Gangguan Tidur Anak

Di artikel Berapa Banyak Waktu Tidur Anak, saya pernah bercerita bahwa salah satu hal yang saya khawatirkan dari Langit adalah durasi tidurnya. Ia sanggup ‘melek’ hingga 16 jam! Sadar bahwa tidur merupakan kebutuhan dasar setiap manusia, maka saya berusaha menemukan apa saja, sih, penyebab gangguan tidur pada anak dan bagaimana mengatasinya.

Sejauh mana seorang anak bisa dikatakan ada gejala gangguan tidur? Di antaranya adalah jika anak terbangun tiga kali atau lebih setiap malam, saat terbangun ia butuh 20 menit atau lebih waktu untuk tidur kembali serta  total tidur di malam hari kurang dari 9 jam setiap malam. O, ya, kenapa disebutnya selalu tidur malam hari, karena pada malam harilah puncak pengeluaran hormon pertumbuhan. Kurang tidur nggak hanya berpengaruh pada mood seseorang seharian, lho, (kita yang dewasa saja suka seperti zombie kalau kurang tidur malam hari, kan?) tapi bahkan bagi anak, bisa berpengaruh pada perkembangan fisik, emosi,  dan kognitif. Duh!

Nah, ibu baru nih biasanya yang agak clueless menghadapi bayi yang tidurnya ga nyenyak atau gelisah. Tenang Mommies, saya juga dulu begitu, kok! Waktu masih bayi, salah satu masalah yang sering mengganggu tidur Langit adalah ‘kagetan’. Tapi setelah browsing dan sharing di forum, saya jadi tahu bahwa hal ini ternyata umum bagi bayi, dan disebut sebagai gerak refleks moro.

Tugas kita juga sebagai ibu untuk mencari tahu penyebab tidak nyenyaknya tidur anak. Mungkin pakaian tidur yang kurang nyaman, suhu kamar terlalu dingin atau panas, popok basah, lapar, terlalu lelah, perubahan lingkungan (pindah kamar, rumah, tempat tidur, dsb) atau bahkan suasana hati ibu yang tidak tenang juga berpengaruh, lho, pada tidur anak. Kalau sudah ketemu penyebabnya, segera atasi masalah tersebut.

Baru-baru ini saya membaca sebuah penelitian terhadap 200 ibu muda di Surabaya bulan Februari 2012 di surat kabar Jawa Pos yang menyebutkan bahwa 7 dari 10 bayi di Surabaya terbangun di malam hari karena popok basah. Wah, ini memang menyebalkan sekali! Saya pernah, lho, mengalami kebocoran popok di malam hari dan anak menjadi sering terbangun karena popok basah. PR banget, kan, selain harus gantiin popok, baju, seprai yang basah akibat kebocoran dan harus menidurkan Langit yang susah tidurnya!

Nah, dulu saya mengatasi ini dengan cara menggunakan popok sekali pakai untuk malam hari dan menggantinya sesering mungkin, apalagi jika saya tau hari itu Langit minum ASI atau mengonsumsi cairan cukup banyak.

Supaya nggak mengganggu tidur malam, biasanya saat mengganti popok sekai pakai, saya melakukannya tetap dalam kondisi lampu mati alias hanya menyalakan lampu kecil atau bed lamp. Plus satu lagi, berusaha tidak mengajaknya bicara atau melakukan kontak mata, konon supaya anak tau bahwa walaupun ada kegiatan, tapi hari masih malam atau masih waktu tidur. ‘Ilmu’ ini saya dapatkan dari thread ‘baby sleeping problem’.

O, ya, ilmu tidak menyalakan lampu saat malam tiba ini berhasil saya terapkan hingga saat ini. Banyak balita yang masih menggunakan pospak hingga usia 3-4 tahun, terutama di malam hari. Dalam hal ini saya beruntung, karena Langit sudah tidak memakai popok lagi sepanjang hari sejak usia 2 tahun. Kalau malam hari ia mau buang air kecil atau besar, ia sudah terbiasa membangunkan saya dan langsung menuju ke kamar mandi tanpa harus menyalakan lampu!


9 Comments - Write a Comment

  1. Maika juga termasuk anak yang ‘susah tidur’. Jadi proses menidurkan dia itu yang PR banget. Tapi asal sudah tertidur, biasanya tertidur nyenyak. Makanya enggak deh musti bangunin dia untuk ganti popok, nidurinnya lagi susah :)

  2. Hebat ya Langit bisa jalan dalam kondisi gelap gulita :D Kalo Aluf pas udah lepas diapers, masih gue bangunin sekali untuk pipis dan dia bisa pipis sambil merem gitu, lucu banget mukanya hihihi Tapi sekarang udah nggak pernah sih bangun malem2 untuk pipis jadi gue pun bisa bablas tidurnya, horeee :D

Post Comment