Mengenali Karakter Sekolah Lewat Pentas Akhir Tahun Ajarannya

by: - Wednesday, May 2nd, 2012 at 2:00 pm

In: Mommy Chatter School's Cool 21 responses

0 share

Terdengar lebay, ya, masa, sih, kita bisa mempelajari lebih jauh tentang sekolah melalui acara-acara pentas akhir tahun yang digelarnya? Saya juga awalnya nggak terpikir soal itu. Tapi setelah melewati beberapa pentas akhir tahun pada sekolah yang berbeda, saya jadi ‘ngeh’ dengan kemungkinan tersebut. Anak saya, Jibran, sudah kelas 2 SD. Pernah sekolah di dua TK yang berbeda karena pindah rumah dan pernah merasakan kelas 1 di SD yang berbeda dengan sekolahnya sekarang. Jadi, totalnya ada 4 sekolah berbeda.

 

 

Dari semua yang pernah saya datangi, acaranya beda-beda semua, baik dari segi konsep maupun kegiatan yang ditampilkan. Tapi kalau ditilik lebih jauh, ternyata acaranya cukup menggambarkan karakter sekolah tersebut secara garis besar.

Ada yang sambutannya banyak dan lamaa sekali. Dari ketua yayasanlah, kepala sekolahlah, ketua panitialah, ribet pokoknya. Nggak heran, sih, mengingat sekolah tersebut adalah sekolah nasional swasta berbasis agama yang sudah ada dari zaman dulu. Banyaknya peraturan selama jalannya acara juga menggambarkan kakunya sekolah tersebut. Orangtua murid nggak diperbolehkan untuk mengambil foto/video selama acara berlangsung, lho. Lalu karena takut membuat rusuh, anak kecil pun tidak diperbolehkan masuk dan anak-anak yang akan tampil harus tetap berada di belakang panggung sampai acara selesai. Kasihan, kan, mereka tidak bisa melihat teman-temannya beraksi di atas panggung. Pembacaan Al Quran di awal acara juga memerlihatkan pentingnya pelajaran agama untuk sekolah tersebut.

Ada juga yang tema acaranya nggak jelas. Semuanya campur-campur: ada tari-tarian daerah, drama, paduan suara yang menyanyikan lagu nasional sampai lagu yang sedang tren. Namun itu semua tidak ada benang merahnya. Jadi, isinya kebanyakan hanya tarian/nyanyian yang memang dihafalkan untuk acara tersebut. Bukan skill yang sudah dipelajari sepanjang tahun (misalnya main angklung, pencak silat, dan lain sebagainya).

Ada juga yang praktis, dengan sambutan yang lebih genuine, nggak pakai basa-basi, dan hanya 5 menit saja. Acaranya juga sesuai dengan misi sekolah tersebut yang ingin menggabungkan hal-hal tradisional dan internasional. Misalnya anak-anak bermain angklung dengan lagu Twinkle Twinkle Little Star.

Setelah dilihat, memang semua ciri-ciri tersebut menggambarkan karakter atau personality sekolah. Intinya, kan, nilai yang dianut oleh sebuah sekolah, akan terlihat dari keseharian proses mengajarnya serta aktivitas lain di luar kelas, ektrakurikuler yang disediakan, tempat kunjungan wisata yang dipilih, pemilihan seragam, dan lain sebagainya.

Nah, pentas akhir tahun, kan, sesuatu yang diorganisir berbulan-bulan lamanya. Pihak yang terlibat pun sangat banyak dan biaya yang dikeluarkan juga nggak sedikit. Acara ini juga akan menjadi showcase untuk para orangtua tentang kegiatan anak-anaknya di sekolah. Jadi, pasti menjadi sebuah agenda yang penting bagi sebuah sekolah, an integral part of the curriculum. Berarti, paling tidak acaranya harus bagus, harus bisa menginspirasi dan harus ada benang merahnya dengan apa yang diyakini oleh sekolah tersebut. Miris saja kalo untuk acara sepenting itu, ternyata konsepnya berantakan. Bikin kita jadi mikir, kalau bikin acara tahunan saja konsepnya nggak jelas, gimana bikin sistem/kurikulum sekolahnya, ya?

Kekurangan dalam hal koordinasi acara, sih, masih bisa dimaafkan, tapi kalau mereka tidak memanfaatkan acara tersebut menjadi momen belajar untuk anak-anak, menggerakan semangat penonton, dan menularkan kultur dari sekolah tersebut, rasanya sayang sekali. Pentas akhir tahun, kan, dapat dijadikan ajang untuk mengombinasikan beberapa key learning areas yang dibungkus oleh sebuah pertunjukan yang meaningful, memuaskan dalam pengalaman yang holistik.

Minggu lalu saya ke mid-year performance-nya Sekolah Cikal. Ya, kalau di Cikal adanya mid-year performance karena kalau akhir tahun sudah disibukkan dengan berbagai aktivitas lainnya: tes, wisuda, dan lain-lain. Saya senang sekali melihat konsep keseluruhan acaranya  karena menurut saya semuanya sangat menggambarkan komitmen sekolah terhadap Cikal 5 stars competencies.

