Everybody Needs Good Neighbours

Sebagai orang di rantau yang jauh dari orangtua dan sanak saudara,  saya sadar bahwa tetangga adalah saudara terdekat yang suatu saat kita (mungkin) akan minta bantuan mereka. Suka atau tidak, itulah kenyataannya.

(gambar adalah hak cipta dari sini)

Satu setengah tahun kami tinggal bersama mertua di Bandung, lalu setengah tahun tinggal di rumah orangtua di Semarang karena suami pindah kerja. Hingga ketika orangtua saya memilih melewatkan hari tua pulang kampung ke Tasikmalaya, keluarga kecil saya menempati rumah tersebut sebelum mempunyai rumah sendiri. Dari saat itulah saya merasakan kehidupan ‘bertetangga’ yang sebenarnya.

Rumah orangtua berada di  kompleks sebuah instansi pemerintah dan adalah tempat tinggal saya sedari bayi, jadi saya sudah mengenal dengan baik para penghuni di sana yang sebagian besar sudah berstatus Eyang. Saya sudah dianggap anak sendiri oleh para Eyang ini, maklum, kan mereka melihat tumbuh kembang saya sampai dewasa dan juga karena saya jauh dari orang tua. Saya sering diberi nasihat, diberi berbagai tips memasak, merawat anak, dsb.

Di kompleks ini, para warga  mempunyai rutinitas pertemuan bulanan, seperti arisan, PKK, bersih-bersih lingkungan dan akan otomatis bergotong royong apabila ada keluarga yang ‘punya gawe’ atau tertimpa kesusahan. Bisa dikatakan hubungan antar warga sangat erat,  bahkan saking sudah dekatnya,bukan rahasia lagi apabila sesama penghuni sudah mengetahui ‘isi dapur dan keadaan rumah tangga’ keluarga lainnya. Untuk hal ini, saya selalu menjaga jarak aman untuk tidak terlalu banyak bercerita mengenai hal-hal pribadi rumah tangga. Sikap saya dan suami menjaga privacy ini kadang diartikan ‘tertutup’ dan ‘tidak guyub’.  Mungkin inilah yang dinamakan generation gap bertetangga antara generasi dulu dan generasi kini.

Setelah akhirnya kami mempunyai rumah baru, babak baru bertetangga dimulai lagi. Tempat tinggal kami berada di sebuah perumahan baru yang sebagian besar penghuninya adalah keluarga muda. Orangtua saya sempat melempar komentar, “Kalau banyak keluarga mudanya, orangnya cuek-cuek sama tetangga.” Benarkah?

Hari pertama tinggal, saya disapa dengan ramah oleh ibu tetangga sebelah rumah dan dilanjut dengan hari-hari berikutnya.  Minggu ketiga, saya sekeluarga diundang untuk buka puasa bersama warga satu blok sekalian menjadi ajang perkenalan dengan tetangga lainnya. Kebetulan memang kepindahan kami bertepatan dengan bulan Ramadan. Bulan berikutnya, kami menghadiri acara halal bihalal dengan seluruh warga, dan masih di bulan yang sama, saya dan suami sudah diminta ikut serta dalam acara arisan, PKK, gotong royong dan posyandu. Ternyata rutinitas pertemuan warga di pemukiman baru tidak jauh berbeda dengan kompleks para Eyang.

Sebagai pemukiman keluarga muda, banyak diantaranya yang masih mempunyai anak balita. Ayesha (4 tahun 2 bulan), anak saya,  cukup senang berada di rumah barunya karena dia sekarang mempunyai teman bermain sebaya lebih banyak. Saya yang masih berstatus warga baru belum terlalu mengenal baik para penghuni di lain blok walaupun sedikit demi sedikit sudah bisa menghapal wajahnya. Bila kebetulan bertemu, saya mencoba tersenyum, tetapi apabila tidak dibalas senyum? Eh, jadi pandangan mengenai cuek itu beneran ya? Ah, ya sudah lah, toh tidak semuanya seperti itu. Saya malah jadi ingat dengan theme song opera sabun Neighbours yang kondang di tahun 80-90 an :

Neighbours, everybody needs good neighbours , Just a friendly wave each morning, helps to make a better day

Neighbours, need to get to know each other, Nextdoor is only a footstep away

Neighbours, everybody needs good neighbours, With a little understanding, you can find the perfect blend

Neighbours, should be there for one another, That’s when good neighbours become good friends

(source: wikipedia)


12 Comments - Write a Comment

  1. Setuju sama judulnya, semua orang butuh lngkungan yang baik, apalagi kan ada pepatah it takes a village to raise a child.
    Gue juga tinggal di kompleks lama, karena gue beli rumah 2nd, jadi kanan kiri gue kebanyakan udah seumuran bokap nyokap gue. Agak canggung sih, dari yang paling simpel deh, semacam panggilan. Kalau bendahara RT kesini menagih pembayaran keamanan&kebersihan, beliau memanggil gue dengan panggilan “bu” sementara gue spontan manggil beliau “tante’ karena anaknya beliau aja udah seumuran gue.
    Tapi untungnya, belakangan makin banyak keluarga muda yang pindah ke daerah sini. Entah itu mengontrak, beli rumah di dekat sini, atau meneruskan rumah orangtua/ pakde/ bude mereka, jadi lumayan Langit punya teman.
    Satu lagi keuntungan tinggal dekat para eyang adalah, karena kebanyakan seusia bokap gue, which is udah pensiun, jadi nggak terlalu risau karena siang hari lingkungan rumah gue ga sepi :)

    1. Kalau di lingkungan dulu, aku malah dipanggil ‘mbak’ sama para eyang ini, dan kalau di kompleks baru dipanggil dengan nama suami. Kesannya udah ibu2 banget *emang iya sih*
      Etapi dulu pas tinggal dekat eyang malah lingkungannya sepi banget. Kok beda ya?

  2. klo tetangga rumah (satu komplek) sebaya kita asik…anak banayk teman kitapun sama tetangga kalau ngobrol nyambung…
    beda cerita dengan teman kantor saya yang beli rumah (second) dikomplek lama, tetangganya udah pad aberumur setengah baya jadi jadi gap alias gak nyambung…
    selamat menikmati bertetangga arisan, posyandu dll

  3. Bener banget! Temen gue banyak yang menjadikan tetangga sebagai mata-mata untuk urusan pengasuhan anak. Apalagi kalo punya ART/pengasuh anak baru. Bantuan tetangga sangat dibutuhkan untuk mengawasi kalau-kalau ART/pengasuh kita aneh-aneh.

    Tapi berhubung gue tinggal di perumahan yang sama dengan mertua, alhasil tetangga-tetangga gue adalah teman-temannya mertua. Seumur gitu. Jadi bingung deh bergaulnya gimana, generation gap soale :D

  4. wah,,,kebetulan tetanggaku masi pasangan muda-muda. Tapi meskipun gitu tetep pasangan aku n suami yg paling muda. Alhasil kami dipanggilnya mbak/mas. Dan karena blm biasa manggil bu/pak, kami juga panggil mereka mbak/mas. :D

Post Comment