Teman Berjuang di Ruang Melahirkan

Bagi semua perempuan, pengalaman melahirkan merupakan pengalaman yang tiada duanya. Baik itu proses melahirkan normal, dengan operasi C-section, water birth, induksi, dll, semua tetap memberikan pengalaman tak terlupakan.

Nah, saat berbicara tentang pengalaman melahirkan, kita pasti tak bisa melupakan peran orang-orang yang mendampingi kita. Entah itu pasangan, orangtua, saudara maupun sahabat. Saya yakin, semua ibu pasti ingin didampingi saat melalui proses melahirkan. Terutama para rookie moms alias ibu baru. Sayangnya, tak semua bisa mendapatkannya.

Saat saya melahirkan, saya cukup beruntung bisa ditemani suami sejak saya mulai diinduksi hingga Nadira lahir 19 jam kemudian. Mama dan ibu mertua saya sempat menemani sebentar. Tapi keduanya tak bisa menemani terus menerus karena satu dan lain hal. Adik dan sepupu saya juga sempat datang, namun tidak menemani secara penuh karena masing-masing punya keluarga.

Nah, kalau dibeberkan, kira-kira menurut saya, inilah daftar orang yang saya inginkan untuk hadir saat saya melahirkan (lagi? Amin saja, deh. Hehehe.)

Suami

Bagi saya, ini sudah tak bisa ditawar lagi ya. “Bikin”-nya saja berdua, awas, deh, kalau suami nggak mau menemani saat proses melahirkannya datang. Untunglah, suami saya tidak bekerja di luar negeri/kota, dan waktu melahirkan Nadira dulu meleset dua hari dari perkiraan due date. Jadi suami bisa menyiapkan jadwal cutinya terlebih dahulu. Bahkan karena saya diinduksi pukul 17.00, suami saya sempat memimpin rapat dulu di kantornya.

Suami juga yang jadi objek penderita saat saya mulai merasa kontraksi. Dia jadi tukang pijat dan elus sekaligus samsak saat saya amat kesakitan kala kontraksi kian sering dan saya merasa ingin menonjok seseorang, hehehe. Tangannya juga sampai pegal karena saya remas sekuat tenaga saat kontraksi dan mulas kian parah. Selanjutnya, suami bertugas mengawasi plus memotret bayi saat diukur dan ditimbang, supaya tidak tertukar seperti kasus Cipluk dan Dewi itu, lho.

Biasanya, saat proses melahirkan (kecuali C-section yang tidak memperbolehkan suami dan kerabat ikut ke dalam ruang operasi), dokter dan suster akan bertanya, apakah suami kuat menemani istrinya selama melahirkan? Pasalnya, dokter dan suster hanya siap merawat 1 pasien, yakni sang istri. Jika si suami pingsan saat melihat darah, itu akan menyulitkan bukan?

Untung, sih, saat saya melahirkan, suami nggak pingsan sama sekali. Dia malah tough banget, bahkan mencuci plasenta anaknya sendiri. Tapi dalam beberapa kasus teman dan kerabat, banyak ditemui kasus saat suami menemani istri melahirkan, eh suaminya malah pingsan.

Alhasil, suasana pun jadi kacau. Begitu proses melahirkan selesai, istri dengan gagah perkasa menyambut tamu. Sementara sang suami tiduran di tempat tidur RS.

Jadi buat para suami, jika nggak yakin kuat, lebih baik nggak usah menemani istri melahirkan ya. Daripada bikin repot kan?

Orangtua

Mungkin karena saya sangat dekat dengan Mama saya, jadi saya pun senang saat Mama menunggui saya tanpa diminta. Tapi saya juga paham saat Mama saya memilih keluar dari ruang melahirkan. Saat itu, saya sudah sampai bukaan 5-6, dengan kontraksi hebat akibat pengaruh induksi.

Mama saya, sambil berlinangan air mata, meminta maaf tidak bisa menemani saya ‘berjuang’ sampai selesai. “Mama nggak tega lihat kamu kesakitan begini,” tuturnya sambil menangis.

Duh, kalau nanti Nadira melahirkan, mungkin saya juga bakal begitu ya. Liat dia sakit pilek saja rasanya ingin penyakit itu dipindahkan ke saya. Hiks.

Sahabat

Di sini termasuk adik saya, ya. Kehadiran sahabat itu lumayan menenangkan, lho. Apalagi jika orangnya tipe yang ceria. Insya Allah dengan kehadiran mereka, mules-mules dan hantaman kontraksi bisa diredakan sedikit. Selain itu, kalau sang sahabat pernah melahirkan, dia biasanya akan lebih sigap dan pengertian dengan kondisi kita.

Tapi lagi-lagi, saya sih nggak terlalu bermasalah jika mereka tidak hadir, apalagi jika mereka sudah punya keluarga masing-masing. Lagi pula, jika terlalu banyak orang di ruang melahirkan, biasanya diusir dokter dan suster ya, hehehe.

Nah, itulah daftar orang yang saya inginkan untuk menemani saat saya melahirkan. Di forum Who do you want to be there in the delivery room, diskusinya seru, deh! Bagaimana dengan Mommies? Sharing, yuk!

 


39 Comments - Write a Comment

  1. Dari bukaan 3 (mulai masuk RS) sampe bukaan lengkap ditunggui suami. Tapi begitu mau melahirkan, suami melipir ke luar digantikan Mama dan adik gue (perempuan umur 21 thn yang pemberani). Dari awal emang suami udah bilang gak akan bisa nemenin gue ngelahirin, bisa pingsan dia.

    Meskipun gue pernah melahirkan, pas adik ipar gue melahirkan, gue kan nemenin di dalem, ternyata gue cuman punya keberanian ngeliat bentar, abis itu gue ketakutan sendiri. Ternyata mengerikan proses melahirkan itu..
    Ugh, tambah serem deh mo hamil lagi.

    1. Bagusnya sih lakilo udah confess duluan ya Pai, gak sok kuat-kuatin. Daripada pingsan kan ngeribetin hehehe.. Gue juga kayaknya nggak bakal kuat nemenin orang melahirkan. Wong kalo liat orang hamil tua aja perut gue suka mules duluan rasanya -__-

Post Comment