Perjuangan Si Puting Rata

Dulu, zaman saya SMA, saya termasuk anak perempuan yang percaya diri dengan ukuran bra 34 B :p Ya, menurut saya ini ukuran yang pas! Tapi siapa yang menyangka kalau waktu hamil (walaupun sudah diwanti-wanti) ukuran bra saya meningkat jadi 36 D! Cup saya naik dua ukuran. Alih-alih merasa payudara besar, saya memasukkan sugesti positif: ini buat bekal saya menyusui nanti. (Anyway, moral of the story: tidak ada hubungannya antara ukuran payudara dengan tingkat keberhasilan menyusui haha!)

Selama kehamilan, saya tidak pernah mengikuti kelas laktasi. Saya (terlalu) percaya diri, bahwa:

  1. Setiap perempuan punya naluri menyusui
  2. Saya berada di lingkungan Pro-ASI

Menurut saya dua hal di atas akan cukup mendukung kegiatan menyusui saya. Tapi apa yang terjadi? Hari pertama setelah melahirkan, konselor laktasi (ini merupakan fasilitas dari RSIA tempat saya melahirkan) yang datang untuk melihat bagaimana proses menyusui, memvonis kalau saya salah satu dari sekian banyak wanita berputing rata. “Waahh, ibu flat nipple nih … saya pinjemkan nipple puller sama nipple shield dulu, ya, buat bantu penyesuaian.” DANG! Rasanya tertohok! Apa gunanya payudara saya yang pas ukurannya (menurut saya hehe) dan kemudian membesar ketika hamil dalam rangka persiapan dan adaptasi untuk menyusui? Apa hubungannya puting rata dengan menyusui? Kata bahan bacaan, menyusui itu di aerola?

gambar dari sini

Ternyata, nih, Mommies, walaupun puting ‘bukan’ tempat menyusui langsung, tapi tetap mempunyai peranan penting, karena kalau saya bilang, puting adalah sedotan. Latch-on atau perlekatan yang baik dibutuhkan untuk bisa menyusui dengan benar dan maksimal. Nah, perlekatan ini membutuhkan koordinasi antara aerola, puting, dan lidah bayi. Di balik aerola tersimpan pabrik ASI yang akan keluar melalui puting jika terkena pijatan lidah, bibir bawah, dan dagu bayi. Jadi kalau memerah pun, bukan putingnya yang ditekan namun di sekitar aerola tadi. Proses perlekatan ini bisa dilihat pada gambar (Lihat deh, puting plus aerola masuk semua, ya, ke mulut bayi).

gambar dari sini

Nah, coba sekarang para ibu hamil dicek deh payudaranya, apakah termasuk normal atau tidak. Kalau saya termasuk yang memiliki aerola lebar dan puting rata. Tapi tenang aja, kalau Mommies termasuk seperti saya, tetap bisa menyusui, kok, walaupun pasti proses awalnya tidak semudah yang payudaranya normal (aerola dan puting seimbang). Ini kiatnya:

  • Lakukan pijat payudara dan stimulasi puting agar muncul keluar. Pegang putingnya dan putar ke kanan-kiri. Jangan terlalu keras karena biasanya menimbulkan kontraksi.
  • Gunakan nipple puller atau spuit suntikan, untuk membantu stimulasi ini. Namun seiring dengan waktu, biasanya bayi sudah beradaptasi, dan puting pun sudah tidak terlalu datar. (Saya memakai nipple puller setelah melahirkan)
  • Sabar dan tetap percaya diri. Jangan sedih dan nge-drop karena masuk dalam golongan wanita berputing rata. Perjuangan menyusui ini masih tetap bisa berjalan. Harus sabar, karena biar bagaimanapun bayi harus belajar dua kali lebih keras dibanding ketika harus menyusu di puting normal.
  • Siapkan nipple cream (saya pake Purelan dari Medela), untuk mengobati puting lecet diawal-awal yang (pasti) terjadi karena bayi harus berusaha lebih keras menarik puting agar bisa masuk ke mulutnya.

Sebetulnya ada lagi nih kasus yang namanya inverted nipple. Ini lebih parah lagi, putingnya mblesek ke dalem. Saya kurang paham bagaimana mengatasinya karena tidak mengalami, namun menurut bahan bacaan, treatment-nya kurang lebih sama dengan yang saya lakukan. Gimana Mommies yang lain? Ada yang punya pengalaman dan mau berbagi kiat?

Happy breastfeeding!


24 Comments - Write a Comment

Post Comment