Melahirkan dengan Lotus Birth

by: - Monday, June 4th, 2012 at 8:00 am

In: Labor & Delivery 38 responses

0 share

Saya cukup surprise ketika mengetahui sahabat saya, MM Diyan Hastarini melahirkan anak pertamanya –Seth Krishna- dengan ‘metode’ yang dikenal sebagai  Lotus Birth. Sekilas pernah mengetahui melalui metode ini, namun saya mencari lebih banyak, dan dari Diyanlah saya mendapatkan referensi di bidankita.com.

Lotus Birth, atau tali pusat yang tidak dipotong, adalah membiarkan tali pusat yang tidak diklem dan  lahir  secara utuh (jadi setelah bayi lahir, tali pusat tidak dilakukan pengekleman dan setelah plasenta lahir, plasenta beserta tali pusatnya dibiarkan saja terhubung dengan bayi hingga nanti saatnya “puput”). Segera setelah bayi lahir ada sebuah proses fisiologis normal dalam perubahan Wharton’s jelly yang menghasilkan pengkleman internal alami pada plasenta (sisi maternal) dalam 10-20 menit pascapersalinan.

Diyan memutuskan untuk melahirkan dengan Lotus Birth, setelah membaca buku Ibu Robin Lim yang berjudul ‘Placenta the Forgotten Cakra’. Tentu ini hasil dari memperkaya diri dengan sebanyak-banyaknya informasi selama kehamilan.  Dari situ, Diyan merasa lebih sreg untuk Lotus Birth supaya transisi bayi lahir ke dunia lebih lancar, tanpa banyak intervensi dan sekaligus sebagai bentuk terima kasih pada plasenta.

Semula ia berniat melahirkan di klinik ibu Robin di Ubud Bali. Namun ternyata, ada klinik di Klaten mempunyai cara pandang yang sama, yaitu klinik Bidan Kita. Prinsipnya sama, gentle birth. Yaitu memandang kelahiran adalah proses yang alami, tanpa banyak intervensi, sehingga minim trauma untuk bayi dan ibunya.

Prosesnya persalinannya, begitu bayi lahir, hanya dilap lembut dengan handuk, langsung diletakkan di dada ibu untuk IMD. IMD merangsang keluarnya oksitosin, hormon cinta yang merangsang kontraksi untuk kelahiran sang plasenta.

Di klinik bidankita apabila tidak diperlukan, tidak ada intervensi yang dilakukan ke bayi seperti suntikan vitamin K ataupun pembersihan dengan disedot. Mukosa/lapisan putih yang ada di tubuh bayi juga tidak dibersihkan, dibiarkan hingga diserap oleh tubuhnya, karena menurut beberapa literatur itu masih diperlukan oleh si bayi. Tidak langsung dimandikan, begitu selesai IMD bayi langsung dipakaikan baju dan melanjutkan bermesraan dengan ibu dan ayah. Betul-betul momen yang khusus untuk Diyan, suami, dan bayinya. Esok paginya baru dimandikan. Lagi-lagi menurut literatur juga baik jika ada jeda 6 jam setelah dilahirkan baru bayi dimandikan.

Masih menurut Diyan, efek baiknya dari penundaan pengkleman tali pusat adalah mengurangi risiko bayi anemia. Dan logikanya itu akan berlaku juga untuk bayi lotus birth. Menurut cerita ibu sesama lotus birth biasanya bayi sangat tenang. Sampai umur 2 bulan, Seth jarang sekali bangun lama atau nangis di malam hari. Buang airnya juga terjadwal sejak bayi, selang 2 jam sekali. Pas dengan jadwal menyusui. Sangat kooperatif.

Soal dibedong, Seth juga dibedong saat tidur malam atau saat udara sedang dingin saja. Meski masih terhubung dengan plasenta bisa juga kok dibedong. Bayi-bayi lotus birth biasanya juga puput lebih cepat. Untuk Seth, 4 hari sudah puput.

Perawatan plasentanya juga tidak susah. Pertama kali dibersihkan dengan air, diganti underpad-nya tiap habis mandi dan supaya tidak bau dan cepat kering ditaburi garam laut. Momen-momen sebelum puput benar-benar membuat takjub. Terlihat di foto tali pusatnya yang kering dan kaku seperti ranting, seakan mudah patah. Tapi ternyata meski dipegang dan ditarik-tarik oleh sang bayi, bila belum waktunya putus, tali pusat itu belum akan putus.

