istirahat supaya energi bisa fokus melawan penyakit. Bantu tentara tubuh dengan gizi yang baik dan air/cairan yang banyak untuk transportasi dan perkembangbiakannya. Kami juga sudah pernah, lho, membahas lebih lengkap tentang common cold dan penanganannya.

Virus, kan, ada obatnya? Itu Isoprinosine yang sering diresepkan, dan Tamiflu yang dipakai mengobati flu burung/flu babi.

Tamiflu sebetulnya masih tahap percobaan, dan tingkat keberhasilannya belum 100%. Terindikasi sebetulnya mereka yang sembuh saat diberi Tamiflu, sebetulnya memang daya tahannya yang berhasil melawan virus. Karena banyak juga yang sudah diberi Tamiflu tapi tetap tidak tertolong.

Isoprinosine? Nah yang ini malah obat yang sudah diriset lama tapi masih belum jelas gunanya bisa ngobatin apa. Maksudnya sih jadi imunomodulator, pemicu kekebalan tubuh. Tadinya diriset untuk membantu pengobatan herpes, kanker dan AIDS. Tapi setelah diujicobakan, ternyata hasilnya tidak memuaskan. Tidak jelas yang membaik apakah pasti karena isoprinosine ini. Karena ketidakjelasan ini, isoprinosine sekarang masuk banned-list dari BPOM USA (FDA). Bisa dibaca di sini artikelnya.

Ketiga, terus, kita kudu gimana?

1. Kerjakan PR sebelum ke dokter. Pantau gejala-gejala yang muncul, pantau suhu tubuh si sakit. Bila ada muntah atau perubahan tekstur BAB, catat juga. Sampaikan pada dokter sedetil mungkin.

2. Minta diagnosa tepat kepada dokter. Lakukan tes laboratorium bila perlu, untuk memastikan penyebab penyakit. Jika tidak yakin atas diagnosa dokter, cari 2nd , atau bahkan 3rd opinion. Ini hak kita sebagai pasien, mendapatkan diagnosa yang benar dalam bahasa medis, mendapatkan edukasi tentang apa yang anda derita, berikut terapinya, efek samping sekaligus manfaatnya.

Diagnosa yang benar dalam bahasa medis akan sangat membantu saat kita ikut mencari tahu apa penyebab penyakit dan tatalaksananya. FYI, istilah “radang tenggorokan” atau “gejala tipus” itu tidak ada istilah medisnya, tidak ada penyakit yang namanya itu. Kata “infeksi” juga tidak jelas. Infeksi = sakit. Jadi kalau mulas dan diare terus ke dokter dan dibilang sakit “infeksi lambung” atau “infeksi pencernaan”, itu tidak jelas, lha, wong memang sakit perut/sakit lambung/sakit pencernaan :D. Baru jelas ketika didiagnosa sakit Gastro-Enteritis (GE) dengan penyebab rotavirus, misalnya. Atau sakit Disentri, dengan penyebab bakteri Salmonella. Jadi jelas pula obatnya: GE tidak perlu obat, sementara Disentri perlu antibiotik antibakteri. Baca tatalaksana lengkapnya di artikel kami yang ini, ya.

3. Jangan memaksa dokter untuk memberikan resep antibiotik jika memang tidak memerlukannya atau jika menderita infeksi virus. Antibiotik bukan obat ajaib yang dapat menghilangkan semua penyakit dan dalam waktu sekejap  mata.

4. Sebaliknya, jika memang diagnosa menunjukkan penyakit yang harus dilawan dengan menggunakan antibiotika, jangan menolak peresepannya. Gunakan dengan tepat sesuai dengan petunjuk dokter. Patuhi dosis yang telah diresepkan, baik jumlah obat tiap makan maupun lamanya mengkonsumsi obat. Hilangnya gejala bukan berarti sembuh. Bisa jadi kuman cuma baru ‘pingsan’, belum betul-betul mati. Memberhentikan obat pada saat seperti ini justru membuat kuman mempelajari kekebalan terhadap antibiotik tersebut.

