Senang Membaca Tambah Ilmu :)

Tulisan yang bagus hanya lahir dari tangan mereka-mereka yang rakus baca- Dahan Iskan

Suka banget dengan kalimat di atas. Saya suka sekali membaca. Bisa dibilang, saya menikmati membaca apa saja (eh, tapi ya, bukan berarti saya klaim tulisan saya bagus, yaaaaa, sumpah, deh!).

Saya memang bukan si cerdas yang sudah bisa membaca sejak usia 3 tahun misalnya, saya baru bisa baca pas TK. Itupun kadang masih suka ‘nodong’ kakak saya untuk membacakan aneka buku untuk saya waktu itu, hihihi ….

Ketika sudah lancar membaca, langsung segala bacaan saya lahap. Bahkan sampai Tabloid Monitor yang notabene isinya adalah perkara artis-artis sudah saya baca sejak saya berusia 5-6 tahun (haha, tahu kan berarti, ‘bakat’ infotainment ini dari mana?). Saat Sekolah Dasar, barulah saya memulai koleksi buku sendiri. Buku pertama yang saya pilih sendiri saat membeli adalah komik dengan judul Doki Doki. Setelah itu, koleksi buku saya terus bertambah dan semakin luas variasi genre-nya.

Saat ini Langit juga mulai ‘ketularan’suka buku. Pernah suatu kali Langit diajak jalan-jalan sama salah satu tante saya, ketika tante saya ingin membelikan mainan, Langit malah bilang, “Nggak mau, aku maunya buku aja.” Im a proud mommy! :D

Maunya, sih, Langit hobi membaca juga. Seperti kutipan di atas, supaya Langit bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang bagus dan berguna, tentunya (bagus doang kalau nggak berguna, percuma, ya). Hal ini karena saya percaya menulis adalah salah satu basic life skill yang harus dimiliki oleh semua orang. Untuk bisa menulis, maka harus didahului dengan minat baca. Ini juga yang saya dapatkan waktu mewawancarai Clara Ng dan mengikuti seminar dari Plot Point.

Sayangnya, nih, minat baca di Indonesia masih relatif rendah. Berdasarkan hasil riset yang dirilis oleh United Nation Development Program (UNDP) tahun 2008-2009, Indonesia berada di tingkat 96 untuk minat baca masyarakat, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Bahkan masih di bawah Malaysia dan Vietnam, yang notabene jumlah penduduknya jauh lebih sedikit daripada Indonesia.

Dari situs yang saya baca, jumlah produksi buku di Indonesia tahun 2011 adalah 20.000 buku. Jika dibagi dengan jumlah penduduk Indonesia yang 240 juta, maka satu buku itu dibaca oleh sekitar 80.000 orang!

Ada data lagi, nih, berdasarkan Center for Social Marketing (CSM), yang lebih menyedihkan, yaitu perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.

Nah, melihat hal ini, nggak mau dong, anak-anak kita menjadi generasi dengan minat baca minus. Saya ingat sekali ada sebuah stiker bonus dari Majalah Bobo waktu SD yang bunyinya, “Gemar membaca Tambah ilmu”. Mommies percaya, kan, sama hal ini?

Sehubungan dengan Hari Buku Sedunia yang jatuh pada hari ini, yuk, kita ajak anak-anak untuk mencintai buku!


20 Comments - Write a Comment

  1. Samaa.. Gue juga suka banget baca. Dari kecil doyan baca apaan aja, termasuk rubrik Oh Mama Oh Papa yang heits itu. Jadi deh dari kecil udah kenal kata selingkuh, istri simpanan, anak haram, dll T__T

    *pelajaran untuk menyimpan buku-buku yang belum pantas untuk dibaca Nadira someday*

    Dari dulu, kalo baca sebuah buku (Harry Potter misalnya), gue bisa tahan gak mandi dan gak tidur sampe bukunya kelar. Paling-paling keseling sama makan dan pipis doang sih. Mudah-mudahan Nadira kalo nanti jadi book freak jangan ikutin gaya emaknya dulu ya, hihihi..

Post Comment