Nilaiku Tak Pernah A

Enam bulan belakangan adalah periode paling luar biasa bagi saya. Enam bulan belajar sabar, belajar menghadapi the damn comment, belajar berkompromi, belajar sabar (padahal sabar itu jatahnya suami), dan berjuang. Menjadi ibu dari seorang bayi mungil itu tidak hanya sangat membahagiakan tapi juga membuat stres. Ya, stres. Saya pikir punya anak itu cuma satu kata bahagia, titik. Tapi ternyata di balik itu juga ada air mata (sok sinetron biar dibilang kayak Asmirandah).

Dimulai dari hari pertama Kanzie hadir ASI saya belum juga keluar. Tiap kali dia menyusu hanya bertahan kira-kira 1 jam. Setelah itu nangis keras. Setiap kali dia nangis, saya pun ikut nangis. Rasa bersalahlah yang berperan besar, merasa bersalah karena ASI nggak keluar. Mencoba bertahan sampai 2 hari karena baca di beberapa referensi, sampai 2 hari bayi tetep bisa bertahan tanpa cairan. Itu teorinya. Praktiknya? Saya dan suami panik. Saya pun mikir haruskah lagi-lagi dengan egoisnya bayi saya kelaparan? Kebetulan RSIA yang kami pilih ini sangat pro ASI. Suster-susternya malah bilang nggak papa, nunggu aja, mungkin besok ASI-nya udah keluar. Tapi, ternyata keadaan berkata lain. Kanzie agak kuning, meski nilai bilirubinnya pas 10 jadi nggak perlu disinar. Kata DSA, salah satu penyebab ya kurang minum karena golongan darahku dan dia ternyata sama (salah satu penyebab bayi kuning adalah ketidak samaan golongan darah bayi dan ibu).

Ya, kurang minum. Padahal dia nyusu aku berjam-jam. Akhirnya nggak sampai 48 jam, tepatnya 36 jam aku dan suami memutuskan Kanzie harus minum sufor, sementara ASI belum keluar. Ketika harus menandatangani formulir persetujuan pemberian sufor, jangan ditanya gimana perasaan saya. Padahal cuma formulir kayak gitu, tapi bisa mengobrak-ngabrik perasaan. Merasa jadi Ibu yang bodoh, nggak baik, nggak sempurna, nggak bisa ngasih yang terbaik buat anaknya. Waktu dikasih tahu suster, kalo Kanzie begitu disendokin sufor langsung habis 60 ml, antara lega dia akhirnya minum dan sedih.

Sampai di rumah ASI tetep sedikit. Dipompa paling cuma 5 ml. Segala macam cara saya lakukan. Ibu saya jadi konselor laktasi sejati. Setiap pagi ibu datang ke rumah, dengan membawa air rebusan kacang ijo, sayur daun katuk, membelikan susu kedelai yang mihil dan rasanya kayak tepung itu, sari kurma, jamu gejah, kripik jagung juga kacang-kacangan. Ditambah dua suplemen pelancar dari dokter. Semua aku telan. Hasilnya? Sama saja. Di situ saya harus meruntuhkan keegoisan saya. Masa, ya, hanya karena saya ingin dia ASI ekslusif saya harus mengorbankan Kenzie. Dengan nggak ikhlas, saya kasih dia sufor. Antara senang dan sedih ketika melihat Kanzie minum begitu lahap. Akhirnya Kanzie separuh ASI, separuh sufor. Ritualnya, Kanzie bangun-nenen PD kiri dan kanan 1-2 jam – nangis keras karena masih haus tapi dsodorin PD nggak mau – Bapaknya buatin susu-nyendokin di tengah malam – Kanzie kenyang,tidur – suami nyiapin pompa – aku nyoba mompa yang hasilnya cuma bisa basahin bibir Kanzie. Selalu tiap hari sampai berminggu-minggu begitu. Dan selama berminggu-minggu itu pula aku stress, merasa bersalah dsb. Ditambah lagi kalau ada pertanyaan kok nggak ASI? Padahal ASI itu baik dll. Aargh … aku tahu! Justru karena aku tau itu, jadi makin stres.

