Never Ending Questions…

Bosan dan sebal ditanya “Kok belum hamil-hamil?” ?
Would you believe nantinya masih bakal ada:
“Kok cuma satu? Kasian, kan, nggak ada temennya. Mbok nambah lagi..”
Atau “Dua, kan, cewek semua, belum ada cowoknya tuh.” (atau sebaliknya).
Model lain,”Wah, udah sepasang yah? Gak satu lagi?”
Bahkan,”Wih, cepet, ya, tahu-tahu sudah tiga. Nggak digenepin sekalian?”

*gambar dari sini

Hampir semua kalimat di atas pernah saya dapat.
Jawabnya? Tetep tebar senyum walau rada gondok.
Buat saya, hamil bukan urusan manusia, mau itu kehamilan pertama, kedua, ketiga, dst. Ya manusia ‘berusaha’, tapi kalau tiupan roh masih harus antre, ya, nggak akan hamil. Jadi, ya, mana bisa ‘nyuruh’ nambah?
Selain itu, enak aja nyuruh-nyuruh, memangnya situ yang ngongkosin, kasih makan, dan nyekolahin? :D

Yang sudah punya satu atau lebih momongan dan memang belum berencana nambah dalam waktu dekat mungkin bisa santai pasang senyum simpul. Nah, yang belum dapet nomor antrian untuk hamil? Malah nambahin pikiran. Kesannya nggak usaha, nggak berdoa, nggak niat, nggak ngarep, dan seterusnya. Sebal yah..

Kemarin ini, pas saya sedang hamil anak keempat. Guess what? Omongan-omongan menyebalkan itu tetep ada.
“Hah? Sudah hamil lagi?”
“Banyak banget, sih? Hobi, ya?”
“Gimana nanti sekolahnya? Sekarang sekolah mahal, lho”
“Berdekatan amat umurnya? Kasihan, lho, kurang perhatian”

Tenang, ayah sama ibunya pastinya sudah menimbang masak-masak tentang keputusan ini. You can always ask ‘why’ politely lho, ketimbang asal nyeplos “hobi ya?”

Jarak umur juga nggak selalu bisa direncanakan. Ibu saya berputra tiga dengan jarak 4 dan 4,5 tahun. Beliau sebenarnya berharap jaraknya 3 tahun saja supaya ngga terlalu jauh. Tapi ternyata secara jam biologis, ‘jatah’ ibu saya, ya, segitu.

Saya sendiri, berharap jarak nggak terlalu jauh. Dua tahun bolehlah. Ternyata jarak D3 ke D4 nggak kurang dari 3 tahun persis, padahal saya sudah ‘memrogram’ sejak D3 berusia kurang dari 2,5 tahun. Semua kembali ke tangan Tuhan. Kan manusia cuma merencanakan. Percuma saja diprotes kok begini, kok begitu.

Jadi, kalimat “Kok belum hamil-hamil?” itu memang nggak akan ada ujungnya; malah banyak sambungannya. As in:
“Kok belum lahir-lahir?”
“Kok belum tengkurep/duduk/merangkak/jalan/ngomong/dst?”
Apalagi kalo ada pembandingnya, misal sepupu yang nikahnya atau punya anaknya bareng.

Nantiiiii…pada saat anak mulai kenal kehidupan sosial (baca: sekolah) kita akan bertemu lebih banyak orang (baca: ibu-ibu!) yang hobi banding-banding. Biarlah itu jadi urusan nanti ya. Walau boleh, lho, dari sekarang kumpulin catatan ‘1001 kalimat ngeles’ :D

So moms (and moms-to-be in TTC), bear it. Sabar yaa.
Mark every “Kok belum hamil-hamil?” question as one step closer to the bundle of joy :)


30 Comments - Write a Comment

  1. Hampir tidak pernah aku ngelontarin kalimat itu sama siapa pun..*blum hamil-hamil? atau sebangsanya* bahkan sama kakak’ku yang sudah menikah 2 tahun tapi belum dikaruniai keturunan..malah setelah 2.5 tahun, dan pas setelah aku nikah kita berbarengan hamil..kalo sekarang aku lagi dikomentarin “Koq bayinya kecil sie?, beratnya berapa? ASI doank ya? gak makan langsung?* itu pertanyaan yang aku terima dari anak’ku masih 3 bulan.. bikin ngantuk dan ngelengos pergi..

Post Comment