Saat Anak Tak Mau “Dipamerkan”

Mempunyai anak memang membanggakan bagi orangtua. Namun kadang-kadang, orangtua terlalu mengharap hal yang lebih dari sang anak, bahkan ketika dia masih kecil sekalipun. Suatu sore dengan semangat saya mengajak Cinta ke acara reuni dengan teman-teman kuliah. Berbeda dengan reuni terakhir 3 tahun lalu, kali ini saya bisa ajak anak seperti teman lainnya. Saya berencana menunjukkan kepintaran Cinta pada teman-teman saya. Di rumah, Cinta sudah bisa melakukan permintaan sederhana seperti mengambil sesuatu, bersalaman, kiss bye, dan menyanyi lagu Balonku.

Acara itu ramai oleh anak-anak teman-teman. Suara anak-anak bersaing dengan tawa bapak-ibu mereka. Begitu datang saya sapa teman-teman sekaligus mengenalkan Cinta. ”Ayo sayang, salaman dengan Tante dan Om” kata saya pada Cinta. Seorang teman menyodorkan tangan, menunggu Cinta membalas salamnya. Tapi Cinta diam saja. Dia malah berpaling dan memeluk saya. Saya berusaha menarik tangan kanan Cinta. Tapi nihil, Cinta tetap pada posisinya, malah mempererat genggamannya. Saya kecewa sekali.

Tidak lama beberapa anak teman saya mengambil microphone dan berkaraoke menyanyikan lagu Balonku. Semangat saya muncul lagi, itu adalah lagu kesukaan Cinta. Cinta sering sekali menyanyikannya. Langsung saya ambil microphone untuk Cinta. ”Ayo sayang, nyanyi Balonku bareng kakak-kakak,” bujuk saya dengan ekspresi wajah seceria mungkin. Cinta mengerutkan alisnya. Saya bujuk dia lagi sambil saya nyanyikan lagu tersebut ”Balonku ada lima…rupa-rupa warnanya ….” Cinta hanya memegang microphone. Saya coba dekatkan mic itu ke mulutnya, Cinta malah menjauh dan menggeleng. Saya lanjutkan menyanyi. Begitu terus sampai akhirnya 3 putaran lagu Balonku selesai saya nyanyikan. Cinta tetap tak bersuara.

Tak lama acara makan-makan dimulai. Paling tidak sedikit mengalihkan kekesalan. Sedikit nasi dengan lauk pauk saya ambilkan untuk Cinta. Biasanya Cinta bisa makan sendiri. Tapi tidak tahu apa yang terjadi dengan Cinta malam itu, tidak sesuap nasi pun dimakannya. Dia malah asyik mengaduk-aduk makanan. Nasi jadi berceceran di lantai. ”Cinta, jangan, ya, Sayang…” larang saya lembut agar tidak terdengar teman. Beberapa kali saya ulang, tapi rupanya tidak mempan. ”Cinta! Mama bilang jangan! ” nada saya meninggi. Mata saya menatap tajam ke arah Cinta yang terkaget mendengar bentakan saya. Tak lama mata Cinta berkaca-kaca dan meledaklah tangisnya.

Rusaklah rencana saya membanggakan Cinta. Segera saya tinggalkan ruangan dan menggendong Cinta ke halaman rumah yang sepi. Kubiarkan Cinta melanjutkan tangisnya disitu. Begitu tangisnya berhenti kami masuk lagi dan melanjutkan acara makan kami yang tertunda. ”Aduh maaf, ya, Cinta lagi bad mood,” saya coba beri penjelasan pada teman-teman. “Biasa saja lagi, Rin. Namanya juga anak-anak. Kamu kayak nggak pernah kecil saja,” kelakar seorang teman menghibur. Saya cuma bisa tersenyum kecut. Saya nggak mengerti kenapa Cinta mendadak tidak mau menurut. Disuruh salaman tidak mau, menyanyi tidak mau, makan tidak mau, bahkan mengacak-acaknya. Rasanya saya ingin cepat pulang dan menumpahkan kekesalan ini.

”Mama … mama, ada kucing,” kata Cinta tiba-tiba. Semua orang memandang ke arah yang ditunjuk Cinta. Ada seekor kucing berwarna belang-belang datang dari dapur menghampiri kami. Cinta turun dari kursinya.”Kita kasih makanan, ya, Ma. Kasihan kucingnya lapar,” kata Cinta meminta persetujuan sambil membawa sepotong tempe goreng dan memberikannya kepada si kucing.
”Waahh, anakmu baik sekali, Rin,”, bisik teman yang duduk di sebelah saya. Mendadak hilang semua kekesalan saya pada Cinta sore ini. Mungkin Cinta memang tidak suka “dipamer-pamerkan”, apalagi pada banyak orang. Mungkin dia merasa kurang nyaman sehingga tidak mau melakukan apa yang saya minta. Tapi baru saja Cinta membuat saya bangga dengan caranya sendiri.

Pukul sembilan malam, Cinta sudah mengantuk dan kamipun berpamitan pulang. ”Ayo, Cinta kita pamit, salam sama tante,” pinta saya. Cinta menolak sambil meliukkan badannya. ”Kiss byekiss bye.” Saya mencoba memberinya pilihan berharap Cinta mau memberikan isyarat tanganya. Lagi-lagi Cinta diam saja. Saya dan teman-teman saling berpandangan, tak lama kami tersenyum.

Sambil menggendongnya pergi saya mencium pipi Cinta lalu berbisik di telinganya, ” Mama bangga padamu, Nak!” Maafkan Mama yang terlalu memaksakan keinginan. Setetes air mengalir dari sudut mata saya mengingat kejadian tadi.


24 Comments - Write a Comment

  1. Jadi ingat dulu waktu Vaya ulang tahun ke 4, dia ngambek gak mau masuk ke ruangan, dan akhirnya tidak ada acara tiup lilin. Saya kesal dan marah karena merasa sia-sia saja bikin ultah meriah di Lolipop tapi mendadak yg ultah bad mood.
    Tapi terus saya sadar dia hanya anak-anak, dan sebagai orang tua saya harus bisa jadi orang yang diandalkan oleh dia, dan kemudian saya biarkan saja dia ngambek… biarkan dia sampai adem… toh ini hanya acara ultah, toh yg penting dia baik2 saja, dia sehat, dia senang…..
    Thx banget sudah sharing mb…. :)

Post Comment