Setiap Kehamilan Adalah Pembelajaran

Kehamilan merupakan keajaiban dan anugerah bagi setiap wanita. Banyak sekali keunikan dan hal luar biasa yang akan dihadapi, termasuk perubahan hormon yang membingungkan dan terkadang tak masuk akal. Kehamilan itu sendiri menjadi pembelajaran yang betul-betul baru lagi bagi saya, meski sekarang saya sedang menghadapi kehamilan yang ketiga kalinya.

Saya akan sharing sedikit mengenai kehamilan yang saya alami dulu dan saat ini.

Saya menghadapi kehamilan pertama di tahun 2010 dan melahirkan anak laki-laki sehat dan kuat dengan berat 3.75 kg secara normal, yang kini telah memasuki usia 14 bulan. Kehamilan pertama ini saya jalankan dengan lancar tanpa kurang satu apa pun, tanpa keluhan-keluhan yang berarti, meski emosi menjadi isu utama ketika itu. Namun saya mampu menjalaninya dengan bahagia, tenang dan lancar hingga masa persalinan tiba. Alhamdulillah.

Lalu kehamilan kedua yang sebetulnya tak saya sadari (ternyata) sempat saya alami di antara bulan Agustus hingga November di tahun 2011.

Namun kehamilan kedua ini mengalami keguguran di awal November tanpa saya ketahui kehadirannya dan juga penyebab kegugurannya. Sangat mengherankan bagi saya dan suami ketika itu, di antara waktu haid yang sempat terlambat datang selama kurang lebih 2 bulan sejak akhir Agustus, tiba-tiba di tengah malam saya terbangun karena sangat ingin buang air kecil. Saya dikagetkan dengan gumpalan-gumpalan darah yang tebal berwarna merah gelap dan pekat,  yang keluar begitu saja dari vagina (*maaf kalo terlalu vulgar),  disusul dengan aliran darah segar yang tak berhenti hingga satu jam lamanya.

Ketika itu kami tidak mengerti sama sekali seperti apa wujud janin yang masih dalam kandungan yang belum berbentuk, juga tidak ada pikiran “keguguran” yang melintas sedikitpun di kepala–apalagi karena saya sedang masa haid dan masanya sudah akan selesai karena sudah hampir 7 hari. Saking bingungnya, suami sampai harus membangunkan ibu  (kebetulan saya masih tinggal bersama orangtua) berharap ibu memiliki jawabannya, karena toh beliau sudah berpengalaman melahirkan 4 anak. Tapi ternyata ibu  juga tak punya jawaban dan malah ikut heran ditambah rasa khawatir yang berlebihan. Saya sendiri sebetulnya memendam ketakutan dan mungkin kekhawatiran yang sama seperti yang tergambar di wajah Ibu.

Banyak pertanyaan di kepala, apalagi keesokan harinya menstruasi saya tetap berjalan dan informasi via telepon dari suster rumah sakit tempat saya melahirkan dulu tidak maksimal. Butuh waktu seminggu untuk akhirnya kami memutuskan mengunjungi dokter kandungan yang membantu persalinan Bagas, putra pertama kami. Meski awam sama sekali mengenai seperti apa “keguguran” ini, namun naluri alami keibuan saya mengatakan mungkin saya menghadapi kehamilan yang tidak normal saat itu tapi tertutup kehadiran menstruasi yang seolah normal dan datang disaat yang tepat. Saya akui memang setelah melahirkan,  kami tak pernah berkeinginan untuk menggunakan satupun kontrasepsi, sehingga saya pun menikmati perubahan tubuh dan hormon secara alamiah.

