Smart Use of Antibiotics

Tanggal 19 Mei lalu Mommiesdaily diundang mengikuti seminar PESAT yang diadakan oleh YOP (Yayasan Orangtua Peduli). Mungkin banyak dari Mommies yang sudah familiar dengan PESAT dan YOP, atau malah sudah lama menjadi member dari Milis Sehat dan sudah menjadi pasien yang RUM (rational uses of medicine). Cukup mencengangkan, ya, fakta-fakta yang dipaparkan tentang penyakit anak dan pengobatannya :D Sudah mempraktikkannya?

Berbeda dengan PESAT yang biasanya diadakan secara rutin dengan mengusung pembahasan tentang penanganan penyakit umum anak dan keluarga, PESAT kali ini spesifik mengenai antibiotik (dibawakan oleh dr. Ardiana Kusumaningrum/Arum). Dengan nama PESAT SUA, Smart Use of Antibiotics, di Indonesia kampanyenya dikaitkan dengan dua penyakit umum yaitu common cold/selesma (dibawakan oleh dr. Yoga Pranata) dan diare (dibawakan oleh dr. Windhi Kresnawati).

PESAT ini diadakan berkaitan dengan gerakan yang sedang dirintis oleh organisasi independen ReAct untuk membuka mata mengenai bahaya dari penggunaan antibiotik yang berlebihan. Gerakan ini telah meluas dan sukses mengurangi penggunaan antibiotika secara irasional di beberapa negara. Salah satunya, pemerintah Thailand yang sukses mengurangi peresepan antibiotik, terutama untuk common cold (selesma), diare, dan luka sederhana (simple wound). Dengan cara ini Thailand bisa menekan pertumbuhan bakteri superbug dan menghemat jutaan bath pengeluaran rakyatnya untuk antibiotik yang tidak perlu.

Kenapa, sih, yang dibahas cuma penggunaannya di penyakit selesma dan diare/muntah? Bukannya antibiotik bisa mengobati semua penyakit?

Terus, kita kudu gimana?

Yuk, dibahas :)

Pertama, kenapa harus SUA? Ada apa, sih, kok baru ribut soal antibiotik sekarang? Apa itu superbug?

Antibiotik, pada abad 20, merupakan salah satu penemuan penting yang secara signifikan meningkatkan kualitas dan harapan hidup manusia dengan kemampuannya menyembuhkan dari penyakit-penyakit yang menjadi momok kematian. Tonggaknya dimulai setelah penisilin bisa diisolir sebagai penghambat pertumbuhan jamur dalam penemuan Alexander Fleming pada tahun 1928. Sejak saat itu pengembangan dan produksi antibiotika meluas bersamaan dengan penggunaan/peresepannya. Hampir setiap penyakit diresepkan antibiotik, dan antibiotik segera menjadi ‘obat dewa’.

Baru pada 1943, resistensi bakteri didemonstrasikan melalui eksperimen  Luria–Delbrück. Resistensi, atau kekebalan, ini biasanya didapat bakteri melalui horizontal gene transfer (HGT). HGT adalah proses transfer dimana sebuah bakteri memasukkan sebagian kode genetiknya ke bakteri lain atau ke sel hostnya (sel yang terinfeksi bakteri). Sederhananya, bakteri A yang memiliki kekebalan terhadap antibiotik X dapat menularkan kekebalannya tersebut pada bakteri B. Proses transfer ini bisa searah, bisa juga dua arah. Pada waktu yang sama bakteri B juga mentransfer kekebalannya terhadap antibiotik Y kepada bakteri A. Jadi yang tadinya ada dua bakteri dimana yang satu kebal AB X satunya kebal AB Y, malah akhirnya ada dua bakteri yang keduanya kebal AB X dan Y. The Superbugs.