Beragam artikel, aku baca nggak ada artikel yang memuat gimana cara mengatasi rasa bersalah ini. Artikelnya paling cuma gimana biar ASI lancar. Itu saja. Curhat ke suami pun tetep belum lega. Meski dari awal suami juga selalu bilang bahwa Insya Allah makin lama ASI-nya lancar, ngasih semangat dan membesarkan hatiku di waktu aku nangis karena merasa jadi Ibu yang gagal. Tapi tetep, rasa bersalah ini nggak pergi-pergi. Sampai akhirnya berhasil ketemu dengan konselor laktasi di RSIAku. Satu jam mengajukan rentetan pertanyaan didampingi suami dan dengan nenenin Kanzie. Ada satu pernyataan beliau yang melegakanku, ketika aku nanya “Mungkin nggak, Sus makin lama frekuensi sufor makin berkurang dan ASI saya makin lancar?” Beliau bilang, “Nggak apa-apa, separuh sufor. Yang penting mama jangan putus asa. Terus susui karena mulut bayi adalah pelancar utama ASI. Nanti lama kelamaan pasti bisa kok, berkurang frekuensi sufor.”  Terima kasih, Suster Erna, yang sampai saat ini pun masih sering  saya tanya-tanya. Anda adalah konselor laktasi yang nggak pernah sekalipun menghakimi orang seperti saya.

Setelah ketemu dengan suster Erna, masih belum sepenuhnya lega. Akhirnya, pada suatu titik, aku cerita ke seorang sahabat. Dia bilang kondisi setiap ibu dan anak itu berbeda. Tak perlulah ambil pusing omongan orang lain. Mungkin ini saatnya aku harus berkompromi dengan keadaan. Nggak fokus pada kegagalan, tapi berusaha bahagia dengan bayiku. Nggak hanya terpaku pada rasa bersalah tapi berusaha menerimanya. Sempat nanya ke sepupu plus sedikit curhat dan kalimatnya membuat saya sadar: “Apa yang kita beri ke anak asal niat kita baik, ikhlas Insya Allah hasilnya baik. Setelah itu, mencoba mencerahkan pikiran dengan ngobrol dengan suami. Akhirnya saya sadar bahwa pertama saya harus menerima keadaan. Menerima kalau ASI saya sedikit. Setelah itu harus ikhlas. Ikhlas memberikan sufor. Bukan karena harganya tapi nggak ikhlasnya karena tahu bahwa kandungan sufor jauh di bawah ASI. Tapi, toh yang dibeli juga bukan racun. Beli juga pake uang halal jerih payah kami berdua. Niat saya juga baik, biar anakku nggak kelaparan.

Dan nggak tau gimana, setelah saya ikhlas, legowo dan belajar untuk berkompromi dengan keadaan yang diluar kehendak kami ini, sepertinya itu jadi titik balik. Sejak itu perlahan-lahan ASIku mulai lancar. Yang biasanya frekuensi 50-50 dengan sufor, perlahan berkurang 80-20. Di minggu terakhir masa cuti (Kanzie usia 2 bulan) sama sekali nggak pake sufor. Meski Kanzie bisa dibilang pagi-malam nenen terus. Akhirnya juga bisa nabung ASIP di freezer sampai 25 botol. Hal yang saya kira nggak mungkin saya lakukan mengingat hasil pompa waktu itu cuma 10 ml. Waktu pertama kerja, Kanzie masih 1 botol sufor. Mulai usia 3 bulan malah sudah full ASI. Benar-benar di luar dugaan.

Saat ini, saya ibu yang lebih berbahagia. Lebih legowo ketika ada hal yang tidak sesuai dengan keinginanku. Terlepas dari Kanzie ASI/nggak, karena aku yakin aku sudah berusaha memberi yang terbaik untuk dia. Sampai sekarang, setiap berangkat kantor aku membawa printilan berupa cooler bag, pompa dan botol-botol, memerah tiap 2 jam di waktu kerja.

Saya akhirnya tahu bahwa menjadi ibu intinya adalah belajar, berjuang dan berkompromi. Belajar tentang segala sesuatu mengenai anak. Nggak hanya bermodal “kata orang”, tapi mencari tahu sendiri. Berjuang untuk memberi yang terbaik buat anak, terbaik menurut kita orangtuanya. Berkompromi ketika semua hal tidak berjalan seperti yang kita harapkan.

*gambar dari sini


12 Comments - Write a Comment

  1. huaaa~~ share’nya bagus banget!! And yes! I feel U!!
    Untungnya sebelum terpuruk lebih jauh, aku tersadarkan bahwa sekalipun nda bisa kasih ASIX, bukan berarti duniaku dan Danny-boy jadi kiamat! And I’m glad that I have a great husband like Danny-boy’s daddy ♥

    Dan setuju banget sama kata2 ini:
    “Saya akhirnya tahu bahwa menjadi ibu intinya adalah belajar, berjuang dan berkompromi.”

    TFS

Post Comment