Vacation Without Kids, Yay or Nay?

Di berbagai artikel relationship, cukup sering saya membaca tentang betapa perlunya pasutri tetap memiliki waktu berdua setelah punya anak. Tujuannya simple, katanya supaya api cinta tetap berkobar (maaf pemilihan katanya agak norce, hahaha).

Waktu berduanya tentu bukan sekadar lunch atau nonton bioskop sepulang ngantor, ya, melainkan liburan bersama suami, berdua saja tanpa bawa anak. Semacam second honeymoon gitu, deh.

Ya ya ya, kesannya, kok, egois sekali, ya, ninggalin anak buat bersenang-senang. Pasti banyak yang merasa tidak tega, ya? Idem, saya dan suami pun berpikiran demikian. Tidak pernah sekalipun kami liburan tanpa Rakata-Ranaka. Ke mana kami pergi, mereka ikut.

Sampai suatu hari, suami mendadak dimutasi ke Semarang, dan meminta saya menyusulnya ke sana untuk mencari rumah. Awalnya, sempat mau membawa Rakata-Ranaka. Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya membawa dua batita akan membuat pencarian rumah menjadi tidak efektif. Bagaimanapun, kami tentu harus kompromi dengan jadwal makan-tidur mereka. Belum lagi jika nanti mereka bosan berkeliling, bisa-bisa tidak banyak perumahan yang kami lihat. Ditambah, membayangkan ribetnya nenteng dua batita sendirian di pesawat. Akhirnya diputuskan hanya saya yang berangkat ke Semarang.

Sedikit sedih, karena untuk pertama kalinya saya meninggalkan Rakata-Ranaka. Tapi kalau boleh jujur, di hati kecil saya juga merasa bersemangat. Meski tujuannya bukan murni liburan, kepergian ini terasa seperti second honeymoon. Bagaimana tidak, selama 3 hari 2 malam, saya full menghabiskan waktu berdua saja dengan suami! Wow, hal yang sudah hampir 3 tahun tidak pernah kami lakukan sejak Rakata lahir.

Dari segi tempat, memang tidak ada romantisnya sama sekali. Boro-boro disuguhi keeksotisan pantai atau pegunungan, wong satu-satunya lokasi wisata yang sempat kami kunjungi hanya Lawang Sewu! Menjelajah ruang bawah tanah dari bangunan peninggalan Belanda yang gelap, becek, dan pengap, sambil mengenakan boots yang ukurannya kebesaran pula. Malah, suami pakai acara ditempel ‘penunggunya’ di area yang konon memang terkenal angker. Sama sekali tidak bikin iri, ya, second honeymoon-nya, hahaha.

Walau begitu, saya happy sekali. Ternyata menyenangkan juga bisa bebas melakukan apa saja tanpa memikirkan sederet hal yang biasanya sulit dilakukan jika bersama Rakata-Ranaka. Leyeh-leyeh selama berjam-jam di kamar hotel dalam keadaan tanpa busana (uhuk…), nonton TV tayangan dewasa (maksudnya bukan JimJam atau Disney Junior), berendam berduaan dalam bathtub, jajan di pinggir jalan menjelang tengah malam, dan sederet hal lain.

Bagusnya lagi, saya pun tidak perlu merasa bersalah ninggalin Rakata-Ranaka selama 3 hari karena kepergian ini, kan, bukan murni liburan, tapi bermisi demi masa depan bersama (ciehh).

Lalu, benarkah second honeymoon menambah kehangatan suami-istri? Wah, jangan ditanya. Untuk urusan bercinta, jika dihitung-hitung, frekuensi dalam 3 hari 2 malam itu rasanya lebih banyak dibanding frekuensi rata-rata bercinta kami dalam seminggu. Tidak kalah, deh, dari pengantin baru :D

Jika selama ini kami juga selalu menahan diri untuk tidak berisik (karena khawatir membangunkan anak), saat itu aturan sama sekali tidak berlaku, hahaha.

Bedanya dengan pengantin baru hanyalah selang beberapa jam sekali saya masih harus memerah ASI dan menyimpannya di kulkas untuk dibawa sebagai oleh-oleh. Ya begitu, deh, jika ‘sapi perah’ mau sok-sokan second honeymoon :D

Dari pengalaman saya, IMHO, sepertinya liburan berdua bagi pasutri yang telah memiliki anak itu mungkin memang perlu, ya. Apalagi, rutinitas harian selama bertahun-tahun kadang membuat lupa bahwa suami merupakan sosok yang juga perlu diperhatikan selain anak. Hayo ngaku, siapa yang sejak punya anak, suaminya langsung turun dari daftar prioritas? *nyengir*

