Merencanakan Budget Persalinan

Nah … ini dia gongnya! Setelah sembilan bulan si janin ada di perut kita, saatnya tiba untuk dia melihat dunia pertama kali. Waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh para orangtua, dan terutama untuk ibu yang sudah mulai merasa lelah, begah, rasanya nggak sabar, ya, si bayi mungil ini segera keluar.

*Gambar dari sini

Apakah sudah siap dengan biaya persalinannya? Harus, ya. Ingat, kita punya waktu kurang lebih 9 bulan untuk mempersiapkannya. Tidak ada alasan untuk menunda-nunda dan tidak bilang siap.  Idealnya dana melahirkan ini – dan dana masa kehamilan – dipersiapkan sebelum Mommies melahirkan.  Ingat konsep investasi, semakin Mommies bisa menyiapkan lebih awal, relatif semakin ringan dana investasi yang kita keluarkan.

Sekali lagi dan tidak akan bosannya saya mengingatkan, ayoo … cek asuransi dari kantor. Sudah cukup atau belum? Kalau belum, siapkan kekurangannya, ya.  Sangat rugi kalau sampai tidak menggunakan benefit ini, karena ini adalah HAK kita yang diberikan oleh perusahaan.

Adapun untuk menghitung dana melahirkan ini, ada beberapa item yang perlu kita perhatikan, sehingga dana yang kita persiapkan benar-benar dapat menutupi dana yang kita keluarkan:

Pertama adalah rumah sakit dan jenis kamar yang diinginkan. Penting untuk segera melakukan survei karena biaya rumah sakit itu bisa sangat berbeda.  Belum lagi jenis kamar, yang tentunya makin tinggi kelasnya, makin mahal harganya. Untuk yang mendapatkan fasilitas dari kantor, segera cek limit yang diberikan dari kantor untuk biaya melahirkan, ya. Kemudian bandingkan dengan estimasi biaya yang akan dikeluarkan di RS yang sudah dipilih. Jika dana dari perusahaan, segera siapkan selisihnya.

Kedua, penting untuk being conservative. Saya tidak menganjurkan para ibu untuk tidak melahirkan normal, tapi untuk biaya, saya sangat menganjurkan untuk mempersiapkan dana dengan ASUMSI bahwa kelahiran dilakukan dengan bantuan operasi (c-section). Mengapa begitu? Jika Mommies cek biaya persalinan antara c-section dan normal, maka selisihnya akan sangat jauh berbeda, untuk kamar yang sama. Sebagai gambaran saja, di salah satu rumah sakit ibu anak di Jakarta Selatan, untuk kelas I, biaya melahirkan C-section sekitar 20 juta rupiah dan normal adalah 9 juta rupiah. Jadi selisihnya 11 juta rupiah. Bagaimana dengan kamar VIP-nya? Selisihnya hampir 13 juta rupiah. Jauh sekali, kan?  Lebih baik kita mempersiapkan dana yang besar, betul?

Jika Mommies sudah mendapatkan nominal dari biaya melahirkan yang direncanakan, segera – dan sekali lagi segera – disiapkan. Apakah itu angkanya 10 juta, 20 juta, atau 30 juta, Anda sendiri yang dapat menentukan, sesuaikan dengan kemampuan.

Satu lagi yang ingin saya share pada tulisan ini. Saya sangat ingin jadi golongan menengah yang tidak hanya memberdayakan diri sendiri, tapi juga orang lain. Ada satu lagi fasilitas yang bisa digunakan untuk biaya melahirkan, yaitu Jampersal (Jaminan Persalinan).  Fasilitas ini adalah program  yang dibuat oleh pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi angka kematian ibu di Indonesia yang masih tinggi, yaitu 228 per 100.000 kelahiran hidup. Untuk beritanya bisa dicek di situs ini. Sedih, ya … tapi itu kenyataan.

Jampersal ini ditujukan untuk golongan menengah ke bawah, di mana masyarakat tidak perlu mengeluarkan dana melahirkan sepeserpun.  Program ini mencakup 4 kali penggantian biaya pemeriksaan selama hamil, biaya melahirkan, dan biaya pemeriksaan ibu nifas + bayi selama 4 kali.

Jampersal ini ada di puskesmas, bidan desa,  rumah sakit pemerintah, atau institusi swasta yang memang mengikuti program ini. Sayangnya, program ini kurang terdengar gaungnya, padahal sangat bermanfaat, ya.  Jadi saran saya, segera tanyakan kepada puskesmas, atau rumah sakit pemerintah tersebut, mengenai pelayanan jampersal ini. Syaratnya pun tidak sulit, selain rujukan dari bidan/dokter, yang perlu dipersiapkan adalah KTP dan buku nikah.

Jampersal ini bukan program bohongan, lho. OB di kantor kami sudah merasakan manfaatnya. Istrinya diharuskan untuk melahirkan dengan tindakan operasi.  Yang mereka lakukan adalah pindah dari bidan, dan masuk ke RS pemerintah di Jakarta Selatan.  Dan, hasilnya? Seperti yang dijanjikan,  mereka tidak perlu membayar biaya kelahirannya.  So, jangan ragu lagi untuk segera mengecek program ini, ya.  Saya pun sedang melakukan sounding kepada Pak Supir yang juga sedang menanti kelahiran bayinya di pertengahan tahun ini.

Akhir kata, semoga artikel ini bermanfaat, khususnya untuk para ibu dan calon ibu! :)

*Penulis, Reliza Arfiani (Icha) adalah Planer di QM Financial. Icha menyelesaikan S1 di Fakultas Ekonomi jurusan
Akuntansi Universitas Indonesia. Kemudian meneruskan S2 di International
University of Japan di Niigata, Jepang.

 


18 Comments - Write a Comment

Post Comment