Takut Melahirkan!

Kembali aktif posting di thread Pregnancy Mommies Daily dengan kondisi yang juga hamil (lagi :p), membuat beberapa bumil berkomentar “Wah, pasti sudah nggak parno melahirkan lagi, yaa, kan sudah keempat ….”

Uhm … gimana, ya :D

Tiap kehamilan tidak akan sama, begitu juga persalinan. Sebagaimana keluhan tiap kehamilan bisa berbeda-beda, faktor x yang mengiringi tiap persalinan juga belum tentu sama. Saran-saran standar seperti rileks dan berdoa tentunya selalu berusaha saya jalani. Tapi, yaaaa, namapun kental sama takdir, yaaa :p

Di kehamilan yang pertama, mau nggak mau agak terpengaruh sinetron yang tiap ada adegan melahirkan selalu pakai teriak-teriak. Padahal kenyataannya nggak segitunya, lho. Apalagi makin takut sakit, ternyata makin menurunkan pain tolerance kita juga.

Zaman Darris, selama kehamilan Alhamdulilah tidak ada masalah berarti. Paling saat sekitar 4-5 bulan, dokter bilang berat bayi agak di bawah rata-rata. Proses persalinan pun sebenarnya normal walaupun agak lama. Ini wajar, sih, untuk anak pertama. Masih cari jalan keluar katanya :D Cuma karena RS yang saya pilih ternyata nggak sayang ibu (dan bayi), yang ada lamanya proses ini jadi alasan pihak RS untuk memaksa saya menjalani operasi sesar. Dengan ditakut-takuti nanti bayinya meninggal di dalam kalau ngga buru-buru SC (operasi sectio/cesar) frekuensi kontraksi jadi makin amburadul. Untungnya saya ingat syarat-syarat kapan harus SC, jadi saya berani keukeuh menolak selama nggak ada situasi yang darurat.

Setelah memutuskan pindah RS dan dokter, hati mulai tenang dan kontraksi kembali bagus. Apalagi di RS kedua saya ditangani sesuai prosedur, dan saya diyakinkan bahwa saya bisa melahirkan normal karena obgyn sudah memastikan panggul saya cukup saat periksa dalam. Rupanya selain karena anak pertama, Darris juga kesulitan cari jalan karena besarnya 4 kg. Kaget juga saya, karena dari perkiraan sebelumnya cuma 3.3 kg.

Moral story:

1. Kerjakan PR

Banyak baca tentang seluk-beluk persalinan, baik normal maupun SC. Baca juga tentang kapan harus memutuskan SC, kapan masih bisa terus mencoba normal. Mengerti tentang prosedur membantu menyiapkan mental karena udah kebayang apa yang akan dijalani. O, ya baca juga komplikasi yang umum sehubungan dengan persalinan dini, seperti: pre-eklamsia, IUGR (intra-uterine growth restriction/terhambatnya perkembangan janin), placenta previa, pecah ketuban, dan kontraksi dini.

2. Teliti memilih RS/RSB

Jangan terlalu berpatokan pada harga yang murah karena murah bisa jadi kompensasi dari komisi penjualan susu formula, over-medicating, dan over-treatment seperti yang saya alami. RS yang komersil, biasanya menekan staf untuk jadi komersil juga.

Hamil kedua, dari pertengahan hamil sudah terbaca kalau posisi bayi selalu sungsang. Tiap USG, Dellynn nggak pernah terlihat di posisi yang benar. Walau dokter selalu menjawab tidak ada masalah tiap saya tanya apa terlihat lilitan, tapi entah gimana saya merasa bayi memang terlilit tali pusat atau talinya terlalu pendek. Selama minggu-minggu terakhir kehamilan saya juga terapi sujud. Terapi ini sempat saya lakukan juga pada kehamilan pertama dan sukses. Kali ini rupanya Dellynn sendiri kesulitan mengubah posisinya walau saya sudah terapi sampai beberapa kali mimisan. Saya juga menyiapkan mental untuk persalinan normal dengan bayi sungsang, mulai baca-baca sharing dan artikelnya. Walau saya prioritaskan persalinan normal, tapi SC juga menjadi alternatif pilihan dengan kondisi ini.

