Konsep Pernikahan Barat Versus Timur

Sewaktu tengah berlibur ke Bali beberapa saat lalu, saya bertemu banyak sekali pasangan bule berusia lanjut yang tengah menikmati bulan madu kesekian mereka di Pulau Dewata. Hati terasa hangat melihat pasangan yang rata-rata sudah pensiun itu berjalan berdampingan sambil berpegangan tangan.

Di hotel, saya bahkan bertemu pasangan yang (literally) saling menuntun satu sama lain. Saat menemui kontur tanah yang sedikit berundak-undak, sang suami bolak-balik membantu sang istri berjalan, meski ia sendiri menggunakan tongkat. Setelah selesai menyelesaikan “tantangan” dan sampai ke bagian tanah yang rata, mereka pun berjalan sambil berpegangan tangan, dengan perlahan-lahan, menuju restoran tempat sarapan.

Saat saya melihat pemandangan itu, saya langsung berbisik pada suami “Nanti kalo sudah tua kita traveling kayak mereka, yuk.” Ealah, jawaban suami bikin kuciwa banget deh. Dia menjawab begini “Aku sih lebih seneng traveling rame-rame bareng anak cucu kalo udah seumur itu.” Zzzzz ….

Di sinilah saya mencoba menelaah (ceileh bahasanya) perbedaan konsep pernikahan ala Barat dan Timur. Dari berbagai literatur dan film-film Hollywood, saya perhatikan, konsep pernikahan dari dua dunia ini memang cukup berbeda. Pernikahan ala Barat memfokuskan pada hubungan antara suami dan istri. Sementara pernikahan ala Timur memfokuskan pada hubungan keluarga, terutama anak.

Nggak heran dalam pernikahan ala Barat, anak kerap dipandang bukan sebagai elemen penting sebuah hubungan. Kasarnya, nih, menikah tanpa punya anak bukanlah sebuah masalah besar. Yang dijadikan titik berat adalah hubungan antara suami dan istri.

Apalagi di dunia Barat, pada usia 18 tahun, anak rata-rata sudah diperbolehkan untuk mandiri dan bebas keluar rumah. Orang tua hanya bertugas mendidik dan membesarkan mereka hingga usia tersebut. Setelah itu, orang tua hanya akan tinggal berduaan saja. Nah, jika hubungan antara suami dan istri kurang harmonis, atau hanya berfokus pada anak, saat si anak pergi, tentu saja rumah tangga bisa terancam berantakan.

Sebaliknya, dalam pernikahan ala Timur, anak merupakan elemen yang sangat penting dalam sebuah hubungan. Tujuan menikah adalah untuk bereproduksi, titik. Makanya banyak pernikahan yang berantakan karena tiadanya keturunan. Jika sepasang suami istri tidak juga memiliki keturunan dalam tempo lebih dari 1 tahun, pertanyaan tentang anak pun akan terus didengung-dengungkan dari keluarga besar, tetangga, teman-teman hingga orang asing.

Pernikahan yang berpusat seluruhnya pada anak kerap ditemukan di berbagai budaya Timur, terutama Indonesia. Apalagi dalam budaya Timur, anak selamanya akan menjadi tanggung jawab dan terikat pada orangtuanya. Sehingga terasa wajar jika kita melihat anak yang sudah menjadi orangtua dan beranak pinak, masih tinggal bareng orang tuanya. Atau orangtua yang menjadi pengasuh cucu-cucunya.

Lantas, mana yang lebih baik? Kalo menurut saya, sih, kedua konsep pernikahan ini tidak bisa dibandingkan apple to apple, ya. Tapi kalo saya boleh berpendapat, akan lebih baik jika kedua konsep itu digabungkan, diambil yang baik, dan ditinggalkan yang jeleknya.

Kenapa? Karena kalo mengambil sisi ekstrem dari kedua konsep tersebut, akan menyeramkan, lho, efeknya. Konsep pernikahan Barat, misalnya, jika terlalu dianut dengan ekstrem, alias benar-benar hanya memfokuskan pada hubungan pasangan, akan menghasilkan anak-anak yang merasa terabaikan, kesepian dan pemarah.

Saya pernah membaca sebuah artikel tentang mantan Presiden AS, Ronald Reagan dan istrinya, Nancy Reagan. Pasangan tersebut digambarkan selalu romantis di mana pun mereka berada. Namun di balik itu, mereka ternyata lebih fokus dan sibuk pada diri masing-masing, dan kurang peduli dengan anak-anak mereka sendiri.

