Pesat 13 Jakarta: Kesehatan Gigi Anak

Sabtu, 2 Juni 2012 lalu bertempat di Jakarta Design Center, sesi pertama Pesat 13 Jakarta digelar dengan topik bahasan Mikroba, Penggunaan Antibiotik yang Tepat dan Penggunaan Obat Secara Rasional, Muntah, Diare, Konstipasi dan Gastro Entritis, serta Perawatan Kesehatan Gigi Anak. Rasanya untuk topik diare sudah sering dibahas, di artikel PESAT seperti Common Problems di Pesat 2 Bekasi dan juga artikel Hal Penting Seputar Diare. Begitu juga dengan antibiotik, kami sudah menerbitkan beberapa artikel seperti Antibiotik, Patient Safety dan Puyer di Pesat Bekasi, Pesat 6 Jawa Timur: Antibiotik, RUM, dan Pendidikan Seks Untuk Anak, serta Belajar Tentang Antibiotik. Jadi sekarang saya akan share ilmu yang didapat dari Pesat 13 Jakarta mengenai Perawatan Kesehatan Gigi Anak.

Sesi yang diisi drg. Nieka Adhara W, SpKGA membuat saya takjub dari awal sampai akhir. Banyak banget poin yang dijelaskan oleh dr. Nieka yang sebenarnya sudah tahu tapi pas diterangkan langsung baru terasa gongnya. Berikut isi sesi tersebut:

– Tumbuh kembang rongga mulut diawali sejak 4 minggu dalam kandungan

– Tumbuh kembang gigi itu bertahap, dimulai dari usia 8 minggu dalam kandungan

– Apa yang bisa terjadi pada gigi dan mulut anak? Kelainan dan penyakit. Contoh penyakit gigi: gingivitis, karies gigi, maloklusi. Penyakit gigi ini bisa dicegah asal kita tahu caranya.

Gingivitis = peradangan gusi. Penyebabnya ada dua: lokal (plak dan kalkulus) serta sistemik (obat-obatan tertentu). Plak adalah deposit lunak di permukaan gigi yang mengandung bakteri (+/- 400 spesies) dan produknya, serta cairan mulut/saliva.

–  Karies gigi = proses kerusakan yang menyebabkan demineralisasi email gigi sehingga mengakibatkan kerusakan yang berlanjut pada email dan dentin.

– Untuk anak usia dini, faktor yang bisa memicu karies gigi antara lain: penggunaan botol untuk pemberian susu saat mau tidur atau terjaga tengah malam dan riwayat kerusakan gigi karena penggunaan botol susu (jadi sudah pernah terjadi tapi penggunaan botol masih diteruskan).

Fungsi gigi susu: untuk pelafalan kalimat, mengunyah, estetika, dan menjaga ruang untuk erupsi gigi tetap.

– Karies gigi saat gigi susu berisiko untuk: menurunkan fungsi gigi karena ngilu anak jadi malas mengunyah, selera makan menurun, gigi tanggal lebih cepat (komplikasi lebih lanjut), dan risiko karies gigi muncul saat gigi sudah berganti menjadi gigi tetap lebih tinggi.

Kewajiban orangtua:

1. Prosedur pembersihan rongga mulut sejak dini. Usia 0 bulan dengan kasa atau waslap dan air matang, gigi pertama tumbuh atau 6 bulan dengan menyikat gigi, dibantu sampai usia 8 tahun.

2. Pola makan yang benar. Termasuk untuk busui, lho! Anak yang ASI eksklusif juga berisiko mengalami karies gigi kalau ternyata si ibu banyak mengonsumsi makanan manis. Hindari camilan manis, ya, Mommies :)

3. Penggunaan pasta gigi dengan flourida (penggunaan di bawah usia 2 tahun untuk anak dengan risiko karies sedang-tinggi).

4. Membawa anak ke dokter gigi 6 bulan setelah gigi pertama keluar atau tidak lebih dari usia 12 bulan.

– Pemilihan sikat gigi: kepala sikat kecil dan bulu sikat halus serta rata

– Pola makan/diet yang disarankan:

1. Ibu Menyusui: hindari makanan dan minuman dengan kandungan gula tinggi sebagai selingan, perbanyak sayur dan buah, hindari penggunaan alat makan bersama.

2. Bayi/anak: hindari penggunaan botol susu atau sippy cup di atas usia 1 tahun terutama sebagai pengantar tidur, perbanyak selingan sayur dan buah terutama yang menstimulasi gerakan mengunyah, hindari camilan yang kandungan gulanya tinggi, lunak, dan lengket seperti biskuit.

Kewajiban dokter gigi:

1. Menganalisa faktor risiko terjadinya karies gigi

2. Merencanakan perawatan pencegahan, meliputi oral profilaksis berkala, fluoride topikal, kontrol diet, pit dan fissure sealant

3. Memberikan instruksi pemeliharaan rongga mulut di rumah

4. Merencanakan kunjungan berikutnya

Maloklusi adalah tidak teraturnya susunan gigi dan hubungan rahang atas dengan rahang bawah. Penyebabnya: keturunan dan dapatan alias kebiasaan buruk seperti penggunaan dot, mengisap jari, menggigit bibir, dan bernapas melalui mulut.

– Perawatan maloklusi: preventif dan interseptif. Preventif misalnya dengan memasang “space maintainer” bila gigi susu tanggal lebih dini dan interseptif adalah untuk mencegah kelainan oklusi bertambah berat.

– Maloklusi juga bisa dicegah dengan menghentikan kebiasaan buruk oral, memberikan buah tidak dalam bentuk jus agar anak mau mengunyah, dan pemberian tekstur makanan sesuai dengan tingkatan usia, mulai 1 tahun sudah mengonsumsi makanan “dewasa”.

Kunjungan ke dokter gigi:

1. Di bawah usia 3 tahun – pasti menangis, orangtua harus siap mental *nyengir*

2. Di atas usia 3 tahun – (mudah-mudahan) lebih mudah karena sudah bisa diajak komunikasi

Kiat mengajak anak ke dokter gigi:

1. Anak dalam kondisi sehat

2. Tidak berdekatan dengan waktu istirahat anak

3. Perlihatkan ekspresi positif

4. Hindari ancaman atau kalimat menakutkan seperti suntik, cabut, bor.

5. Persiapkan anak dengan mengenalkan profesi dokter gigi melalui buku cerita atau film

6. Jangan memaksakan perawatan selesai pada kunjungan pertama, diskusi dengan dokter gigi

Nah, gimana Mommies? Saya sengaja memberikan warna oranye untuk beberapa poin yang saya anggap sangat penting dalam menjaga kesehatan gigi anak. Dulu saya nggak tahu, tuh, perihal risiko karies gigi pada anak bisa berakibat jangka panjang sampai memengaruhi gigi dewasanya. Saya pikir karies gigi susu, ya, akan berhenti sampai gigi tersebut berganti dengan gigi dewasa. Benar-benar membuka mata bangetlah sesi drg. Nieka itu. Jadi, untuk Mommies yang belum pernah mengajak si kecil ke dokter gigi … yuk, bikin janji segera. Rawat “harta karun” itu sejak dini.

 

 

 

 


6 Comments - Write a Comment

  1. Hai Wikans, info Pesat didapat dari Milis Sehat. Untuk Pesat 13 Jakarta ini sesinya sudah penuh sampai akhir :)
    Informasi Pesat 13 Jakarta bisa dilihat di situsnya, klik banner Pesat 13 Jakarta di homepage Mommies Daily saja.

Post Comment