Pesat 6 Jawa Timur: Antibiotik, RUM, Dan Pendidikan Seks untuk Anak

Minggu, 26 Februari 2012, Pesat 6 Jawa Timur sampai pada sesi terakhir. Sesi pamungkas ini bisa dibilang paling seru, karena membahas RUM, antibiotik, dan pendidikan seks untuk anak. Berikut poin penting yang sempat kami catat.

Topik I – Antibiotik

Antibiotik digunakan untuk penyakit infeksi, seperti TBC, ISK, diare dengan darah, tifus, dll. Adalah sebuah kelirumologi apabila antibiotik digunakan untuk penyakit yang disebabkan virus, apalagi beranggapan bahwa “Kalau nggak pakai AB, lama sembuhnya.”

Semakin sering mengkonsumsi antibiotik, akan semakin sering jatuh sakit. Adanya perilaku yang salah dalam menggunakan antibiotik dapat menyebabkan resistensi antibiotik atau bakteri yang kebal terhadap antibiotik tertentu.

*Gambar dari sini

Adapun perilaku yang salah itu antara lain penggunaan antibiotik yang sebenarnya tidak diperlukan (saat infeksi virus/cold), atau ketika diperlukan namun penggunaannya salah seperti menghentikan obat ketika merasa lebih baik/tidak menuntaskan resep, menyimpan AB untuk sakit yang akan datang, berbagi ab dengan orang lain.

Penggunaan AB yang berlebihan sangat berbahaya, disebabkan bakteri yang berbahaya menjadi resisten apabila AB terlalu sering diresepkan. Konsekuensinya AB tidak lagi bekerja pada individu, sementara pada masyarakat jenis resistennya menginfeksi masyarakat, dan menyebabkan tidak ada AB yang bekerja bahkan pada orang yang minum AB untuk pertama kali. Akibatnya sakit yang terjadi akan lebih berat, lebih lama pemulihannya, resiko kematian, dan biaya yang lebih mahal.

Resistensi AB dapat dicegah dengan pemahaman mengenai AB yang benar. Jangan berharap AB dapat menyembuhkan semua penyakit, jangan konsumsi AB untuk selesma, flu, konsumsilah sesuai guidelines. AB untuk mengobati dan bukan mencegah infeksi kuman. AB termahal, terkuat, bukan berarti yang terbaik.

Topik II – Pendidikan Seks

Seks alamiah, tapi perilaku seks yang bertanggungjawab adalah hasil PROSES belajar secara EKSPLISIT. Untuk itulah anak memerlukan pemahaman yang utuh, sehat,dan benar, dan orang tua harus membuka diri sebagai sumber informasi yang terpercaya.

Lalu bagaimana memulainya? Lakukan sedini mungkin, jadilah orang tua yang aktif, dan sesuaikan dengan tahapan perkembangan anak. Hilangkan rasa tabu dan malu yang dimiliki.

Ajarkan mengenai :

  1. Identitas pribadi – mengenai tujuan penciptaan, mengenali emosi, tentang bentuk tubuh, emosi, pola berpakaian dan kesederhaan, body image, persepsi dan kepercayaan diri.
  2. Seksualitas dan perkawinan – definisi seks itu apa, proses reproduksi, pubertas, mitos keperawanan, kewajiban dan komitmen dalam perkawinan.
  3. Hubungan antar teman dan lawan jenis – bagaimana cara memulai pertemanan, peran gender, sentuhan yang aman, perbedaan ketertarikan dan cinta.
  4. Keterampilan transdisiplin – tentang perbedaan keinginan dan kebutuhan, buat batasan perilaku, keterampilan digital didunia maya, kritis terhadap pesan media dan seni, dan hindari kecenderungan adiksi (termasuk pornografi)

Pendidikan seks yang baik diawali oleh komunikasi yang baik dlm keluarga. Menunjukkan kasih sayang pada anak, adalah salah satu caranya. Selalu berikan contoh yang baik dgn sikap terbuka, sabar, gunakan humor, atasi sikap anak yg menantang dengan tenang. Bedakan pertanyaan umum dengan pribadi, beri contoh yang baik tentang pengalaman kita dan yang dekat dengan kehidupan anak, lalu kaitkan dengan norma agama.

Kiat saat hadapi pertanyaan anak, cek lagi maksud pertanyaannya lalu sesuaikan jawaban dengan tingkat pengetahuannya, selalu gunakan istilah yg benar. Bahasakan alat vital dengan nama sebenarnya; vagina, penis, testis, dll. Tidak ada bedanya dengan hidung dan telinga.

Terangkan fungsi alat reproduksi, tekankan tidak semua orang boleh melihat, apalagi menyentuh. Ajarkan konsep privasi bagian tubuh tertentu. Jelaskan dari awal agar anak menegur atau langsung pergi jika merasa risih ketika disentuh.

Pendidikan seks yang baik diawali oleh komunikasi yang baik dalam keluarga.

Topik III – Rational Uses of Medicine

Menjadi pasien yang bijak dan cerdas, siapkan informasi pribadi, ketahui hak kita. Dapatkan diagnosa ketika pergi ke dokter, lalu bagaimana tata laksanana penanganannya, bukan obatnya.

RUM ; Penggunaan obat secara tepat – tepat sesuai klinis (diagnosa), tepat dosis (individual), tepat jangka waktu, tepat informasi secara obyektif, tepat harga (lowest cost).

IRUM atau tata laksana yang tidak tepat menyebabkan irrational prescriber, irrational consumer, dan aggresive promotion. Salah satu bentuk irrational consumer: sakit harus minum obat, obat pasti langsung cespleng, puyer yang didesain khusus, mahal, antibiotik – langsung sembuh!

Menjadi pasien yang smart, berarti menjadi pasien yang efektif. Good outcome, hasilnya bagus meski ongkosnya tidak mahal.

Gimana Mommies, semoga memberi pencerahan mengenai kesehatan anak, ya. Terima kasih Pesat 6 Jawa Timur sudah mengajak Mommies Daily untuk turut serta berpartisipasi. Ditunggu Pesat berikutnya, ya!


5 Comments - Write a Comment

Post Comment