Nonton Film Dewasa Ajak Anak?

Di timeline Twitter saya sedang ramai dibicarakan soal orangtua yang mengajak anak-anaknya menonton film dewasa di bioskop. Film dewasa yang dimaksud ini bukan sembarang film dewasa, melainkan sebuah film laga yang penuh adegan kekerasan. Bahkan untuk beberapa orang dewasa sekalipun, film ini menampilkan adegan yang cukup mengerikan untuk dilihat.

Banyak pihak menyayangkan para orang tua yang “tega” mengajak anak-anak mereka nonton film semacam itu di bioskop. Apalagi memang pembuat film-nya dan Lembaga Sensor Film sudah jelas-jelas memberi label “DEWASA” pada film tersebut.

Fenomena orangtua yang mengajak anak-anak mereka menyaksikan film dewasa di bioskop sebenarnya bukanlah barang baru. Waktu saya masih jomblo, saya seringkali merasa terganggu dengan para orangtua yang mengajak bayi atau balita mereka nonton film dewasa di bioskop.

Contohnya adalah, saat saya menonton sebuah fim laga beberapa tahun lalu. Saat film baru mulai, sepasang suami istri plus bayi dan pengasuhnya datang terlambat dan duduk di samping saya. Karena saya duduk di pinggir, mereka harus melewati saya terlebih dulu sebelum sampai ke bangku mereka. Belum sampai 15 menit mereka duduk, bayinya menangis kencang tanpa henti. Ibu dan si pengasuh memutuskan keluar untuk menenangkan si bayi. Tak lama setelah si bayi tenang, mereka masuk lagi. Tapi tak lama, si bayi menangis lagi. Adegan yang sama pun terulang kembali berkali-kali. Terbayang, kan, betapa terganggunya saya, yang harus mereka lewati berkali-kali untuk keluar masuk menenangkan si bayi?

Sampai-sampai, waktu itu saya bersumpah dalam hati untuk tidak akan pernah mengajak anak saya menonton film dewasa di bioskop. Saya suka anak-anak, tapi dalam kondisi tadi, saya sebal sekali dengan orang tuanya yang egoisnya keterlaluan. Saya berjanji, kalau saya punya anak nanti, saya akan rela absen dari bioskop demi menjaga anak. Kalaupun menonton di bioskop dan mengajak anak saya, itu hanya akan terbatas pada film yang memang berkategori “SEMUA UMUR”.

Setelah jadi orangtua betulan, Alhamdulillah saya tidak lupa pada janji saya dulu itu. Apalagi saya memiliki prinsip, “Once you become a parent, you have to be responsible for your kids, even if you’re no longer able to do some things that you like”. Salah satunya, nonton bioskop.

Karena itu, menurut saya, kalau memang “ngebet” banget untuk nonton film terbaru tapi sulit mencari waktu luang, tinggalkan saja anak di rumah. Percayakan dia bersama pengasuh/suami, atau titipkan pada orang terdekat. Kalau nggak tega, parno, atau nggak ada yang dititipi? Ya nggak usah nonton lah. It’s just that simple. Parenting means you have to know your priority, right?

Hingga Nadira berusia 3 tahun saja, frekuensi saya nonton film di bioskop bisa dihitung dengan jari. Biasanya saya pergi nonton di jam istirahat kantor, atau saat ada waktu luang pada hari kerja, karena kebetulan kantor saya dulu dekat dengan bioskop. Saat akhir minggu, saya lebih memilih menghabiskan waktu bersama anak. Untuk catch up dengan film-film di bioskop, saya rela menonton via DVD atau unduh dari internet :)

Selain hal di atas, menurut saya, mengajak anak menonton film dewasa di bioskop itu benar-benar bukanlah pilihan yang bijaksana. Buat apa melarang anak nonton sinetron, berita, dan acara TV yang lebay jika Anda justru mengajak anak nonton film berisi adegan mesra atau kekerasan di bioskop? Lembaga Sensor Film memberikan label “DEWASA” pada film-film yang beredar bukan tanpa alasan, lho. Mereka juga memikirkan faktor psikologis dan budaya sebagai salah satu parameternya. Kita sebagai orangtua juga harus memiliki filter personal untuk itu. Kok nggak konsisten, ya, melarang anak umur 4 tahun nonton Buser karena penuh kekerasan tapi mengajaknya nonton The Raid, film yang isinya memang mendramatisir adegan kekerasan, misalnya?

Anyway, I’m not here to judge anyone. Saya selalu berpendapat, your child, your responsibility. Jika Anda merasa tidak masalah bila anak di bawah umur menyaksikan Edward dan Bella beradegan ranjang, misalnya, that’s fine with me. Tapi bioskop itu ranah publik lho. Setidaknya pikirkan penonton lain yang pastinya terganggu jika si kecil menangis di tengah adegan film yang seru.

Apalagi untuk menonton film di bioskop, para pengunjungnya harus membayar. Tujuan mereka memilih nonton di bioskop adalah untuk mendapatkan sensasi dan konsentrasi yang kadang sulit ditemukan saat nonton DVD di rumah. Nah, begitu Anda membawa anak yang menangis, bertanya dan ngobrol sepanjang film diputar, Anda mengganggu hak penonton lain untuk mendapatkan kesenangan.

Intinya sih, kalau nggak mau diganggu, ya jangan mengganggu lah. Ya, nggak?

 

Foto diambil dari sini.


46 Comments - Write a Comment

  1. Ira, kalo kasusnya dibalik, filmnya bener film anak2. jamnya juga biasanya film anak2 ga akan sampe malem bener rasanya ya. nah tapiiii namanya anak, bioskop gelap, adaaa aja yg nangis, ato bosen terus jalan sliweran, ato mulai babling…kira2 penonton lain masi bisa maklum ngga yaa?

Post Comment