5. Buang sisa obat jika waktu terapi antibiotik sudah selesai, dan antibiotik  masih tersisa. Jangan dipakai untuk sakit yang selanjutnya, apalagi diberikan kepada orang lain. Penyakit yang nampaknya sama, belum tentu penyebabnya sama. Seperti contoh di atas, sama-sama diare tapi penyebabnya yang satu virus yang satu bakteri.

6. Sebagaimana dijelaskan di poin 4, jangan pula meminum antibiotik yang diresepkan untuk orang lain.

7. Bantu jelaskan tentang penggunaan antibiotik yang tepat guna pada orang-orang terdekat. Semakin banyak orang yang aware, semakin kecil kesempatan superbug berkembang dan semakin panjang life-span antibiotika yang sudah ada.

Yuk, mulai sekarang kita telaah baik-baik sebelum mengonsumsi antibiotik. Saya sudah mulai dari beberapa tahun lalu menolak peresepan antibiotik ketika Darris jatuh dan luka sehingga harus dijahit (2008). Saat menjalani operasi caesar Devan (2009) dan Dendra (2012) saya juga menolak antibiotik oral yang diresepkan pascaoperasi. Toh sebelum operasi dilakukan sudah disuntik antibiotik yang lebih kuat dan pascaoperasi pun sebenarnya sudah dapat antibiotik suntik juga. Alhamdulilah selama ini anak-anak sakit batuk-pilek atau diare yang kadang disertai muntah belum pernah sampai perlu antibiotik. Pantau dengan seksama gejala-gejala yang timbul untuk membantu memutuskan perlu antibiotik atau tidak.

 

 

 

sumber:

foto doc pribadi/panitia PESAT SUA

Makalah PESAT SUA

http://www.reactgroup.org/who-we-are.html

http://react-yop.or.id/reactyop/?p=41

http://en.wikipedia.org/wiki/Antibacterial

http://www.biotopics.co.uk/newgcse/microbesanddisease.html

 

 


22 Comments - Write a Comment

  1. artikel ini sangat bagus dan sangat bermanfaat…

    tetapi permasalahan yang saya dapati di indonesia adalah :
    jika kita ke dokter umum karena entah itu batuk, atau batuk pilek, atau batuk jenis apapun
    selalu kebanyakan dokter memberikan antibiotik tanpa pemeriksaan yang memadai…
    kadang, hanya di sentuh-sentuh, di kasih stetoskop sebentar, di tes drah sebentar trus suruh buka lidah dan selesai !

    dapat dah obat antibiotik dan penurun panas…..

    nah sebaliknya ( dan yang lucunya )…
    jika kita ke dokter spesialis yang hebat dan memiliki kemampuan lebih dari hanya dokter umum biasa….
    maka pemeriksaannya saja sudah memakan ongkos yang mahal !

    dan parahnya lagi, jika kita ingin mendapatkan diagnosa yang lebih akurat
    semisal harus tes dahak ke laboratorium untuk mengetahui penyebab penyakit lebih lanjut dan detail agar mendapatkan obat yang pas dan cocok untuk penyakit kita….

    maka di laboratorium harganya bertambah lebih mahal !

    nah kesimpulannya….
    jika kita atau anak kita sakitnya 5x
    maka itu berarti kita harus mengeluarkan ongkos pengobatan yang luar biasa untuk mendapatkan obat yang tepat

    karena menurut pengalaman saya, dokter-dokter sekarang kebanyakan hanya menggunakan ” kira-kira yang mudah ” daripada diagnosa serius dan “menjalankan tugasnya dengan professional ” ….

    nah sementara itu…..
    kalau kita ingin diagnosa yang lebih detail dan detail lagi, maka harus selalu ke laboratorium untuk tes ini dan itu…
    dengan harga yang mahal…

    jadi bagaimana dong ????

Post Comment