Bagi Diyan, pemilihan metode persalinannya ini bukanlah semata keputusan untuk kualitas ibu dan bayi yang lebih baik, namun merupakan sebuah hubungan yang indah dan komunikasi yang optimal dengan Seth, sejak ia masih dalam kandungan, sampai sekarang. Sehingga proses kehamilan, persalinan sampai masa tumbuh kembangnya  merupakan pengalaman yang indah dan sarat pembelajaran.

Tertarik untuk mencoba?

*gambar dari sini

 

 

 

Share this story:

Recommended for you:

38 thoughts on “Melahirkan dengan Lotus Birth

  1. Pingback: Eka Kusumawati
  2. Pingback: Agis Ardhiany
  3. Pingback: Ayu.R.A.P
  4. Pingback: wulanirawan
  5. Pingback: Anastha eKa
  6. Pingback: Listya Alfisyahri
  7. Pingback: Listya Alfisyahri
  8. Pingback: Dewi Umami
  9. Pingback: Astrid Marietadewi
  10. Pingback: fretynia merzuli
  11. di Jakarta di mana ya RS/bidan yang support Lotus Birth? mertua aku malah support banget, karena pernah nonton liputan ttg Ibu Robin Lim di tv…aku juga jadi semangat buat nerapin metode ini..

  12. persis sama Manda, ngilu liatnya. gak kebayang bgt. Klo buat gw bukan keintiman yg didapet, tapi geliiiii…. dan dua kali gw lahiran, gw gak pernah lat plasenta anak gw, krn langsung dikasih nyokap buat dibersihin dan dikubur.
    anw, klo lotus birth, susah ya buat gendong si bayi? iya ga si? soalnya kan plasenta mya masih nempel aja gitu…
    trs klo nyusuin, jg agak rempong ya pindah2in si plasenta ke kiri ke kanan tergantung posisi nyusu di PD yg mana…

    salut sama yang mampu nerapin lotus birth ini…

  13. Kalo kelak hamil lagi, koq gue agak tertarik ya melahirkan dengan metode ini. Apalagi gentle birth tuh, secara pas melahirkan Nadira dulu, gue melakukan jerit-jerit birth hahaha.. Plasenta yang masih nongol bagus juga tuh buat bikin jiper para penjenguk. Sehingga masa-masa paska-persalinan bener-bener bisa dipake buat istirahat dan sayang-sayangan sama si baby :D

  14. Pingback: Ayυ Azrιηηα
  15. Pingback: siti rahmah
  16. Wajar emang melihat lotus birth aneh,ngilu,kebayang susahnya nen,mandi dll. Gw udah ngerasain dan itu tdk terbukti sama sekali. Bayi lotus sangat tenang ketika lahir (kebetulan lahirnya gentle water birth jg) sampai hari ini gw gak ngerasain bedagang,skrg anak gw hampir 4bln umurnya. mau nen pun sama aja seperti bayi yg lain,mau sambil ibu bayi tiduran atau sambil duduk bisa dan ngga nyusahin atau repot. Karena plasenta ditempatkan di wadah plastik yg gampang dibawa/dipindah. Klo mau gendong yg agak repot krn harus gendong sambil bawa wadah plastik berisi plasenta,biasanya gw minta tolong anak gw yg besar yg bawain plasenta adiknya. Klo mau mandi jg musti ada asisten yg pegangin wadah plasenta. Tapi “kerepotan” ini cuma sebentar bgt kok,4hari tali pusatnya udah puput. Sebanding bgt sama manfaatnya,meminimalisasi trauma pd bayi dan punya “tabungan” zat besi yg banyak jd bisa mencegah anemia. Artinya ngga perlu minum suplemen zat besi lg.

  17. Pingback: Leiyla Elvizahro
  18. Pingback: Elmi Mahlida
  19. Pingback: Decy Hanariya
  20. Pingback: Ana Widi Rahayu
  21. Pingback: Tesha NF
  22. Pingback: Mommies Daily
  23. Pingback: ita rosita
  24. Pingback: BundaZaki
  25. Pingback: uwie
  26. Pingback: andi dian rezky

Leave a Reply