Umrah Ramadan Bersama Anak

Alhamdulillah keinginan saya untuk umrah pada saat Ramadhan tercapai di tahun 2011. Saya memang berencana mengunjungi kakak yang tinggal di Qatar tapi merasa sayang jika tidak mampir ke Saudi Arabia untuk berumrah karena jaraknya yang dekat. Seperti biasanya setiap saya ke luar negeri, anak-anak (Tisha 5thn & Sasha 1,5thn) pasti saya ajak ditambah si kecil juga masih menyusui. Sempat timbul kekhawatiran jika ibadah terganggu dan sebagainya tapi karena Tisha pernah saya ajak umrah pada saat berusia 2 thn, Alhamdulillah saya cukup tahu kondisi di sana.

Kamis 28 Juli 2011, berangkatlah kami menuju Doha-Qatar dengan menggunakan Qatar Airways. Beruntung sekali flight-nya tengah malam, jadi anak-anak pun tidur selama perjalanan. Sampai di sana pukul 05.35 waktu setempat dan anak-anak pun sudah segar.

Kami di Doha selama seminggu mengunjungi Souq Waqif, The Pearl, Corniche, Villagio, Sealine Beach, dan Islamic Art Museum. Pada 5 Agustus 2011 berangkatlah kami menuju Medinah dengan Qatar Airways. Setelah istirahat sebentar di hotel, langsung siap-siap buka puasa di Masjid Nabawi. Dari hotel saya hanya membawa minuman, begitu keluar saya kaget dengan begitu banyaknya orang yang membagi-bagikan makanan dan minuman. Alhasil saya berhasil menenteng nasi briyani, yogurt, dan roti Arab. Lumayan banget, hihihi. Seperti diketahui, orang yang memberi makanan atau minuman buka puasa maka ia mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu. Jadi, orang-orang di sana pun berlomba-lomba untuk membagikan makanan untuk berbuka puasa malah terkadang memaksa.

Karena membawa nasi, maka saya tidak diizinkan masuk masjid jadi saya memilih untuk berada di pelataran masjid. Menjelang berbuka, masih terlihat orang-orang yang mondar-mandir menawarkan kopi atau teh Arab dan kurma. Alhamdulillah anak-anak anteng selama saya salat. Tisha ikut salat sementara kalau adiknya jalan agak jauh, dia berhenti salat dan mengambil adiknya atau saya gendong adiknya sambil salat. Stroller tidak diperbolehkan masuk masjid jadi kalau bawa harus puas dengan salat di pelataran masjid. Mengenai makanan, karena dari kecil saya biasakan untuk mencoba beraneka makanan maka tidak ada kendala apa pun di sana. Malah Sasha doyan banget, tuh, nasi briyani. Setiap kali ke masjid sebaiknya wudhu dari hotel agar tak perlu repot antri di masjid.

O, ya kalau bawa anak pada saat umrah, siap-siap anak kita diciumin, digendong, dipeluk, dielus-elus, dan dicubit gemas karena orang-orang di sana suka sekali dengan anak kecil. Untuk belanja oleh-oleh paling enak sesudah salat subuh karena tidak panas dan semua toko pun buka. Ditambah pedagang-pedagang dadakan berhamburan di luar masjid.

Oke, lanjut deh cerita pas lagi di Mekkah Alhamdulillah dapat Hotel Zam Zam yang letaknya persis di depan Masjidil Haram. Setelah check-in, langsung lanjut untuk menunaikan ibadah umrah. Niatnya dari awal mau sewa kursi roda (karena stroller gak boleh digunakan dalam masjid) untuk si kakak karena tawaf 7 kali keliling Ka’bah pasti akan melelahkan buat dia. Eh, ternyata karena saking banyaknya orang maka untuk tawaf kursi roda tidak boleh dipergunakan dan hanya boleh digunakan jika tawaf dilakukan di lantai 2 di mana putaran lebih besar jadi pasti akan makan waktu jauh lebih lama. Jadi dengan terpaksa Tisha jalan sendiri sementara Sasha saya gendong. Selama tawaf  Sasha tidur di gendongan saya dan Tisha mengikuti tanpa mengeluh sedikit pun sampai selesai. Itulah saya rasa kekuasaan Allah SWT.

Bersyukur sekali yang tadinya khawatir setengah mati takut anak-anak ribut terus nggak bisa menyelesaikan tawaf, Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Ajaibnya saya pun tidak merasakan kelelahan berjalan melakukan tawaf sekitar 1 jam lebih itu sambil gendong anak dalam keadaan berpuasa. Pada saat sa’i saya langsung menyewa kursi roda untuk Tisha yang tampak lelah. O, ya jangan lupa untuk menawar harganya. Mereka juga menawarkan jasa untuk mendorong kursi roda tapi saya nggak rekomen karena mereka mendorongnya ngebut sekali dan sembarangan. Sesudah sa’i ada tahalul yaitu menggunting sebagian rambut. Sebaiknya bawa gunting kecil sendiri meskipun di sana banyak yang mau meminjamkan gunting tapi biasanya sesudahnya meminta bayaran.


Karena membawa anak-anak saya sengaja memilih tempat-tempat yang sekiranya akan mereka suka seperti kebun kurma, di sana bisa sekalian beli oleh-oleh berbagai jenis kurma, naik unta di padang Arafah, melihat peternakan unta serta mencoba susu unta, dan ke Jabal Magnit di mana mobil akan tertarik tanpa digas sama sekali.

Umrah Ramadan bersama anak-anak merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Banyak sekali kemudahan yang saya peroleh, juga peristiwa-peristiwa yang sebenarnya nggak masuk akal. Yang saya takuti terjadi pun tidak ada yang jadi kenyataan. Saya yakin asal niatnya lurus pasti Allah SWT kasih jalan. Tisha, yang memang ingin sekali mencium Ka’bah, kesampaian , lho. Alhamdulillah.


14 Comments - Write a Comment

  1. Aku sampai terharu bacanya, apalagi Tisha & adeknya ga rewel. hebaat… aku jg pengen umrah brg anak2. mdh2an dikabulkan oleh-Nya. Aamiin.

    Btw, kalo bawa balita saat haji akan selancar umrah ga yaah? sudah ada yg punya pengalaman belum yaa?

Post Comment