Saat kemarin pergi tanpa anak, saya, sih merasanya bisa lebih fokus pada suami. Menikmati berbicara dari hati ke hati, menikmati waktu jalan-jalan berdua. Pokoknya menikmati kebersamaan yang ada, deh. Tentunya, kembali jatuh cinta (lagi) pada suami :)

Bagaimana dengan Mommies, apakah pernah memiliki pengalaman liburan tanpa anak juga? Atau hingga kini masih belum tega melakukannya? :)

 


59 Comments - Write a Comment

  1. weeewww, kami memilih YAY!
    ternyata ogut cukup sukses pergi berdua langsung bareng suami karna “dipaksa” oleh tiket perjalanan ke KL, yang udah dibeli dari setaun sebelum, dan pas banget anniversary pertama ihihihi. padahal Bagas baru masuk bulan ke lima dan masih asix. ternyata gw dan suami cukup tega!! ;D karena pemikirannya justru lebih baik ditinggal sekarang waktu dia belum mengenal dekat orang tuanya dan masih bisa dititipkan ke orang tua, daripada nanti ketika dia sudah 6 bulan lebih ketika ikatannya lebih kuat antara orang tua dan anak, dan malah kita nggak bisa kemana-mana tanpanya. Kangen sih memang, tapi gw n suami nggak menyia-nyiakan perjalanan kami, apalagi untuk suami ini adalah perjalanan pertamanya keluar negri. karena ibu, kami juga tak lupa bawa 1 baju Bagas yang sudah dipakai, begitu pula, baju kami yang sempat terpakai ditinggal sebagai obat kangen anak, percaya nggak percaya, ya begitu kata orang tua. sukses juga tuh! oh ya, kami nggak punya nanny juga kok (karna gw ga suka, jadi tambah ribet) tapi memang kami punya asisten rumah tangga alias pembantu yang mencuci setrika masak, pokoknya membantu pekerjaan ibu gw di rumah. disana gw juga nggak lupa “memerah” untuk dibawa pulang, cukup bawa plastic asi sekali pakai, pompanya dan cooler bagnya. selesai!
    ayolah ibu-ibu, memanfaatkan waktu berdua itu perlu banget lho apalagi yang bayinya masih umur bulan. hehehehe *kompor mleduk*. sekarang justru kami nggak sekalipun tega untuk meninggalkan anak walaupun cuma ke minimarket beberapa kilo dari rumah, pasti dibela-belain pulang dulu jemput anak. oh iya, ini sebenernya tips dari sodara yang punya anak laki2 2 seperti amel, sering-seringlah pergi bareng mereka, sekarang sampai kira-kira umur mereka 12 thn, karena kemungkinan besar setelah mereka masuk smp atau 12 y up, mereka tak kan tersentuh!! hehehhe alias udah banyak gaya n kesibukan. ;))

    1. eeehhhh…….mbak daraaa, ketemu di siniiii *dadah2 dulu ahhhh*
      aku pengeeeeennnnn……tapi merasa lebih nyaman klo anak ditinggal sama eyang putrinya di jakarta. lha, dari sini aja mesti ke jakarta dulu, kok ongkosnya dobel ya? :p
      cita-cita banget nih! btw, ameell, itu samaan kayak suami gw, paspornya masih perawan!! sementara paspor gw udah mau kadaluwarsa hehehe. waktunya bikin paspor baruuuuu (walaupun nggak tau kapan jalan-jalan ke LN)

  2. YAY!! baru ngalamin mulai tahun lalu, setelah 4 tahun nikah, pertama kalinya pergi berdua sama suami ke singapura, itu juga karena nebeng dia yg lagi ada training, tapi aku cuma semalem aja disana. MANTAP!!
    Lanjut beberapa bulan kemudian, 5 hari kami menikmati spring di korea…
    kayaknya setahun sekali perlu buat pergi berdua aja, gak usah yg jauh2, ke bandung atau ke bogor juga asik sih kayaknya…. :)

  3. Aku…aku…..liburan tanpa anak.*hebohngacungjari. Hehehe..sebenernya bukan liburan,. Setahun terakhir ini, aku di tugaskan di jakarta oleh kantor, sekalian sekolah. Nah suami, hampir sebulan sekali, ke jakarta juga. Bukan liburan juga, tptugas kantor juga..jd yaa gitu deh…dpt kesempatan honeymoon. Senangnya…..berkali kali malah honeymoonnya. Wkwkwkw..setelah itu, justru lebih asyik menghadapi anak anak kami *3 balita :D . Kan sudah happy krn dpt honeymoon, dibayarin kantor pula..gratiiiissss :D

Post Comment