Membesarkan Dua Gadis Cilik

Setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Ini saya pahami sekali saat membesarkan kedua anak perempuan saya yang beda usianya hanya terpaut 20 bulan. Raya (4 tahun 7 bulan) adalah anak yang penuh ekspresi dan drama juga sangat girly, sedangkan adiknya Rana (2 thn 11bln) lebih cuek, santai, dan cenderung suka melucu. Raya hampir selalu terlambat kalau mau pergi, mau pake bandolah, pitalah, sepatu harus matching-lah, banyak sekali. Sementara Rana hanya bilang, “Kakak repot, deh”.


Salah satu cara untuk mengantisipasi sibling rivalry antara mereka berdua yang efektif bagi saya dan suami adalah dengan menyatukan keduanya dalam kamar tidur yang sama. Kebetulan juga hanya tersisa satu kamar untuk anak. Agar mereka tetap punya ruang pribadi, saya memilih tempat tidur yang bisa ditarik bawahnya (apa itu istilahnya?).

Dengan memiliki kamar bersama, mereka harus lebih kooperatif mulai dari pemilihan warna hingga penataan kamar. Mereka diberi kebebasan untuk memilih warna cat kamarnya sendiri, ikut ke tempat membelinya sampai ikutan mengecat supaya ada rasa memiliki. Maksudnya, sih, supaya mereka menghargai dan menjaga apa sudah dipilih sendiri juga merasa betah di kamarnya. Masalah pertama datang karena si kakak pilih warna pink dan adik pilih kuning. Supaya adil … dinding kamar dicat berbeda tiap bagiannya: pink, kuning, dan masih ada sisa warna krem karena sudah ditempel hiasan stiker princess castle sebelumnya. Untuk hiasan ini mereka berdua sepakat.


Kalau masalah pakaian, saya sering lihat kakak beradik mengenakan pakaian kembar itu lucu sekali. Tapi sebagai ibu irit, hehehe, saya membelikan mereka barang yang berbeda. Kan baju dan sepatu kakak bisa turun ke adiknya. Tapiiiii makin besar si adik maunya kembar sama kakak jadi kalau beli sesuatu harus dua. Masalah lain akan timbul kalau beli mainan yang besar dan cukup mahal, nggak mungkin juga beli 2 set yang sama, kan? Bagian ini masih harus berulang kali diingatkan untuk bergantian dan berbagi.

Berantem? Oh sudah pasti. Karena masih balita, paling masalahnya berebut mainan atau sesuatu. Tapi lucunya, si kakak kalau adiknya sedang dimarahi pasti akan membela, “Bunda, jangan marahi adek dong. Kasihan tuh dia mau nangis.” Nah, kalau sudah begitu saya harus menjelaskan alasan kenapa adik dimarahi, begitu juga sebaliknya. Biasanya kalau si kakak dimarahi, adik akan menyahut, “Kakak, sih … makanya jangan gitu” dengan muka tanpa ekspresi.

Sebagai ibu saya benar-benar mencoba untuk seadil mungkin memperlakukan keduanya dan memberikan alasan yang jelas untuk semua tindakan saya supaya mereka tahu saya sayang keduanya. Serta berusaha memberikan waktu one on one bergantian misalnya mengajak pergi satu anak biarpun hanya ke swalayan depan.

Sekarang saya sedang mengajarkan mereka untuk bisa meyelesaikan konflik di antara mereka. Saya cuma bilang, “Ayo, coba minta yang baik pasti nanti dikasih” jika salah satu mengadu ke saya. Saat ini saya sedang hamil anak ketiga … hasil USG sih, laki-laki. Sampai saat ini, belum kebayang nih, gimana kelanjutan “keseruan” keluarga kami .…


15 Comments - Write a Comment

  1. @rlyta iya nih lemarinya sendiri2 soalnya kalo cewe printilannya banyak biar ga berantakan dan ketuker jadi masing2. Sampe sekarang aku malah belum kebayang nih gimana ntr kalo udah ada anak cowo.doakan yaa :)
    @ajengp Seru ya cewe2, semoga sampe gede anak2 kita akan seperti @nenglita dan @irrasistible sahabatan terus ;)

Post Comment