Ketika Tiba Saatnya Menyapih

by: - Thursday, March 29th, 2012 at 8:03 am

In: Breastfeeding 37 responses

0 share

Sejak mendekati usia Kana 2 tahun, saya selalu berkata kepada suami saya kalau saya tidak mau menyapih Kana. Saya mau Kana sendiri yang menyapih dirinya alias self weaning. Dan hal ini berulang-ulang kali saya tegaskan kepada suami saya. Jadi ketika suatu ketika saya berkeluh kepada suami saya kenapa Kana belum juga menyapih dirinya, suami pun mengingatkan saya kembali akan perkataan saya dan dia hanya minta saya untuk menikmati saja masa-masa menyusui itu.

Awal Januari kemarin, saya mengetahui bahwa saya sedang mengandung anak kedua. Tentu saja ketika kontrol pertama ke DSOG, hal pertama yang saya tanyakan adalah bagaimana kondisi kehamilan saya jika saya tetap menyusui Kana. Dan DSOG saya pun berkata bahwa selama saya tidak mengalami kontraksi apa-apa, maka saya bisa tetap melanjutkan menyusui Kana. Akhirnya saya pun tetap menyusui Kana dan mengurungkan niat untuk memulai weaning. Walaupun demikian, saya melanjutkan proses ”hypnosis” untuk berhenti nenen kepada Kana.

Bulan berganti dan seiring perkembangan janin di rahim, Kana pun mulai sedikit demi sedikit belajar bahwa di dalam perut mama ada dede bayi yang nantinya akan nenen. Awalnya dia sempat menyatakan tidak boleh. Tapi lama-lama, ketika ditanya siapa yang nenen, dia pun menjawab adik bayi. Dan seiring waktu itu pula, saya menyadari bahwa Kana mulai mengurangi frekuensi menyusunya. Dari yang awalnya 2 kali sehari hingga terakhir 1 kali sehari.

Hingga tiba pada suatu hari dia berhenti menyusu sama sekali. Awalnya saya pikir karena dia ketiduran di kamar ibu saya, makanya dia tidak menyusu, tetapi ternyata keesokan harinya diapun kembali tidak menyusu. Awalnya kaget. Karena walaupun saya sudah ada feeling, tetap saja buat saya ini adalah hal yang mendadak.

Hari ketiga, Kana terlihat seperti kangen nenen. Dan mulailah ia menangis dan merengek meminta nenen. Pada saat itu, akhirnya sayapun menguatkan diri untuk tidak memberikan nenen kepada Kana. Proses self weaning itupun beralih ke weaning with love. Akhirnya malam itu, Kana berhasil di alihkan perhatiannya oleh papanya. Setelah minum susu dan diajak ngobrol, Kana pun tertidur di pelukan suami saya.

Cobaan bagi saya baru benar-benar datang di hari kelima ketika Kana tiba-tiba demam tinggi dan kebetulan suami sedang dinas ke luar kota. Keinginan saya untuk memberikan ASI langsung nyaris tak terbendung. Ditambah melihat wajah mungil yang sedang sakit itu menangis meminta nenen. Sungguh hati ibu mana yang tega melihat anaknya menangis seperti itu. Dengan berat hati, saya berusaha sekuat tenaga untuk bisa kuat dan tidak memberikan nenen kepada Kana. Saya akhirnya hanya melanjutkan home treatment dan tentu saja memberikan banyak pelukan untuk Kana.

Ketika keesokan harinya suami saya pulang dari dinas tersebut, Kana yang memang sedang dalam masa papa mania langsung bermanja-manja dengan suami saya. Terlebih lagi saat itu dia sedang demam. Jadi langsung saja suami saya mengambil alih perawatan Kana. Terlebih lagi suami juga sudah paham dengan proses weaning with love dan tentu saja dia juga paham keadaan emosional saya yang labil ini.

Dan setelah kepulangan suami saya, proses weaning ini berjalan lebih lancar. Kana yang walaupun masih demam, bisa teralihkan perhatiannya dari nenen. Dia sudah tidak meminta nenen lagi. Dan jika ditanya, “Nenen untuk siapa?” dia sekarang menjawab “Nenen untuk dede bayi” lalu dia tertawa dan mencium perut saya. Alhamdulillah sekarang Kana sudah mulai kembali ceria dan sehat. Nenen sudah mulai terlupakan.

Teringat kembali SMS balasan dari suami saya yang sukses membuat saya tersedu ketika berkeluh tentang perasaan saya ketika Kana mulai proses weaning.

 

Tup tup sayang. Gak apa-apa. Cepet atau lambat Kana akan berhenti nen. Yang penting kamu ikhlas. Kedeketan kamu sama Kana gak cuma nen. Masih banyak hal lain. Kita sebagai orang tua pasti akan tergeser seiring sama waktu. Yang penting kita memposisikan diri sebagai orangtua, pendamping, guru, temen, penjaga dan penolong buat Kana dan adiknya nanti. Sabar, ya, sayang.

