Asma dan Pendingin Ruangan

Saya menghabiskan masa kecil dengan bermain orkestra. Bukan … bukan yang seperti asuhan Addie MS itu tapi orkestra napas alias asma. Ih, apa hubungannya sama orkestra? Almarhum kakek saya yang menggunakan istilah itu karena tiap kali serangan asma mendera, suara napas saya terdengar heboh sekali … ngik, ngik. Haha. Sebenarnya apa, sih, asma itu? Dan apa pula penyebab munculnya asma?

Asma adalah kondisi di mana saluran pernapasan menyempit karena rangsangan tertentu. Penyempitan ini sifatnya sementara. Saat asma datang, pengidap akan mengalami kesulitan bernapas dan juga batuk. Kok bisa, sih, salurannya menyempit? Hal ini dikarenakan otot polos dari bronki mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran udara mengalami pembengkakan, lendir dilepaskan juga ke saluran udara. Kedua hal ini menyebabkan diameter saluran udara mengecil.

Penyebab serangan asma sendiri ada macam-macam misalnya udara kotor, debu, asap, dan olahraga. Dalam kasus saya, waktu kecil asma menyerang tiap kali saya batuk-pilek. Setelah dewasa, asma muncul sebagai reaksi alergi. Pemicu asma saya biasanya debu, terlalu banyak atau kencang tertawa (ya, nggak salah baca kok … terlalu gembira ternyata tidak baik untuk kesehatan. Hihi), dan bau menyengat seperti bau cat. Lucunya udara dingin yang disinyalir sebagai pemicu asma justru jadi sahabat saya banget. Mungkin kalau dingin, jarang ada debu, ya?

Kondisi “tukang orkestra” inilah yang membuat saya harus lebih berhati-hati dengan kebersihan termasuk kebersihan udara di kamar. Udara yang bersih dan bebas debu dapat meminimalisir kemungkinan kambuhnya asma. Langkah pertama yang saya lakukan adalah tidak menggunakan karpet sama sekali di dalam rumah, karena karpet dapat menyimpan debu sangat lama. Langkah berikutnya adalah memeriksa dengan betul kualitas AC yang saya beli. Gimana tahunya AC yang dipilih sudah sesuai? Tentu pilih AC dengan teknologi yang bisa menjernihkan udara dalam ruangan alias membersihkan udara dari mikroorganisme seperti bakteri, virus, serta jamur di udara maupun permukaan.

Saya sempat membandingkan beberapa AC ke toko, hingga akhirnya menemukan yang cocok yaitu produk AC dari Panasonic yang punya fitur ini. AC Panasonic ini memiliki fitur Nanoe-G, yang ternyata fungsinya itu dapat mematikan kuman, virus, dan bakteri di udara maupun permukaan. Biasanya setahu saya AC yang lain itu hanya mematikan kuman di udara, tetapi tidak di permukaan. Hal ini membuat saya tertarik dan langsung, deh, browse ke situsnya untuk cari tahu lebih detail lagi. Ternyata selain teknologi nanoe-G, AC Panasonic incaran juga memiliki fitur inverter dan ECONAVI (Intelligent ECO sensors). Waduh makhluk apa pula itu, ya? Inverter gunanya untuk mempertahankan suhu ruangan dengan melakukan variasi kecepatan rotasi kompresor. Sedangkan ECONAVI bisa mendeteksi dan mengurangi pemakaian energi berlebihan dengan mengoptimalkan penggunaan AC sesuai kondisi ruangan. Bahasa ibu-ibunya: kedua fitur di atas bisa bikin hemat listrik sampai 50 persen. Hemat listrik berarti hemat pengeluaran bulanan, kan? :D

Apakah fiturnya hanya itu saja? Tentu tidak dong. AC Panasonic juga dipersenjatai dengan fitur “Mild Dry Cooling”, di mana kelembaban dipertahankan hingga 10 persen di atas proses pendinginan AC biasa yang tidak memiliki fitur ini. Jadi Mommies tak perlu khawatir soal iritasi mata, tenggorokan, atau pun kulit kering kalau pakai AC Panasonic. Cocok bangetlah untuk pemakaian oleh keluarga.

Nah, itulah cerita saya mengenai kiat- kiat dalam menangani penyakit asma agar tidak sering kambuh. Dengan pemilihan AC yang benar, setidaknya kita sudah memaksimalkan usaha dalam menjaga kesegaran dan kebersihan ruangan di rumah agar kesehatan keluarga tetap oke.

 

 

 


10 Comments - Write a Comment

Post Comment