HGT lebih banyak terjadi di tempat di mana antibiotik digunakan secara luas. Contohnya, rumah sakit atau klinik. Ini sebabnya kenapa jika tidak terlalu perlu opname atau masih bisa dilakukan pengobatan di rumah (home treatment), penderita tidak perlu dibawa ke RS. Apalagi bila penderita masih anak-anak yang sistem kekebalan tubuhnya masih dalam perkambangan, rentan tertular superbug. Kondisi yang sama bisa terjadi di luar RS juga. Dalam lingkungan sederhana seperti TK (taman kanak-kanak) pun, kondisi seperti ini bisa terjadi. Bila sebagian besar murid adalah ‘pengguna’ antibiotik rutin, yang setiap bulan rutin sakit batuk pilek, lalu rutin berkunjung ke dokter dan rutin minum antibiotik (walau salah dan tidak perlu!), superbug akan dengan mudah berkembang. Tandanya? Penyakit lebih lama sembuh, dan gejalanya lebih parah. Sedih, ya, yang nggak smart using antibiotics orang lain, tapi kita dan keluarga kita juga bisa terkena efeknya :(

Di sisi lain, ‘rutin’ sakit juga efek dari penggunaan antibiotik yang salah. Gimana salahnya? Nanti dibahas di bagian dua, ya.

O, ya, selain penggunaan antibiotik yang irasional, pembentukan kekebalan kuman juga bisa dipicu oleh pemakaian zat-zat antibakteri atau antiseptik sehari-hari seperti sabun mandi, sabun cuci tangan, sampo, pewangi pakaian, dll. Zat yang tadinya hanya digunakan pada waktu tertentu yang membutuhkan sterilisasi atau higienitas ekstra, jadi kebiasaan sehari-hari. Akibatnya kuman juga punya banyak kesempatan belajar membangun kekebalan yang lebih. Akibatnya saat tubuh kurang fit dan jadi sakit, alih-alih tertular kuman yang gampang dikalahkan, jadi tertular kuman yang lebih kompleks. Sakit jadi lebih lama dan gejala jadi lebih berat.

Ini daftar beberapa bakteri superbug:

  • MRSA = methicillin/oxacillin-resistant Staphylococcus aureus
  • VRE = vancomycin-resistant enterococci
  • ESBLs = extended-spectrum beta-lactamases (yang resisten terhadap cephalosporins dan monobactams)
  • PRSP = penicillin-resistant Streptococcus pneumoniae
  • CRKP = Carbapenem-Resistant Klebsiella pneumoniae
  • G3CREC = Third generation Cephalosporin-resistant Escherichia coli

Makin ke sini kecepatan pengembangan dan produksi jenis antibiotik baru makin menurun dengan drastis. Sejak paten dan produksi untuk Nystatin (antibiotik anti jamur) berlaku mulai 1957, baru pada 1981 ada paten baru yaitu Amoxicillin. Ini pun baru 1998 dijual secara luas. Ada jeda 40 tahun untuk satu jenis antibiotik baru bisa kita gunakan dalam pengobatan. Dan ya, saya sendiri baru tahu ternyata Amoxicillin itu obat baru. Sangat menjelaskan kenapa sejak tahun 2000-an segala penyakit resepnya amox :D

Sekarang ini hanya lima perusahaan farmasi yang masih mengembangkan antibiotik, yaitu GlaxoSmithKline, Novartis, AstraZeneca, Merck, and Pfizer. Produksi antibiotik sudah bukan investasi yang menguntungkan lagi dengan biaya pengembangan yang sekarang sudah menggembung menjadi USD 1.5 Milyar dollar dari ’hanya’ USD 100 juta 20 tahun yang lalu. Life span antibiotik juga jadi sangat pendek akibat resistensi. Bila pencegahan resistensi tidak segera dilakukan, dengan cepat antibiotik terbaru pun akan tidak berguna padahal pabrik pengembangnya belum tentu sudah balik modal.

Bayangkan apa yang terjadi bila transfer kekebalan ini dilakukan secara luas, ditambah lambatnya pengembangan antibiotik baru. Antibiotik yang murah sudah tidak mempan. Padahal antibiotik itu mahal, sehari bisa menghabiskan 3-5 juta rupiah, belum lagi obat non-antibiotiknya. Mahal, ya, yang harus dibayar hanya karena not-smart using antibiotics. Tapi itu belum seberapa dibanding bila ini terus terjadi.

Pada akhirnya, tidak ada lagi antibiotik yang manjur. Tidak ada obat.

Inilah alasan kenapa sebagai konsumen medis kita harus mulai SUA, Smart Using Antibiotics.

(bersambung ke bagian 2)

 

 

 

sumber:

foto doc pribadi/panitia PESAT SUA

Makalah PESAT SUA

http://www.reactgroup.org/who-we-are.html

http://react-yop.or.id/reactyop/?p=41

http://en.wikipedia.org/wiki/Antibacterial

http://www.biotopics.co.uk/newgcse/microbesanddisease.html