Sampai due-date, saya tidak mengalami kontraksi sama sekali dan bayi juga posisinya masih tinggi. Setelah ditunggu sampai H+8 dan tidak ada perubahan posisi, akhirnya saya memutuskan menjalani SC. Apalagi setelah dicek via CTG, jantung bayi detaknya agak kacau. Saat SC baru ketahuan ternyata Dellynn terlilit 2 lilitan di leher dan sisa tali pusat cukup pendek sehingga tidak memungkinkan dia turun ke jalan lahir.

Moral story:

1. Terus berusaha menjalani proses persalinan normal itu bagus dan sehat, tetapi perlu dipertimbangkan juga kondisi si bayi.

2. Tetap waspada akan kemungkinan penyulit persalinan yang bisa timbul secara mendadak. Cari info terapinya bila ada. Tapi bila terapi tidak berhasil, jangan salahkan diri sendiri karena semua di luar kontrol kita. Depresi juga tidak baik untuk janin, lho.

3. Penyulit persalinan seperti posisi bayi sungsang atau melintang, lilitan tali pusat, melintirnya tali pusat, dll tidak berhubungan dengan aktivitas atau kegiatan ibu semasa hamil. Sementara faktor penyulit yang bersifat bawaan seperti kekentalan darah, panggul sempit, dan penyakit seperti hipertensi, diabetes yang hanya timbul ketika hamil juga susah dihindari kalau secara riwayat keluarga memang ada keturunan. Namun bila hal ini diketahui sebelumnya, dapat dilakukan tindakan atau pemberian obat untuk meringankan gejala sehingga mengurangi bahaya yang ditimbulkan.
 
 

Kehamilan ketiga sangat saya pantau dan jaga karena saya berencana melakukan VBAC (persalinan normal pasca SC). Perkembangan bayi sangat normal, as if it grows by the book. Plek banget sama artikel perkembangan janin. Tapi berhubung manusia hanya bisa berencana sementara Tuhan Maha Menentukan, tiba-tiba dari berat 2,5 kg di minggu ke-35 jadi 3,2 kg di minggu berikutnya. 700 gram hanya dalam seminggu. Obgyn yang saya incar untuk membantu VBAC mulai pasang lampu kuning, nggak mau VBAC kalau berat bayi lebih dari 3,5 kg.

Tiga hari kemudian saya cari second opinion obgyn yang mau bantu dengan syarat yang lebih longgar. Dokter kedua syaratnya bayi tidak lebih dari rekor persalinan normal yang pernah dijalani. Oke, berarti bisa sampai 4 kg. Masalahnyaaa … dari USG bayi sudah naik lagi jadi 3,7 kg padahal baru 36,5 minggu. Karena percuma ditunggu sampai 40 minggu pun bakal kegedean dan nggak mungkin VBAC, akhirnya saya putuskan SC lagi di minggu berikutnya. Sempat mikir jangan-jangan dua obgyn ini salah hitung waktu USG, ternyata berat Devan saat lahir memang 4 kg di 37,5 minggu.

Moral story:

1. Siapkan mental atas perubahan rencana mendadak dan tanamkan bahwa persalinan normal atau SC sama saja, yang penting sehat dan selamat baik ibu dan bayi. Kehamilan dan persalinan merupakan situasi yang diluar kontrol manusia. Sampai saat ini belum ada yang bisa dilakukan selama kehamilan yang dapat menjamin persalinan nanti bisa normal. Bahkan kadang sudah dijadwal SC tanggal sekian, akhirnya lahir lebih dulu dari jadwal.
Rileks juga berperan penting dalam lancarnya proses persalinan. Pada persalinan normal, rileks membantu keteraturan kontraksi. Sedangkan pada SC, rileks menjaga stabilnya detak jantung dan tekanan darah sehingga memperkecil kemungkinan komplikasi.