Bertemu dokter, saya menceritakan semua yang terjadi ketika itu dan akhirnya harus menghadapi pemeriksaan dalam dengan USG. Kembali terheran-heran, saya, suami, dan dokter melihat hal yang normal-normal saja, apalagi dokter sendiri bilang kalau keadaan rahim saya bagus, sehat dan bersih. Tidak ada sisa apa pun yang patut dicurigai kecuali masih ada sisa sedikit darah menstruasi di dinding rahim karena masa menstruasi belum berakhir. Alhamdulillah, kata pertama saya ketika mendengar keterangan dokter. Tanda-tanda terjadi proses “keguguran” pun tidak tampak sama sekali sehingga membuat Dokter merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan kecuali jika besok, setelah pemeriksaan hari ini, kembali terjadi perdarahan yang banyak dan terus menerus, maka kami harus segera kembali melakukan pemeriksaan.

Namun ternyata keterangan yang sangat dibutuhkan dokter untuk permasalahan kami ini, justru belum tersampaikan. Karena masih penasaran dengan keterangan dokter, suami lalu menjelaskan bahwa sebelum menstruasi ini saya sempat terlambat haid sekitar 1-2 bulan. Nah, inilah kuncinya! Ternyata memang benar naluri alami yang saya rasakan, saya mengalami “keguguran” atau kegagalan kandungan dan “keluar” dengan sendirinya. Ya Allah … rasanya campur aduk! Sedih, senang karena telah mendapatkan jawabannya, lega karena ini bukan suatu penyakit, tapi yang pasti hati saya sangat merasa kehilangan … begitu pula yang dirasakan suami.

Kami pulang dengan hati yang pasrah namun ikhlas sambil mengingat apa yang terjadi malam itu dan tiga hari kemudian ketika saya mengungkapkan isi hati, kekhawatiran dan protes saya terhadap suami yang terkesan tidak merasa hal ini adalah sesuatu yang luar biasa, menakutkan dan menyedihkan untuk saya.

Tak lama, kurang lebih selang 1.5 bulan kemudian, saya kembali hamil. Alhamdulillah!

Kehamilan ketiga ini pun hampir tidak disadari kecuali yang kali ini betul-betul membuat saya tersiksa oleh mual! Karena mual ini pula yang membawa kami kembali mengunjungi ginekolog tercinta kami :D

Saya terserang muntah-muntah tak berkesudahan dari jam 12 malam hingga jam 5 pagi tanpa dapat masuk makanan atau minuman apapun, termasuk air putih! Kesimpulannya, saya menghadapi asam lambung kronis daaaan kehamilan yang sudah memasuki minggu ke-14! Kami pun termasuk Bagas sudah bisa intip USG 4D. Calon bayi kami dan calon adiknya Bagas tampak sedang mengangkat tangannya, sangat menggemaskan!

Permasalahan kehamilan ternyata ada-ada saja. Untuk yang kali ini sepertinya berhubungan dengan hormon. Entah apakah ada perbedaan signifikan antara kelamin perempuan dan laki laki dari janin yang dikandung(ngarep pengen anak perempuan :D) ataukah memang proses kehamilan adalah rahasia Tuhan yang hanya dapat dirasakan oleh para wanita. Mengapa saya bertanya? karena kehamilan kali ini sangat bertolak belakang dengan kehamilan pertama. Selain akhirnya mengalami mual-mual yang lumayan mengganggu, saya juga harus menghadapi gatal-gatal tak tertahankan di sekitar perut, pinggul, perut belakang dan bokong! *bener-bener, deh, untuk gatal-gatal ini, tersiksa banget! Mungkin saya kualat dengan para ibu-ibu hamil yang merasakan hal ini. ;p Haha.

Bagi para ibu di luar sana yang telah mengalami proses penuh keajaiban ini, mungkin beberapa pernah mengalami yang saya alami. Semoga para calon ibu bisa menjalani kehamilan dengan penuh rasa syukur dan bahagia, lancar sampai waktu persalinan tiba.

 

 


16 Comments - Write a Comment

  1. astagaaaaa… gw nggak tau euy kalo elo sempet keguguran! tumben anak-anak nggak ada yang cerita.., biasanya Gentonk kan ember… so sorry for your loss ya :(
    semoga yang sekarang lancar terus sampe lahir dan nangis dengan nada medok, hiahahahaha

Post Comment