Acaranya memberikan ruang kepada anak-anaknya untuk berkreativitas dan memberikan ide, jadi bukan hanya memerankan versi mereka atas cerita-cerita drama tradisional yang sudah ada tapi menciptakan cerita sendiri yang seru, dengan tetap menggabungkan elemen tradisional yang membanggakan dan menyisipkan cerita-cerita yang memang terjadi pada saat ini. Contohnya untuk anak kelas dua, diceritakan beberapa dari mereka ingin berjalan-jalan ke luar negeri, tapi salah satu di antaranya ada yang menyarankan untuk pergi keliling Indonesia saja, karena Indonesia nggak kalah menariknya. Jadi mereka berkelana dari satu pulau ke pulau lain, mampir di pulau Jawa, ada yang berbahasa Jawa dan Sunda, mampir ke Sumatera, ada yang menyambut dengan tarian Dinding Badinding, mampir ke Papua dan Kalimantan, ada yang menyambut dengan pakaian, bahasa dan tarian dari masing-masing daerah. Akhirnya mereka merasa tercerahkan dan bangga dengan keanekaragaman negerinya.

Untuk kelas 6, cukup bikin merinding karena sebagian dari mereka bermain biola dan menyanyikan lagu Ibu Pertiwi yang sangat syahdu dan menyayat hati. Lalu mereka juga sama-sama menyanyikan lagu Man in a Mirror-nya Michael Jackson, yang inti dari lagunya mengajak kita untuk membuat perubahan yang dimulai dari diri kita sendiri. Anak TK-nya membangun awareness tentang pentingnya melestarikan hutan. Menurut Head of School Sekolah Cikal, Najelaa Shihab, pentas seperti ini it’s not about what the kids are doing on stage, but more about what messages they are conveying through it. I can’t agree more dan jadi semakin yakin bahwa acara-acara seperti itu sedikit banyak menggambarkan tentang prinsip sekolah tersebut.

Jadi, next time kalau lagi hunting sekolah, nggak ada salahnya Mommies datang dan mengintip acara pentas akhir tahunnya. Siapa tahu jadi bisa lebih mengenali karakter sekolah tersebut dan membantu dalam mengambil keputusan. Good luck, ya :)

 

Share this story:

Recommended for you:

21 thoughts on “Mengenali Karakter Sekolah Lewat Pentas Akhir Tahun Ajarannya

  1. Pingback: Mommies Daily
  2. Pingback: Indah Trisnowati
  3. Pingback: Lina
  4. Pingback: Fitri Permaisuri
  5. Pingback: Annisa Adelea
  6. Pingback: lita iqtianti
  7. Pingback: Hanifa Ambadar
  8. Pingback: kirana
  9. Pingback: Mia Andike
  10. Pingback: risna permatasari
    1. Gue nggak tau sih itu pure dari anak-anak sendiri yang ngusulin atau ada arahan dari gurunya juga. Yang jelas, mereka terlibat dalam pembuatan storynya. Yang kelas-kelas lain juga keren-keren, deh.

  11. Setuju banget! Kalo di sekolah anakku, pentas nya banyak, dan disebut assembly. Untuk SD nya assembly itu 4x setaun, belum lagi pertunjukkan lainnya pas special day tiap semester dan akhirvtahun ajaran. Mentas nya selalu melibatkan anak2, bahkan backdrop panggung, undangan dan kostum anak-anak yang bikin. Memang jadinya ga ‘wah’ ya, relatif sederhana dan anak-anak banget…tapi menurut aku mah justru keren. Istimewanya lagi, assembly yang diadakan biasanya sesuai tema yang dipelajari, misalnya bulan ini sedang belajar tentang uang maka mentas nya tentang All About The Money:).

    Dan assembly udah jadi tradisi di sekolah ini, dari PG ampe SMA ada assembly nya. Kayaknya emang visi misi sekolah dibangun salah satunya dengan meningkatkan pede, kreativitas, keberanian dan kekompakan/kerja sama dengan mentas itu:).

    1. Seru banget assemblynya. Sekolahnya di manakah? Iya gue setuju tuh, mendingan nggak usah wah tapi melibatkan anak-anak, biar mereka belajar tentang prosesnya juga. Udah gitu sering lagi yah, 4 kali dalam setaun. Berarti anak-anak sering dapet kesempatan untuk tampil dan semakin percaya diri.

  12. Hanzky, anak-anakku di TK/SD Mutiara Bunda, Bandung. Iya, assembly nya jadi sering 2x per semester. Tapi ga ribe koq ternyata. Persiapannya simple dan ga mengganggu jadwal akademis mereka:). Uniknya lagi, untuk assembly ini anak bisa milih peran yang mereka inginkan…jadi tiap anak dapet kesempatan yang sama. Malah pernah di assembly anakku MC nya ada 6 orang bergantian hihii:p

  13. Pingback: Mommies Daily
  14. Pingback: Mommies Daily

Leave a Reply