Betul sekali apa kata suami saya waktu itu.. Saya harus bisa menikmati setiap detik dari proses menyusui itu. Karena ketika tiba saatnya untuk weaning, saya harus bisa ikhlas dan proses itupun akan lebih lancar dan masa menyusui itupun usai. Usai itu bukan berarti akhir. Tetapi itu adalah awal dari suatu hubungan dan perjalanan baru yang tentunya juga indah antara saya dan Kana.

Terima kasih Kana sayang, kamu telah memberikan kesempatan kepada mama untuk bisa menyusui kamu selama  2 tahun 3 bulan 3 minggu dan 3 hari yang indah. Hari-hari indah antara kita berdua. Kedekatan indah antara kita yang akan selalu mama ingat selamanya. Mommy love you so much, Kana.

Share this story:

Recommended for you:

37 thoughts on “Ketika Tiba Saatnya Menyapih

  1. Pingback: ekaeka
  2. Pingback: Kiki Nur Utami
  3. Pingback: mira a
  4. Pingback: Annisa
  5. Pingback: Risha Paramita
  6. Pingback: Affi Assegaf
  7. Pingback: tettymeta
  8. Pingback: Jeng.Yessy
  9. ini artikel pertama yang saya baca sesaat setelah saya register ke femaledaily , dan sukses bikin saya mewek…aku jg lg berusaha pelan2 menyapih anakku yg usianya 20m,tetapi tetep saja ngak rela kalau harus berhenti kasih nen utk dia.semoga bisa weaning with love seperti mbak ya…kiss utk kana,dan semoga kehamilannya lancar :)

  10. hai hai semuanya….. saya baru gabung di mommiesdaily. Salam kenal semuanya, Nama saya kiki sastra. Boleh ya ikut comment n share :) kalau di rumah mama saya sering bilang kalau air susu saya sudah basi, kenapa masih dikasih juga ke anak saya Kayra umur 2 tahun 10 bulan (masih ortu jadul banget yaaaaa, hehehehe) tapi saya cuek aja. Soalnya Kayra sepertinya masih sangat menikmati moment-moment menyusunya. Membaca cerita tentang Kana membuat saya semakin yakin bahwa anak-anak punya kehendak dan waktunya masing-masing untuk weaning dan tidak perlu kita stop tiba-tiba apalagi kalau sampai memaksa…… thanks mama Kana atas sharenya, bikin saya makin yakin kalau saya sdh ada di jln yang benar hehehehehe…..

    1. Hehehe.. Memang setiap anak punya kehendak dan kemauannya masing-masing. Dan saya pribadi lebih memilih proses self weaning atau proses weaning with love, dimana anak berhenti secara bertahap, bukan dengan “paksaan”. Kalau untuk Kana, memang sejak memasuki usia 2 tahun saya sudah memberi “hypnosis” untuk berhenti nen, walaupun memang saya tidak menargetkan kapan dia akan berhenti karena dalam hati lebih “rela” kalau Kana yang menyapih dirinya sendiri. Semoga jika tiba saatnya untuk menyapih Kayra, prosesnya dimudahkan dan di lancarkan ya.. :)

  11. Mom, anakku yg pertama juga menyapih diri saat usia kandunganku 5 bulan, “buat adik aja, Ma” gitu katanya, langsung berhenti mendadak tanpa tangisan…bedanya, saat itu dia udah berusia 4,5 tahun :)

  12. Subhanallaah… Terharu banget baca nya. *aslinya berurai air mata alias mewek*

    Persis banget yg saya alami. Saat kehamilan 5 bulan, putri saya yg baru menginjak 21 bulan berhenti mimi tanpa paksaaan seperti dikasih pait2an atau lain2. Mudah2n ini juga termasuk weaning wih love yg selama ini saya harapkan klo tiba saatnya disapih. Meski terkadang, rasa rindu untuk mendekap tubuhnya dan memandang wajahnya yg menikmati ASI datang menggoda. Apalagi, di awal ASI dulu termasuk yg sedikit bermasalah, sampai bertengkar dan ngotot untuk ASIX melawan mertua. Suami jg dulu di awal sempat goyah menyuruh saya memberi formula, meski akhirnya menjadi pendukung setia dan pelindung saya saat ‘diserang’ masalah ASI sampai weaning with love in tercapai.

    Thank you banget sharing sms dari suaminya Mba, bermakna banget :) KissKiss…
    *Masih sambil ngelap air mata*

  13. Pingback: Bobita Wrap
  14. Pingback: Mommies Daily
  15. Pingback: Dewi Hidayanto
  16. Pingback: dyta sitompul
  17. Pingback: Forum Asi Kalsel
  18. Pingback: Mommies Daily
  19. Pingback: ♥ Dewi Yunita
  20. Pingback: wenny yulianita
  21. Pingback: indri selfiani
  22. Pingback: Vini Safitri
  23. Pingback: endang dwi astuti
  24. Pingback: Lulu Alexander

Leave a Reply