Hanya Organ Tubuh Biasa, Kok…

Sejak awal punya anak, kami sudah sepakat akan beberapa hal yang menyangkut pola asuh (harus dong, ya) … salah satunya adalah tidak menggunakan istilah tertentu saat membahasakan organ tubuh, dalam hal ini alat vital. Yup, jadi sejak awal ia tahu soal alat vital (juga perbedaan antara ayah dan ibu), Igo sudah menyebutnya sebagai “penis”. Alasan kami menggunakan istilah asli dalam memperkenalkan yang satu itu sederhana saja … kan tidak ada bedanya dengan menjelaskan hidung, mata, atau tangan sebagai organ tubuh. Mungkin terasa beda karena kita tidak terbiasa membahasakannya dengan istilah sebenarnya, padahal mah sama, kan?

Awalnya yang terkaget-kaget adalah nenek saya alias nenek buyut Igo, hihihi. “Kok Igo dibiarkan ngomong jorok?” ujarnya pada saya. Saya jelaskan pelan-pelan … penis itu kan tidak jorok (kecuali jarang dibasuh setelah buang air kecil … eeww), itu bahasa yang baik dan benar untuk alat vital laki-laki. Nenek saya hanya menatap cucunya ini dengan tatapan penuh makna. LoL. Ya, memang butuh pembiasaanlah. *nyengir* Beliau lebih kaget lagi ketika Igo dengan fasihnya menjelaskan kalau untuk laki-laki itu namanya “dada” dan untuk perempuan namanya “payudara”. Sebelum diprotes, saya langsung nyamber bilang kalau yang dikatakan Igo kan memang benar, lagi-lagi sebenarnya kitalah yang butuh pembiasaan.

Menurut kami pembiasaan menggunakan istilah ini adalah langkah pertama pendidikan seks anak. Penjelasan mengenai hal yang berbau seksual memang harus diperkenalkan sesuai porsi usia anak. Dengan tahu istilah “asli” dan diperkenalkan dengan wajar, anak akan belajar menghargai area pribadi tersebut. Awalnya, kami memberi tahu istilah organ tubuh seperti rambut, kepala, hidung sampai akhirnya, penis. Kami belum menjelaskan fungsinya secara detail, sesuai usia Igo sekarang saja: penis itu alat untuk anak laki-laki buang air kecil. Lalu ketika Igo mulai ngeh perbedaan ayah dan ibu, kami pun menjelaskan lagi soal vagina, miliknya anak perempuan.

Sekarang Igo sedang kami biasakan mengenal yang namanya “area pribadi” misalnya jangan terlalu bebas menyebut organ vital di tempat umum, tidak boleh sembarangan buka baju atau memerlihatkan alat vitalnya kepada orang lain. Nanti kalau konsep area pribadi sudah dipahami betul oleh Igo, kami akan menjelaskan soal sentuhan yang tidak senonoh. Ini penting juga diajarkan pada anak karena ya … anak-anak rentan dilecehkan orang dewasa. Ih, pikirannya kok kayaknya jauh banget … tapi benar, lho, Mommies. Anak harus tahu perbedaan membasuh alat vital setelah buang air dengan perbuatan yang didasari oleh maksud tidak baik. Anak harus bisa membentengi diri sendiri.

Mudah-mudahan dengan langkah pendidikan seks sedini mungkin yang kami terapkan pada Igo, ia akan tahu bahwa membicarakan organ seksual bukanlah sesuatu yang tabu dan jika waktunya tiba (jangan dalam waktu dekat, Ya Allah :P), hubungan kami sebegitu dekatnya hingga ia bebas bertanya untuk mendapatkan informasi mengenai seks (tingkat lanjut) langsung dari kami, orangtuanya. Nah, kalau Mommies di sini gimana … share dong kiat lainnya. Siapa tahu ada Mommies yang lagi bingung bagaimana mengawali sesi pendidikan seks untuk anaknya :)

 

 


33 Comments - Write a Comment

Post Comment