2. Jangan sungkan mencari second opinion bila sekiranya kurang sreg dengan diagnosa obgyn yang biasa didatangi. Ganti dokter pada tahap manapun dari kehamilan tidak masalah, apalagi bila selama kehamilan sehat-sehat saja. Ada masalahpun, tinggal sampaikan saja riwayatnya pada obgyn yang baru. Saya bahkan ganti obgyn saat sudah bukaan 5 :D Lebih baik ganti dokter tapi hati tenang ketimbang bertahan karena sungkan tapi ngga sreg dengan tindakan dan rekomendasi yang diberikan.

*Dengan member FD; kiri dengan Mizz_Rainy pasca persalinan, kanan dengan princip3sa

Memasuki usia 30-an, kehamilan keempat saya terasa lebih berat. Ketidaknyamanan yang biasa mengiringinya, kali ini terasa lebih parah. Fisik pun rasanya lebih drop ketimbang yang lalu. Secara psikis, entah kenapa risiko kelainan pada janin terus mengganggu pikiran saya. Padahal masih jauh lebih aman ketimbang ibu yang hamil ketika sudah kepala empat. Hasil USG yang selalu baik tidak mengurangi kegelisahan saya.

Selain sibuk memikirkan kondisi janin, saya juga kepikiran tentang kondisi saya sendiri nanti pasca persalinan. Akankah saya baik-baik saja seperti ‘biasanya’? Apalagi selama saya hamil kemarin beberapa kali ada berita tentang komplikasi pasca SC dan steril–seperti yang hendak saya jalani.
Kebetulan diantara teman FD yang satu BBGrup, ada dua yang juga sedang hamil dan hanya beda beberapa minggu dari saya. Sharing dan saling memberi semangat dengan merekalah yang membantu mengurangi kekhawatiran saya. Grup saya yang lain juga membantu mengalihkan pikiran saya dari ketakutan yang sebenarnya kurang rasional. Empat kali hamil ternyata tidak membuat saya lebih ‘dewasa’ menghadapi persalinan, ya :D

Moral story:

1. Gabung dengan para mom-to-be lain yang hamilnya seumuran. Saling sharing perkembangan kehamilan dan melihat rekan seperjuangan satu-satu lulus dan punya bayi juga membantu mengurangi ketakutan, lho. Yang ada kita jadi ikut nggak sabar pengen cepet punya bayi juga. Di Mommiesdaily ada threadnya tuh, dibagi per trimester. Dengan saling sharing saling memberi semangat, kita juga jadi tahu bahwa sebagian besar kekhawatiran kita selama kehamilan dan menjelang persalinan adalah hal normal yang juga dialami oleh ibu hamil lain.

2. Sebaliknya, jaga jarak dengan orang-orang yang berpotensi bikin gregetan. Hormon twist membuat ibu hamil jadi seperti PMS selama sembilan bulan. Jadi demi ketenangan batin, sedapat mungkin menghindari interaksi dengan orang-orang yang komentarnya suka bikin sepet atau makin bikin parno.

3. Fokuskan pikiran ke bayi. Bayi yang sudah ditunggu berbulan-bulan, tumbuh di dalam diri kita, tapi rupanya kayak gimana aja kita ngga tahu. Penasaran, kan? Nah, tanpa melalui persalinan, gimana bayi mau keluar? Seperti ibu saya selalu bilang saat saya parno di kehamilan pertama saya, “Sudah keburu hamil, memang mau nggak dikeluarkan?” Hihihihi.

Terakhir, banyak banyak banyak berdoa. Proses persalinan cuma Tuhan yang tahu.

Selamat menjalani kehamilan dan persalinan dengan lancar ya Mommies. Ibu dan anak sehat selalu, dan ibu diberkahi proses penyembuhan yang cepat.


43 Comments - Write a Comment

Post Comment