Piknik ke Ancol, Yuk!

Activity & Destination

irasistible・07 Jun 2012

detail-thumb

Pekan lalu, saya sempat memutar otak mencari ide untuk menghabiskan long weekend. Pasalnya, saya cuma kebagian libur hari Kamisnya saja. Pada Jumat dan Sabtu saya tetap harus masuk kerja. Sementara suami sih ikut menikmati libur panjang dari Kamis hingga Sabtu.

Karena jadwal libur kami yang nggak kompak, tentu saja kami nggak mungkin ber-long weekend ria ke luar kota, meski dekat. Apalagi suami saya itu sebenarnya paling malas traveling. Ditambah fakta bahwa ke luar kota saat long weekend = macet luar biasa, opsi plesir ke Bandung, Anyer, atau Puncak pun langsung dicoret.

Tiba-tiba saya punya ide untuk ke Ancol pagi-pagi. Ya, sebenarnya ide ini nggak baru-baru banget sih. Saya dan suami sudah sering berwacana ke Ancol Subuh-subuh demi menghirup udara segar dan sekadar refreshing. Ealah, kok setiap hari libur datang, rasanya malas sekali bangun pagi hanya untuk pergi jalan-jalan. Tapi mumpung long weekend, akhirnya kami pun memantapkan hati untuk pergi.

Jadilah kami berangkat ke Ancol, beserta keluarga mertua dan para ART yang tertarik untuk ikut. Saya sih senang, karena the more the merrier, right? Lagi pula lumayan, saya nggak gempor sendirian mengasuh Nadira. Jarang-jarang bisa wisata sambil santai tanpa diganduli anak, hehehe.

Kami sampai di pintu gerbang Ancol sekitar pukul 06.00 WIB. Jam segini sudah termasuk kesiangan, lho, karena begitu kami masuk, kawasan pantai sudah ramai. Lokasi-lokasi strategis, terutama yang teduh, tidak terlalu jauh dari restoran serta dekat dengan toilet dan tempat bilas, sudah penuh. Terpaksalah kami mencari tempat yang lain.

Lalu ngapain saja di Ancol?

Berhubung kami cuma ingin piknik di pantai, kami nggak niat untuk masuk ke wahana-wahana yang ada. Jadi kami cuma berbekal baju+sendal santai (bahkan saya, suami, Nadira dan si Mbak belum mandi!) dan tak lupa membawa perlengkapan main pasir milik Nadira.

ART saya dan ART mertua (yang kebetulan adik-kakak) pun tampak sangat menikmati pantai. Mereka asyik menangkapi ikan, kepiting dan udang yang ada di pantai dan mudah diambil. Semua tangkapan itu disatukan di dalam ember yang kemudian kami lepas lagi. Habis, nggak kebayang, deh, kalau disuruh makan ikan, kepiting dan udang itu. Kan Teluk Jakarta dikenal dengan tingkat polusi yang tinggi. Jadi acara tangkap-tangkapannya cuma buat senang-senang aja :)

Setelah selesai menangkap ikan, kami pun sarapan. Di sinilah kedodolan saya. Saya lupa bawa tikar! Sementara di Ancol kemarin, saya tidak menemukan sewa tikar sama sekali. Untunglah, di Ancol banyak tersedia tempat duduk di lokasi-lokasi teduh. Akhirnya kami menggelar makanan di sana. Asyik banget deh, pagi-pagi sambil menghirup udara segar, kami menyantap nasi uduk dan lauk pauk yang saya masak semalam.

Meski awalnya cranky, setelah sarapan, Nadira mulai berani bereksplorasi. Melihat itu, suami saya mengusulkan agar kami naik perahu. Kebetulan, sejak kami datang, beberapa tukang perahu telah menawarkan wisata naik perahu milik mereka. Setelah negosiasi, kami bisa naik perahu dengan biaya Rp 75 ribu/perahu. Sebelumnya, rata-rata harga yang ditawarkan adalah Rp 100 ribu/perahu atau Rp 20 ribu/orang.

Rutenya, sih, dekat, cuma ke arah Putri Duyung dan keliling sebentar, sambil iseng menangkap ikan dengan jaring punya si pemilik perahu. Nggak sampai 30 menit, kami sudah kembali ke lokasi awal. Meski sederhana, tapi Nadira dan para ART gembira luar biasa. It was a new experience for them.

Total kami cuma menghabiskan waktu sebanyak 5 jam saja di Ancol, itupun sudah termasuk perjalanan pulang dan pergi. Tanpa kena macet, tanpa stres. Alternatif yang oke bukan untuk mengisi akhir pekan?

Biayanya?

Pada akhir pekan, Ancol memberikan diskon untuk pengunjung yang masuk ke kawasan tersebut sebelum pukul 08.00 WIB. Namun karena kami ke Ancol pada hari Kamis (meski hari libur, sih), penjaga tiketnya mengenakan tarif penuh bagi kami. Rp 15 ribu/orang (di atas 3 tahun) dan Rp 20 ribu/mobil. Ya sudah lah ya. Daripada bermacet ria ke luar kota, biaya segitu sih lumayan affordable kok.

Next time, suami sudah semangat untuk piknik ke Ancol lagi. Syaratnya: “Kita harus berangkat Subuh-subuh ya supaya lebih asyik.” Oke deehh ....