Sementara konsep pernikahan Timur, jika diambil sisi ekstremnya, akan menghasilkan pernikahan seperti yang terjadi di masa lalu, yang langgeng tapi sebenarnya rapuh. Istilah Bahasa Sunda-nya, awet rajet. Di sini, pernikahan dipaksakan untuk terus berlanjut, meski kondisinya sudah sangat tidak kondusif, hanya demi anak-anak. Misalnya terjadi KDRT, perselingkuhan berkali-kali, atau ekonomi yang tidak stabil.

Atau seperti yang dialami beberapa pasangan yang saya kenal dekat. Begitu mereka pensiun dan anak-anaknya mandiri, mereka pun gelisah dan merasa terancam. Kenapa? Karena sepanjang usia pernikahan, mereka tidak punya kedekatan personal dengan pasangan masing-masing. Yang dijadikan fokus adalah anak melulu. Jadi begitu mereka akhirnya punya waktu luang untuk bersama-sama hingga akhir hayat, hubungan terancam karena koneksinya sudah hilang dan menjadi hambar.

Untuk memadukan dua konsep ini, susah-susah gampang sih. Menurut saya, dengan terbukanya era informasi, kita yang terbiasa dengan konsep pernikahan Timur, bisa membaca dan belajar mengenai konsep pernikahan Barat. Buat perempuan mungkin nggak susah ya, apalagi perempuan kan biasanya ingin disayang-sayang dan diperlakukan secara romantis seperti dalam film-film Hollywood (ayo ngaku semuanyaa.. ). Mungkin buat pria yang agak susah ya, apalagi kalo prianya kayak suami saya, hehehe..

Untuk langkah pertama, ya mungkin saling berbicara tentang keinginan dan kebutuhan dalam rumah tangga ya. Saling jujur begitu. Dari situ semuanya dikompromikan. Kemudian sadari juga, anak memang segalanya, tapi inget pakem ini deh “Happy parents make happy kids.” Kalo hubungan antara kedua orang tua tegang, anak juga ikutan tegang lho. Di sini saya setuju dengan konsep pernikahan Barat. Fokuskan dulu pada masalah dan problema yang ada di antara suami istri, selesaikan dan lanjutkan dengan masalah anak.

Lalu sediakan waktu khusus untuk berduaan dengan pasangan. Kalo anak masih kecil dan nggak ada pengasuh, nggak usah neko-neko dengan berencana pergi atau traveling berduaan. Cukup cari waktu untuk ngobrol berduaan sambil nonton DVD saat anak tidur. Atau seperti yang sering saya lakukan, mengobrol berdua di mobil saat berangkat kerja. Jadi momen terjebak macet justru bisa berguna untuk menyelesaikan masalah antara saya dan suami, atau justru sebagai “me time” kami berduaan.

So, what do you think then, Mommies?


42 Comments - Write a Comment

  1. Artikel yg bagus. Saya hidup di perancis dan sudah berumah tangga hampir 20 thn dgn pria perancis. Memang benar di culture eropa memiliki seorang anak tidak harus merubah hubungan “pacaran” antara suami istri. Saya mommy bagi tiga anak saya but before all i’m a woman and his wife.

    Yang saya kurang setuju dengan artikel anda adalah pendapat bahwa di barat anak dianggap elemen yg kurang penting. Ini tidak benar, atau mungkin sejauh ini anda gaul sama bule yg kurang representatif dari kulturnya. Disini seorang anak mendapat tempat yg besar, bedanya adalah cara pendidikan yg jauh lebih mandiri dan dewasa daripada di indo. Disini sangat biasa seorang anak “kerja” dari kecil untuk nambah uang saku. anakku untuk bisa dapat skate board musti motong rumput halaman selama 2 jam x 3 hari. Sedangkan sepupunya di bandung bisa punya barang mewah padahal finance keluarga tidak mapan. Anak juga tidak di bayi-bayi karena gemes hehhe… Disini perhatian lebih pada percakapan dan beraktivitas bersama… Tentunya sebagai orang timur saya menambah bumbu indonesia sebagai ibu yg sweet pada anak anak. Ini yg kurang dari ibu ibu perancis bagi saya.

    Satu hal praktis : disini tidak ada istilah punya anak banyak biar ngopeni saya kalau sudah tua. Disini anak tidak punya beban mengurus ortu kalau sudah tua. Itu bukan keharusan hukum walaupun tetap kewajiban moral. Pemerintah sudah punya program untuk mengurus manula.

    Sekali lagi bedanya menurut saya adalah kenyataan menjadi ibu atau bapak tidak membuat mereka berubah bentuk he he… Yg berubah hanyalah usaha dan kewajiban sebagai ortu. Tapi tetap being you.
    Seperti yg kau bilang : happy parents make happy kids. Setuju :-)

Post Comment